
Kebahagiaan meski hanya sesaat, karena setelah ini semuanya kembali seperti semula, untuk pertama kalinya Nesya merasa bebas semenjak menikah dengan Fariz. Namun saat ini dia masih belum memiliki rencana untuk melarikan diri dari cengkeraman Fariz. Gadis itu tidak mau gegabah, dia ingin menyusun rencana dengan matang.
“Bagaimana kalau kita kerjakan tugasnya sepulang sekolah?”
“Langsung??”
“Menurutmu?”
Nesya tampak berpikir, beberapa saat kemudian dia mengangguk. “Kita buat di mana?”
“Hmm kita buat di kafe yang lagi populer itu gimana?” Fabian memberi ide, meski sebenarnya dia ingin mengajak Nesya ke rumahnya.
“Terserah..” Nesya hanya menanggapi sekenanya seraya merapikan bukunya karena bel pertanda pulang sudah berbunyi.
Di depan gerbang sekolah, tampak dua anak manusia sedang berdebat karena hal sepele. Pasalnya, Fabian terus memaksa agar Nesya mau berboncengan dengannya.
“Memangnya kamu tahu dimana letak kafenya?” Fabian tak mau kalah, dia berhasil membuat Nesya diam.
“Oke!” Nesya yang sudah kalah telak pun menurut, bibirnya menggerutu lantaran merasa kesusahan menaiki kuda besi milik Fabian.
__ADS_1
Sementara Fabian menahan tawa melihat Nesya yang terlihat lucu, apalagi dengan postur tubuh yang pendek membuat Nesya semakin kesal dengan motor kesayangan Fabian itu.
“Apa sih bagusnya motor kayak gini? Lebih bagus motor bebek punya kak Abi meski sekarang udah nggak tahu kemana,” Nesya menghentakkan kakinya, kesal. Berulang kali mencoba naik namun tetap saja gagal, malah kini roknya yang sobek.
Tawa Fabian pecah, lelaki tampan itu turun dari motornya, Nesya terkesiap saat Fabian mengangkat tubuhnya.
“Udah kan?” Fabian melihat Nesya yang masih melongo, ia kembali menaiki motornya kemudian menarik kedua tangan Nesya sehingga kini tangan itu memeluk pinggang Fabian.
‘Alamak, apaan tuh empuk banget??’ Fabian merasakan sesuatu yang elastis menubruk punggungnya, bukannya dia tidak tahu, namun dia tidak ingin berpikiran kotor sehingga memancing sesuatu yang bisa tegak dengan sendirinya.
“Buruan jalan! Malah bengong,” Nesya memukul punggung Fabian membuat pemuda itu terperangah.
“Ehh woi! Kalau mau mati jangan ngajak-ngajak!” Nesya histeris, apalagi mereka kini dikejar anjing milik salah satu warga.
“Kamu jangan panik! Pegangan yang kuat!” menambah laju kendaraannya, Fabian benar-benar terlihat seperti pembalap profesional.
Hingga beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat yang dituju, sebuah kafe dengan desain kekinian. Tempatnya yang lumayan jauh membuat perjalanan tadi memakan waktu yang cukup lama. Fabian turun kemudian melihat Nesya yang sudah pucat, tangannya gemetar, bahkan deru nafasnya tidak beraturan.
“Nesya..” panggil Fabian namun tak ada pergerakan dari gadis itu, sepertinya Nesya terlalu syok dengan apa yang terjadi barusan.
__ADS_1
“Astaga!” pekik Fabian, saat Nesya malah pingsan membuat pengunjung kafe yang sedang ramai, berbondong-bondong mengerubungi anak muda itu.
Tak terasa bahwa hari telah menjelang petang, Nesya membuka matanya. Matanya menyapu seluruh ruangan yang tampak asing. Hingga manik hitam itu menangkap seorang wanita tengah duduk seraya memangku putrinya.
“Kamu sudah bangun?” wanita itu menghampiri Nesya.
Nesya mengangguk lemah, matanya tertuju pada bayi menggemaskan yang sedang tertidur.
“Aku Nindi, pemilik kafe ini. Tunggu sebentar ya, aku panggil teman kamu,” wanita itu tersenyum kemudian mencari sosok Fabian yang ternyata tengah sibuk berkutat dengan bukunya.
“Ada apa, Kak?” Fabian yang memang mengenal pemilik kafe itu kaget saat tiba-tiba Nindi menepuk pundaknya.
“Pacarmu udah sadar, kamu tadi ngapain sampai dia pingsan?” Nindi menggoda lelaki yang masih berseragam putih abu itu.
“Nggak ngapa-ngapain! Aku masuk dulu ya, Kak.” Fabian merapikan buku-buku beserta alat tulisnya kemudian masuk ke ruangan dimana Nesya berada saat ini.
Like
__ADS_1
Komen