
Setelah mendapat kabar dari Jun, Lewi langsung melesat dari kantor ke rumah sakit.
Pria itu langsung memeluk istrinya yang terlihat berdiri di depan pintu ruang operasi.
"Suami,, bagaimana ini?" Patricia yang sudah tidak menangis akhirnya kembali lagi menangis setelah berada di dalam pelukan suaminya.
"Tidak apa,, tidak apa..." Ucap Lewi mennenangkan istrinya meski debenarnya dia merasa kesal Elsa yang membuat Patricia keluar rumah padahal kondisinya masih tidak stabil.
"Aku tidak berguna sebagai kakak. Harusnya aku lebih memperhatikan adikku." Ucap Patricia.
"Jangan berkata seperti itu. Sekarang ayo kita pergi istirahat sembari menunggu adikmu selesai di tangani." Ucap Lewi segera menggendong Patricia keruangan yang telah disiapkan oleh Jun.
Setelah tiba di ruangan yang telah di sewa,Lewi membaringkan Patricia di atas ranjang dan menemani perempuan itu.
"Peluk aku," tiba-tiba kata Patricia saat melihat suaminya hanya duduk sembari memegang tangannya.
"Baiklah." Jawab Lewi ikut berbaring dan memeluk istrinya dengan erat.
"Apa kau sudah berbicara dengan dokter?" Tanya Lewi.
"Belum, tapi polisi mengatakan kalau Adik tiba-tiba saja keguguran. Sepertinya dia tertekan hingga mempengaruhi kandungannya." Ucap Patricia langsung membuat Lewi menjadi shock.
Kalau Elsa tertekan di dalam penjara hingga keguguran, maka jangan-jangan istrinya juga bisa mengalami hal yang sama karena terlalu memikirkan Elsa.
__ADS_1
"Istri, apa yang bisa kau lakukan supaya perasaan menjadi tenang?" Tanya Lewi dengan panik.
"Peluk aku dengan erat, itu sudah cukup." Kata Patricia.
"Baiklah,," jawab Lewi memeluk istrinya dengan erat sembari tangannya mengelus punggung perempuan itu.
'Semudah ini? Mengapa aku tidak puas?' Gelisah Lewi.
"Jangan memikirkan masalah adikmu. Jun akan menangani semuanya dan kalau nanti adikmu sudah bisa dijenguk kita bisa pergi melihatnya." Kata Lewi menahan kekesalannya pada Elsa, meski saat ini dia membenci perempuan itu tapi dia tidak bisa mengabaikan istrinya.
"Aku tahu." Jawab Patricia.
"Sekarang tidur." Ucap Lewi menepuk-nepuk punggung Patricia seperti seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya.
Sementara pria itu, dia segera mengambil ruangan lain untuk berbicara dengan Jun.
"Tuan, ini berkas yang anda minta untuk diselidiki." Kata Jun menyerahkan berkas di tangannya.
"Bagaimana bisa begini?" Tanya Lewi saat melihat tidak ada satupun celah untuk menjatuhkan Afra, pria itu bekerja dengan sangat hati-hati.
"Saya sudah menyelidikinya, dan tidak ada ada satupun celah selain hubungannya dengan Rolland. Tapi karena masalah ini sudah di selesaikan maka tidak ada lagi cara lain." Ucap Jun.
"Baiklah kau boleh keluar." Kata Lewi.
__ADS_1
Lewi tinggal sendirian berpikir sebelum keluar menemui Jun.
"Tempatkan beberapa orang untuk mengawasi Afra dan juga sekretarisnya. Bawahan yang kemarin memanggil dokter Sandra untuk memeriksa istriku, selidiki dia." Ucap Lewi.
"Saya sudah menyelidiki bawahan itu dan dia ditempatkan oleh Tuan Rolland, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tuan Afra." Jawab Jun.
"Begitu," Lewi menghela nafas. Kalau dia tidak bisa menemukan satupun kelemahan Afra maka pria itu bisa terus melakukan apapun pada istrinya.
"Kalau begitu, Apa kau sudah menemukan bukti bahwa dialah yang telah menyebarkan rumor mengenai istriku?" Tanya Lewi.
"Semua bukti telah dihilangkan, bahkan ketika kami menelusuri alamat email yang digunakan untuk mengirim berkas itu ternyata alamat email itu palsu. Sama sekali tidak ada jejak." Ucap Jun.
"Pikirkan cara menekannya." Kata Lewi setelah dia lelah berpikir.
Jun "..."
Lewi saja tidak bisa menemukan caranya apalagi dia yang memiliki jangkauan otak di bawah Lewi?
'Harusnya aku juga dilahirkan menjadi seorang CEO supaya bebas memerintah seenaknya!' Tangis Jun dalam hati.
@Interaksi
__ADS_1
Supahin juga dong redernya supaya jatuh cinta sama otor, kalo yang masih gadis juga oke...👍👍