Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C76. Sangat bahagia


__ADS_3

Ada 3 dokter kandungan yang didatangkan oleh Jun setelah Ia mendapat perintah dari Lewi, semua dokter kandungan itu mengatakan hasil pemeriksaan yang sama. Kandungan Patricia baik-baik saja.


Setelah dokter terakhir meninggalkan kamar Patricia, Lewi yang duduk disamping Patricia mempererat genggamannya di tangan Patricia dan tatapannya menjadi sangat gelap.


'Mereka pikir dengan siapa mereka sedang bermain-main?' amarah dalam hati Lewi bagai air laut yang tiba-tiba meluap sampai ke puncak gunung.


Dia hampir kehilangan istri dan bayinya karena ulah orang-orang itu!


"Mm..." Suara Patricia yang tiba-tiba langsung menarik Lewi dari lamunannya lalu pria itu kembali fokus pada istrinya.


"Istri, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Langsung tanya Lewi dengan tangannya diletakkan di kening Patricia sembari mengusap pelan kening tersebut.


"Dimana mie kuahku?" Langsung tanya Patricia membuat Lewi tertegun beberapa detik sebelum tersenyum dengan kekonyolan istrinya.


Dia pikir saat istrinya tersadar perempuan itu mungkin akan mengeluhkan sesuatu seperti bagian tubuhnya yang sakit atau apapun yang lainnya. Ternyata begitu bangun malah langsung mencari makanan!


"Mie kuah mu ada disini, biar kubantu kau duduk sebelum mencicipinya." Kata Lewi segera berdiri dan membantu perempuan itu memperbaiki posisinya di tempat tidur.


"Apakah ada bagian tubuhmu yang terasa sakit?" Tanya Lewi sembari meletakkan bantal di punggung Patricia.


"Tidak, aku hanya merasa lemas dan lapar." Jawab Patricia dengan tatapan perempuan itu tertuju pada nampan yang berisi mangkuk yang ditutupi.


"Baiklah, kau akan segera makan." Kata Lewi dengan senyum yang tak pernah meninggalkan bibirnya.

__ADS_1


Pria itu segera mengambil mi kuah yang telah Ia buat dan mengambil sesendok kuahnya lalu mengarahkannya ke mulut Patricia.


"Panas?" Patricia bertanya sembari memperhatikan mie kuah di mangkuk.


"Tidak, ini hangat." Jawab Lewi meyakinkan Patricia lalu perempuan itu segera membuka mulutnya dan mencicipi masakan suaminya.


"Kau lupa menambahkan garam?" Langsung tanya Patricia ketika dia lidahnya merasakan masakan suaminya sangatlah hambar.


"Benarkah?" Lewi kemudian mencicipi mie kuah itu.


"Tidak, ini sudah enak." Jawab Lewi.


Patricia mengangguk dengan senyum terukir di wajahnya, ia lupa kalau ia sedang sakit.


Setelah membantu Patricia menghabiskan mie kuah nya, Lewi kembali membantu Patricia berbaring supaya perempuan itu beristirahat dengan cukup.


"Kau mau ke mana?" Patricia langsung bertanya ketika suaminya kembali naik ke kursi roda.


Lewi kembali mendekati istrinya dan memegang tangan perempuan itu.


"Apa kau tahu berita apa yang baru saja kudapatkan?" Lewi berkata sembari tersenyum menatap istrinya.


"Apa itu?" Tanya Patricia.

__ADS_1


"Dokter sudah memeriksa ulang kandunganmu dan sudah dipastikan kalau anak kita baik-baik saja. Tidak ada tumor, tidak ada ada keterlambatan perkembangan janin dan dokter mengatakan kalau rahimmu sangatlah sehat." Ucap Lewi mengagetkan istrinya.


"Apa maksudmu?" Patricia bertanya dengan tangannya menggenggam erat tangan suaminya dan tangan yang lain berada di perutnya.


"Banner, dokter yang memeriksa mu di rumah sakit pusat kota Bali adalah dokter yang telah di sewa oleh seseorang untuk membohongi kita. Dan sekarang aku akan pergi membicarakannya dengan Jun, tapi sebelum itu aku mengatakan padamu supaya kamu jangan berpikir terlalu banyak.


"Dokter memperingatkan aku bahwa stres mu sudah sangat parah dan sangat mempengaruhi kesehatanmu dan juga kesehatan anak kita. Mengerti?" Lewi tersenyum sembari mengulurkan tangannya mengusap air mata Patricia yang sudah membasahi pipi perempuan.


"Aku mengerti..." Jawab Patricia semakin banyak mengeluarkan air matanya karena rasa harunya.


"Kalau sudah mengerti Jangan menangis Lagi. Aku tidak bisa meninggalkanmu kalau melihatmu seperti ini." Kata Lewi terus mengusap airmata Patricia yang terus membanjiri pipi perempuan itu.


"Mmm... Aku tidak menangis karena sedih, aku hanya bahagia, sangat bahagia sampai tidak tahu harus apa." Kata Patricia sembari tersenyum meski air matanya masih terus mengalir.


Dia terlalu bingung untuk mengekspresikan kebahagiaannya, atau mungkin dia merasa marah pada orang-orang yang hampir saja membunuh anaknya.


Tapi yang jelas di dalam hati perempuan itu, dia tidak bisa memaafkan orang-orang yang sudah berniat bahkan hampir membunuh anaknya!


@Interaksi



Coba bantu otor mikir mau di ganti apa? Sekalian sama bantu otor mikir gimana caranya merampok hatimu tanpa ketahuan ya...🙏

__ADS_1


__ADS_2