
Elsa memeriksa satu persatu berkas yang ada di tangannya lalu menandatangani berkas yang bisa dan layak untuk digunakan.
Menghabiskan waktu hingga berkas itu tersisa setengah, Elsa kemudian mengambil sebuah berkas dengan sampul berwarna biru lalu mulai membacanya.
Perempuan itu melototkan matanya dan tangannya gemetar melihat isi berkas yang hendak ia tandatangani.
"Dasar Tante kurang ajar! Tidak puas Dia melihatku berada di dalam penjara dan kini ingin mengerut seluruh hartaku! Awas saja kau..!" Elsa menggertakan giginya lalu meletakkan berkas-berkas itu dan tidak berniat lagi menandatanganinya.
Perempuan itu duduk bersandar di dinding sembari memeluk kedua lututnya.
"Sekarang aku tidak dianggap oleh siapapun lagi. Bahkan ayah dari bayi dalam kandungan ku pun sudah mengabaikanku. Mengapa? Mengapa semuanya jadi begini?" Elsa mulai menangis meratapi nasibnya yang terlalu menyedihkan.
Perempuan itu terus tersedu-sedu sampai seorang polisi datang menemuinya.
"Nona Elsa, silahkan ikuti saya." Kata polisi itu menarik perhatian Elsa.
Elsa segera menghapus air matanya dan berdiri mengikuti polisi yang datang menjemputnya.
"Apakah saya akan di introgasi lagi?" Tanya Elsa saat dia berjalan di belakang polisi.
__ADS_1
"Tidak, kasus mu sudah jelas, dan sudah jelas juga kalau kau akan menghabiskan hari-harimu di dalam penjara." Kata polisi itu tanpa rasa belas kasihan pada Elsa.
Elsa tidak mengatakan apapun, tetapi saat itu di dalam pikirannya dia teringat pada Patricia.
'Apakah saat ini Kakak sedang bersenang-senang karena aku gagal membunuh bayinya dan sekarang aku malah berada di dalam penjara? Apakah saat ini Kakak sedang berusaha untuk meluluhkan hati Cahya setelah mengetahui aku tidak berada lagi di sisinya?' tetes air mata membasahi pipi Elsa membuat pandangannya menjadi buram karena air mata yang menghalangi pandangannya.
Elsa terus menangis sampai mereka tiba di ruang tunggu di mana Patricia dan Lewi sudah menunggunya.
Perempuan itu terkejut melihat Patricia sedang bersandar di bahu Lewi dengan tangan mereka yang saling berpegangan.
'Apa ini? Mengapa Lewi tidak duduk di kursi roda dan mengapa hubungan mereka terlihat harmonis? Bukankah kata Rolland hubungan mereka sangat buruk?' Ucap Elsa dalam hatinya.
"Adik," Patricia langsung berdiri menyapa Elsa saat melihat perempuan itu datang dengan air mata membasahi wajahnya.
"Kau..!" Elsa langsung mundur beberapa langkah sembari menghapus air matanya.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Elsa dengan panik lalu mata perempuan itu melihat Lewi yang juga duduk di sofa.
"Adik, aku kemari untuk mengunjungimu. Aku--"
__ADS_1
"Aku tidak mau dikunjungi olehmu!" Potong Elsa dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Adik kumohon, kita adalah saudara kandung. Bagaimana bisa kita memiliki hubungan yang sangat buruk seperti ini? Ayah dan ibu di surga akan sangat sedih kalau mengetahui kita--"
"Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu? Aku tahu kamu kemari hanya untuk menertawakanku karena kau berhasil membuatku mendekam di dalam penjara, iya 'kan?!" Teriak Elsa pada Patricia.
"Tidak,, tidak seperti itu. Kakak kemari benar-benar tulus untuk memperbaiki hubungan denganmu." Ucap Patricia berusaha meyakinkan adiknya.
"Tidak ada yang perlu diperbaiki! Karena hubungan kita tidak akan bisa diperbaiki!" Ucap Elsa lalu perempuan itu segera berbalik meninggalkan Patricia.
"Tolong antar saya kembali ke sel." Kata Elsa pada seorang polisi sembari mengusap air matanya yang terus jatuh berderai.
Setelah tiba di selnya, Elsa langsung meringkuk di pojok dan menangis sejadi-jadinya.
'Apakah Kakak benar-benar tulus datang kemari menemuiku? Tapi mengapa Kakak masih begitu baik dan mau memperbaiki hubungan kami? Aku sudah merebut seluruh miliknya dan aku juga sudah berniat membunuh anak dalam kandungan nya. Tapi anak itu,,' saat ini Elsa merasa ragu tentang ayah dari bayi yang dikandung oleh Patricia.
Mungkinkah Roland telah menipunya?
@Interaksi
__ADS_1
Mending gak punya muka dari pada kayak penduduk sebelah yang gak punya otak,, benar gak sih?