
Pelayan 1 "Astaga, tanganku benar-benar tidak hati-hati."
"Kau..!" Patricia menggertakkan giginya dan melihat kearah bahan-bahan yang tadi disediakan, semuanya masih cukup untuk memulai yang baru lagi daripada harus tinggal bertengkar bersama pelayan itu.
Jadi dia dengan sabar memulai lagi dari awal dan menyelesaikan makanannya, dia lebih berhati-hati lagi dan menjauhkannya dari pelayan itu.
Makanan dan minuman telah diletakkan di nampan jadi Patricia tersenyum membawa nampan tersebut untuk meninggalkan dapur.
Tapi baru saja dia akan melangkah keluar saat seorang pelayan yang di dekatnya tiba-tiba berlari ke arahnya dan menggunakan kakinya menyandung Patricia.
Prank...!
Bruk...!
Nampan yang dibawa Patricia terjatuh di lantai dan pecah berkeping-keping bersama dengan piring dan gelas yang berada di nampan.
Tubuhnya yang ikut terjatuh menimpa pecahan kaca dengan segera tergores di sana-sini mengeluarkan darah segar.
"Ahh," Patricia meringis berusaha berdiri, tapi semakin dia bergerak semakin banyak luka yang ditimbulkan oleh pecahan kaca di lantai.
"Astaga Kaka Ipar!" Sebuah suara muncul dari balik ruang makan mengagetkan para pelayan yang sedang menertawakan Patricia.
"Jangan kemari," Patricia mengingatkan pria itu supaya tidak mendekatinya karena pecahan kaca di sekelilingnya mungkin akan melukai pria itu juga.
"Tidak, aku baik-baik saja, aku menggunakan sepatu." Kata Hendrik segera mendekati Patricia dan membantu perempuan itu berdiri, dia langsung membopong Patricia dan membawanya ke ruang tamu.
"Tuan, kami,, kami tidak sengaj,,"
"Diam! Pergi panggil Kakak pertamaku!" Kata Hendrik meneriaki pelayan yang sudah gemetaran di dekatnya.
"Baik Tuan," jawab pelayan itu segera berlari ke lantai atas.
Sementara Hendrik, pria itu langsung bergegas mencari kotak P3K dan meletakkannya di depan Patricia, ia membongkar kotak P3K dan melakukan pertolongan pertama pada luka luka di sekujur tubuh Patricia.
Sementara itu, lift sudah berdenting dan Lewi keluar dari lift lalu melihat adegan di mana istrinya sedang berduaan dengan pria lain.
Dalam sekejap Hendrik bisa merasakan tekanan yang ditimbulkan oleh Lewi.
Hendrik melihat Lewi dan mengerti bahwa pria posesif itu mungkin akan salah paham padanya.
Dia sudah mengenal Kakak pertamanya, dan pria itu tidak akan pernah mempercayai apapun yang dia katakan kecuali dia memiliki bukti.
"Apa yang terjadi?" Tanya Hendrik pada Patricia mengabaikan Lewi yang menatap mereka.
__ADS_1
"Aku membuat nasi goreng untuk kakakmu, tapi para pelayan itu terus merundungku di dapur hingga aku terjatuh." Jawab Patricia sembari mengatakan giginya, dia tidak akan mengampuni pelayan itu.
Dia bukan perempuan bodoh yang akan membela seorang pelayan di depan keluarga Azura.
"Aku akan mengurus para pelayan itu." Kata Hendrik segera berdiri meninggalkan Patricia yang kebingungan.
"Hei, kalau kau pergi siapa yang membantuku mengobati luka luka ini?" Patricia berkata sembari menatap punggung pria yang berjalan menjauhinya.
"Begitu Ingin dirawat oleh pria lain?" Lewi muncul dari belakang Patricia mengagetkan perempuan itu.
"Kau,, kenapa kau di sini?" Patricia bertanya dengan bingung.
"Apa kau tidak senang karena aku mengganggu waktumu bersama pria lain?" Tanya Lewi meraih obat di atas meja dan menarik tangan Patricia untuk mengobatinya.
"Bukan begitu, aku hanya tidak mau tidurmu terganggu karena aku. Sekarang masih pukul 6 pagi." Kata Patricia dengan suara serak.
Lagi-lagi, lagi-lagi pria itu mengobatinya.
Sekarang dalam hatinya, Patricia benar-benar yakin bahwa pria didepannya ini benar-benar baik padanya meskipun terkadang pria itu juga bersikap kasar padanya, tapi Patricia yakin Lewi sebenarnya punya sebuah alasan.
"Oh," jawab Lewi dengan singkat lalu pria itu terus mengobati luka di sekujur tangan Patricia.
'Kenapa dia menjawab sangat singkat? Pria ini benar-benar susah dimengerti.' gumam Patricia memandangi Lewi yang sedang serius membersihkan luka luka Patricia.
"Maaf untuk apa?" Lewi berbicara tanpa memandang Patricia.
Di dalam hatinya dia merasa bersalah pada perempuan itu, awalnya ketika dia melihat Patricia bersama Hendrik dia berpikir keduanya sedang selingkuh.
Namun ternyata Patricia malah terluka seperti itu karena ingin membuatkan nasi goreng untuknya, sementara dia tidak bisa menolong istrinya yang dirundung oleh para pelayan dan ada pria lain yang menggantikannya menolongnya.
Dia merasa seperti seorang suami yang tidak bisa diandalkan.
"Aku minta maaf karena kemarin sudah menyentuh barang-barangmu. Aku janji, mulai hari ini aku tidak akan menyentuh barang-barangmu lagi dan,,"
"Bisakah kau diam? Aku tidak ingin mendengar bacotanmu yang tidak berguna itu!" Selah Lewi.
"Oh," Patricia menjawab dengan ketus.
Percuma saja dia meminta maaf, memang pria didepannya ini tidak pernah memberi hati padanya.
Akhirnya, luka Patricia telah selesai diobati, perempuan itu melihat muka lukanya yang penuh dengan obat.
"Terima kasih." Kata Patricia.
__ADS_1
"He, haruskah kau berterima kasih setelah merepotkan orang lain?!" Lewi berbicara dengan penuh cibiran lalu memutar kursi rodanya meninggalkan Patricia.
Patricia memutar bola matanya 'Dasar pria gengsian!' geramnya dalam hati lalu berjalan mengikuti Lewi dari belakang dan mendorong kursi roda pria itu memasuki lift.
"Apa yang kau lakukan?!" Lewi terdengar sangat marah tapi Patricia mengabaikannya dan hanya menekan tombol pada dinding lift.
Baru selesai menekan tombol, tiba-tiba Patricia merasakan sebuah tangan kekar memegang pinggangnya dan menariknya ke atas kursi roda.
"Ahh!" Patricia berteriak karena terkejut.
Lewi segera memegang dagu perempuan itu dan menahannya supaya Patricia menatap matanya.
"Kau terluka di mana-mana dan masih berani berjalan sendiri dan mendorong kursi rodaku?! Mau merepotkanku lagi?!" Lewi bertanya sembari memperlihatkan wajahnya yang marah.
Patricia "..."
Maksud pria itu, dia seharunya tetap duduk di sana sampai lukanya sembuh?
Patricia mengerjapkan matanya lalu mengarahkan tangannya memeluk leher Lewi, "Aku tahu sebenarnya kau sangat memperdulikanku, tapi kau hanya gengsi mengakuinya bukan?" Goda Patricia.
Lewi terkejut, dia tidak menyangka Patricia mala akan memeluknya seperti itu dan mengatakan sesuatu yang konyol.
"Apa yang kau lakukan?! Menyingkir dariku..!" Geram Lewi.
"Sayang sekali aku tidak mau, kau yang menarikku ke pangkuanmu, jadi aku tidak akan mau turun sampai kita tiba di kamar." Ucap Patricia sembari tersenyum.
Dulunya ketika dia menikah dengan mantan suaminya, dia berharap ketika suaminya kembali mereka akan melakukan adegan-adegan romantis seperti itu, tapi tak menyangka suaminya malah kembali dan melakukan adegan adegan romantis bersama adik kandungnya!
Namun sekarang, sepertinya dia bisa menebus semua penantiannya itu, sekarang dia memiliki suami, meski suami yang kejam.
"Perempuan rendahan yang menikah dua kali dan tidak tahu malu, Kau mau turun sendiri atau aku akan melemparmu ke lantai?!" Lewi menggertak.
"Lalu begitu lakukan! Kalau kau melemparku ke lantai dan tulang menjadi patah, kau harus merawatku lagi selama beberapa bulan, dan aku tidak masalah jika tulangku mengalami patah yang penting aku bisa dirawat olehmu." Kata Patricia.
Lewi memijat keningnya, dia tidak tahu bagaimana bisa Patricia berubah dalam semalam.
Jelas-jelas semalam dia masih mendapati perempuan itu menatapnya dengan sangat marah dan bahkan dia sempat melukai perempuan itu.
Mengapa sekarang,,,?
@Interaksi
__ADS_1
Sabar ya reder,, 1 bab lagi nanti sore kalo sempat ya...