
Patricia segera tiba di kantor, ia memasuki kantor Lewi dan mendapati pria itu sedang duduk di kursi rodanya sembari memainkan ponselnya.
"Suami," Patricia menelan air liurnya.
Wajah pria itu seperti orang yang siap untuk membantai pemberontak!
"Apa ini?" Tanya Lewi memperlihatkan pesan Patricia.
Patricia: 'Aku berangkat ke kantor bersama Rolland.'
"Suami jangan marah." Patricia bejalan mendekati Lewi.
Lewi menyipitkan matanya "Aku tidak boleh marah ketika istriku menolak mobil yang kusipakan untuknya dan malah memilih berangkat ke kantor bersama pria selingkuhannya?" Lewi terdengar sangat marah.
Patricia "..."
Selingkuhan?!
Siapa yang berselingkuh?! Ini hanya salah paham yang belum dijelaskan dan pria itu sudah mengambil keputusan sepihak?!
Tidak berguna!
"Ya sudah, kau marah saja! Apa pentingnya buatku! Pekerjaanku masih jauh lebih banyak." Ucap Patricia segera bejalan ke kursinya dan duduk menyalahkan laptopnya.
Dia belum selesai mempelajari kerja sama dengan grup Siloam, jadi dia tidak punya waktu untuk berdebat dengan si pencemburu akut!
"Sekarang kau bukan hanya berselingkuh tapi juga mengabaikan suamimu yang berbicara?" Lewi memajukan kursi rodanya mendekati Patricia.
Patricia terus mengabaikannya, bahkan saat pria itu sudah di sampingnya dan dia merasakan hawa tidak menyenangkan terpancar dari tubuh suaminya.
"Kau benar-benar mengabaikan ku?!" Lewi mengulurkan tangannya mencubit pipi Patricia.
Perempuan itu mungkin akan meminta di cium setelah ia mencubit pipi Patricia.
"Singkirkan tanganmu!" Patricia menepis tangan Lewi.
Pria itu sudah menuduhnya berselingkuh! Padahal dia sama sekali tidak berniat menyelingkuhi Lewi.
"Sekarang berani memukul suamimu?!" Lewi semakin kesal.
Patricia "..."
Kalau dia tidak menenangkan pria itu maka pekerjaannya juga tidak akan selesai karena Lewi pasti akan terus mengganggunya.
Patricia segera berbalik menatap Lewi "Aku belum menjelaskan apa pun dan kau sudah menuduhku berselingkuh! Apa itu pantas di sebuah sebagai suami? Kau bilang kau mau berbagi segalanya denganku, tapi bagaimana caramu berbagi segalanya denganku kalau kau bahkan tak mempercayai istrimu sendiri?!" Patricia memperhatikan wajah Lewi yang mulai berubah lalu dia melanjutkan "Tadi itu dia mengatakan sesuatu yang penting, jadi aku masuk ke mobilnya. Kau tahu,, dia menyelidiki ku dan sekarang sedang menyelidiki siapa pria yang menjadi ayah dari bayi yang ku kandung! Dia juga menawariku menghinatimu dan pergi bersamanya! Kau puas?!"
"Jadi apa jawabanmu? Kau mau pergi bersamanya?" Tanya Lewi.
Patricia "..."
Pria ini!!! Dia benar-benar buta dalam hubungan cinta!
Kalau dia mau pergi bersama pria itu, mana mungkin dia masih di sini dan berusaha menjelaskannya?
"Terserah padamu! Aku malas berdebat!" Ucap Patricia meraih dokumen di atas mejanya lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sebaiknya menemui tim yang menangani proyek grup Siloam dari pada tinggal berdebat dengan pria itu!
Sementara Lewi yang di tinggal di ruangan, pria itu menunjukkan kekesalannya sebelum memanggil Jun untuk memasuki ruangannya.
"Tuan," Jun berdiri dengan waspada.
Dari raut dan aura Lewi saja dia bisa menebak kalau pria itu sedang dalam mood yang buruk.
"Mengapa istriku tidak menjawab pertanyaanku?!" Tanya Lewi.
Jun "..."
Saya bukan Tuhan yang tahu segalanya..!
Jun menghela nafas "Tuan, memangnya apa yang Tuan tanyakan hingga Nyonya Muda tidak mau menjawab pertanyaan Tuan Muda?" Tanya Jun dengan hati-hati.
"Apakah dia mau berselingkuh?" Jawab Lewi.
Jun "..."
Astaga, ini benar-benar masalah sepeleh. Pantas saja Nyonya Muda keluar dari ruangan dengan wajah yang kesal, ternyata karena dia mendapat pertanyaan konyol!
"Tuan Muda, tentu saja Nyonya Muda tidak menjawab pertanyaan Tuan, ini semua karena Nyonya Muda merasa Tuan tidak mempercayainya. Nyonya Muda sekarang mengandung anak Tuan Muda, mungkinkah dia memilih lelaki lain ketimbang ayah dari bayi dalam kandungannya?" Jun berkata dengan lembut.
Mendengar itu, Lewi kembali ingat pada ucapan Patricia 'Bagaimana caramu berbagi segalanya denganku kalau kau bahkan tak mempercayai istrimu sendiri?!'
"Baiklah, kau boleh pergi." Ucap Lewi lalu pria itu kembali ke meja kerjanya.
Kepercayaan....
Kepercayaan....
Perempuan itu masih terlihat kesal dan kembali ke meja kerjanya menyalakan komputernya memeriksa sesuatu.
Setelah beberapa waktu Lewi memperhatikannya, Patricia berjalan ke arahnya.
"Waktunya makan siang," kata Patricia menyusun rantang di meja Lewi lalu menarik satu kursi di samping Lewi.
Patricia duduk di sana dan membagi makanan di rantang.
Lewi memperhatikannya, perempuan ini,, dia sudah menyakitinya dengan tidak mempercayainya, tapi mengapa masih,,,.
"Kepercayaan, bagaimana kau menafsirkannya?" Tiba-tiba tanya Lewi membuat Patricia menoleh pada pria itu.
"Apa katamu?" Tanyanya tak percaya.
"Bagaimana kau mengartikan kepercayaan?" Lagi tanya Lewi.
Patricia terdiam selama beberapa saat "Kepercayaan itu seperti makanan. Tanpa ragu memakan apa pun yang diberikan pada kita meski kita tidak tahu apakah makanan itu mengandung racun atau tidak. Kita selalu menyakini kalau makanan itu adalah makanan sehat yang baik untuk kita, tidak perlu mempertanyakan bahan makanannya dan bagaimana cara pengolahannya." Ucap Patricia mengambil satu sendok makan dan menyuapi suaminya.
Lewi menatap sesaat pada makanan itu lalu membuka mulutnya.
Kepercayaan...
"Jangan marah lagi, kalau aku berniat menyelingkuhiku, mana mungkin aku memberitahumu kalau aku sedang berselingkuh? Lagi pula aku adalah perempuan yang cerdas, mana mungkin melepaskan paha gemuk dan kekar lalu memilih paha hanya bermodalkan tulang dan kulit?" Ucap Patricia dengan senyum tipis di wajahnya.
__ADS_1
Senyum itu menular pada Lewi lalu pria itu menarik Patricia ke pangkuannya.
"Apa kau bilang kalau ada pria yang lebih kaya dariku kau akan memilih pria itu?" Tanya Lewi dengan tatapan terpakai pada Patricia.
"Tidak juga, dia harus tampan seperti suamiku, perkasa seperti suamiku, cerdas seperti suamiku, dan --"
Cup!
"Apakah kau mengatakan kalau suamimu adalah pria yang sempurna?" Tanya Lewi.
"Kalau tidak, mengapa aku mau menerimanya menjadi suamiku?"
"Hahaha,," Lewi tertawa senang dan kembali emnciumi istrinya.
Benar, kepercayaan dalam hubungan sama seperti makanan.
Tidak perduli kau tahu ada racun di sana tau tidak, kau akan tetap memakannya, karena itu adalah makanan dari istrimu, orang yang mencintaimu dan orang yang kau cintai.
...
Ruang kerja Rolland.
"Ini makan siang Tuan."
"Letakkan saja di situ. Oya, bagaimana dengan penyelidikanmu?" Tanya Rolland.
"Belum ada hasil. Saya sudah menyelidiki seluruh riwayat perjalan Nona Patricia di selang waktu kehamilannya, tapi saya tidak mendapatkan apa pun. Kecuali ketika malam perceraiannya." Ucap sang asisten dnegan ragu-ragu.
"Ada apa di sana?" Tanya Rolland.
"Malam itu rekaman CCTV hotel menemukan kalau adik perempuan Nona Patricia memberi obat padanya. Kemungkinan di malam itu terjadi..."
"Katakan saja," lagi ucap Rolland.
"Mereka mungkin melakukannya bertiga sebagai tanda perpisahan. Bagaimana pun itu seharusnya menjadi malam pertama bagi Nona Patricia dengan mantan suaminya..." Jawab Sang asisten.
"He, kau terlalu bodoh! Dia perempuan yang pintar, tidak mungkin bersikap seperti itu. Selidiki lagi dan jangan lewatkan apa pun." Ucap Rolland.
"Baik Tuan, tapi kalau saya boleh tahu, mengapa Tuan sangat ingin mengetahui ayah dari bayi itu?"
"Karena ayahnya harus dilenyapkan!" Ucap Rolland dengan sorot mata dingin.
Kalau ayah dari bayi itu masih hidup, maka kemungkinan besar Patricia hanya bertahan di sisi Lewi demi mengulur waktu untuk menemukan ayah bayi itu.
Bagaiman pun, Lewi bukanlah saingan cintanya, tapi ayah dari bayi yang dikandung oleh Patricia,, itu masalah besar!
Ketika anak itu lahir, Patricia pasti tidak akan tega kalau sang anak tidak memiliki seorang ayah...
"Tapi Tuan, kalau saya boleh menyarankan, sebaiknya informasi kehamilan Nona Patricia kita ungkapkan saja pada Tuan Lewi. Mungkin saja dengan begitu Tuan Lewi akan menceraikan Nona Patricia, dengan begitu, seluruh warisan akan dibatalkan dan Nona Patricia juga akan menjadi milik Tuan." Usul sang asisten.
@Interaksi
Maaf ya,, otor selalu ss komenan kalian, tapi kalo udh up bab kadang jadi lupa...🙏 Biasa sultan sibuk ni hehe....
__ADS_1