
"Ada apa ini?" Afra langsung bertanya dengan wajah yang tegang ketika melihat dari layar iPad nya 2 orang polisi memasuki ruang rapat.
"Silahkan Tuan," Jun tidak menghiraukan Afra dan hanya fokus pada sang polisi untuk mempersilahkan pria itu menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Kami kemari untuk membawa Tuan Rolland ke kantor polisi untuk diintrogasi atas sebuah laporan percobaan pembunuhan." Ucap sang polisi mengejutkan semua orang.
"Apa maksudnya? Pencobaan pembunuhan apa?" Rolland langsung berdiri sembari menatap polisi itu dengan tatapan marah bercampur rasa tidak percaya.
"Kami tidak bisa mengatakannya di sini. Silakan ikut kami ke kantor polisi" kata polisi itu lalu rekan yang bersamanya segera mendekati Rolland.
"Ada apa ini?!" Afra menunggu seseorang bertindak.
Tapi tidak ada yang bisa mencegah kedua polisi itu membawa Rolland karena terlihat apa yang terjadi sudah direncanakan oleh Lewi.
Sebaiknya tetap diam dan menunggu kepastian.
"Rapat ini ditunda." Langsung kata Jun setelah kedua polisi sudah pergi membawa Rolland lalu pria itu mendorong kursi roda Lewi meninggalkan ruang rapat.
Para direksi yang sedari tadi berdiri karena terkejut kembali duduk ke kursi mereka dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Beberapa yang lain juga meninggalkan ruang rapat dan menelpon seseorang untuk mencari informasi.
Sementara di kediaman keluarga Siloam, Elsa sedang duduk di ruang kerjanya dengan setumpuk berkas yang harus ditandatangani.
"Apakah tante yakin semua ini harus ditandatangani hari ini?" Elsa bertanya dengan tatapan tak percaya pada semua berkas-berkas yang ada di atas meja.
__ADS_1
Sangat menumpuk!
"Benar, ini semua sudah darurat karena kau sudah berada di luar negeri selama beberapa hari dan tidak ada yang menandatangani semua ini." Kata Elizabeth sembari menghela nafas.
"Tapi aku tidak bisa menyelesaikan semua ini dalam satu hari ini, aku harus memeriksanya satu persatu baru bisa menandatanganinya." Ucap Elsa dengan kesal.
"Tante sudah mwmeriksa semuanya, semuanya baik-baik saja. Kau bisa langsung menandatanganinya." Ucap Elizabeth dengan wajah yang begitu tenang.
'Ck..! Orang ini, apakah dia pikir aku sebodoh kakakku yang bisa mempercayai orang lain?' Elsa berdecak kesal dalam hatinya.
Dia tidak mungkin tertipu dengan tipuan sama yang ia lakukan pada kakaknya saat merampas seluruh warisan kakaknya.
"Baiklah aku akan menandatanganinya. Tante boleh keluar." Kata Elsa.
'Saat ini dia pasti berpikir bahwa aku berusaha menipunya, tapi sebenarnya aku sedang berusaha mendapatkan kepercayaan mu sampai nanti kau benar-benar akan mempercayaiku barulah aku akan beraksi.' gumam Elisabeth tersenyum lalu perempuan itu segera berjalan ke arah dua putrinya yang sedang duduk menonton TV.
"Ibu, aku mau jus." Ucapan Lenita pada ibunya yang baru saja duduk.
"Bibi, bawakan kami jus." Kata Elizabeth dengan suara setengah berteriak supaya pelayan bisa mendengar suaranya.
"Baik Nyonya." Jawab pelayanan dari belakang.
Setelah beberapa saat akhirnya pelayan tiba membawakan 3 gelas jus lalu meletakkannya di atas meja, baru saja pelayan itu akan kembali ke belakang Saat bel rumah berbunyi.
"Pergi buka pintunya." Perintah Elizabeth pada pelayannya lalu pelayan itu segera berlari ke arah pintu depan.
__ADS_1
Begitu membuka pintu, dilihatnya dua orang polisi berdiri di sana.
"Maaf," pelayan itu bertanya dengan bingung.
"Kami dari kepolisian, datang kemari untuk mencari nona Elsa." Ucap salah seorang polisi.
"Tunggu sebentar Pak." Kata pelayan itu lalu kembali berlari ke dalam rumah dengan wajah yang panik.
"Ada apa?" Tanya Elisabeth ketika melihat kepanikan di wajah pelayan.
"Diluar ada polisi yang mencari Nona Elsa." Ucap Pelayan itu.
"Polisi?!" Elisabeth segera berdiri "Pergi panggil Elsa." Perintah Elizabeth pada pelayan itu lalu Elizabeth segera berjalan ke depan untuk menemui sang polisi.
"Selamat siang pak, saya adalah tantenya Elsa, ngomong-ngomong Ada urusan apa mencari keponakan saya?" Tanya Elisabeth.
"Keponakan Anda terlibat dalam sebuah rencana pencobaan pembunuhan. Kami hendak membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." Ucap Polisi itu mengagetkan Elisabeth dan dua putrinya.
"Kak Elsa merencanakan pembunuhan?" Lenita berbicara sembari menutup mulutnya.
@Interaksi
Segera telpon ambulans atau siapkan surat wasiat. ðŸ¤
__ADS_1