
Di sebuah kamar di Villa xx sepasang suami istri sedang berpelukan.
"Apa rencana selanjutnya?" Tanya Lewi.
"Pecat aku menjadi sekretaris mu dan biarkan aku menjadi karyawan Biasa." Jawab Patricia langsung mengukir kerutan di kening Lewi.
Bagaimana bisa dia membiarkan istrinya meninggalkan ruangannya dan bekerja menjadi seorang bawahan di kantornya?!
Melihat wajah suaminya yang tidak setuju dengan ide nya, Patricia lalu mendaratkan sebuah ciuman bibir Lewi.
"Kalau kau tidak melakukannya, Rolland akan curiga." Ucap Patricia.
"Aku akan memikirkannya." Lewi benar-benar tidak mau!
"Jangan memikirkannya lagi, ini adalah jalan keluar terbaik. Lagi pula, kita masih bisa bertemu setelah pulang kerja." Kata Patricia tersenyum mengelus wajah Lewi.
Sekali lagi, Lewi menghela nafas dan meraih tangan Patricia lalu meletakkannya di hidung dan mulutnya.
Lewi memejamkan matanya sembari mencium tangan Patricia "Sampai kapan kau akan berada di posisi karyawan biasa?" Tanya Lewi.
Patricia tersenyum kecil melihat kelakuan suaminya, "Aku belum tahu, tapi aku janji kita akan menyelesaikannya dengan cepat. Ok?"
"Baiklah," jawab Lewi dengan pasrah lalu pria itu kembali mempererat pelukannya pada Patricia dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah Patricia.
Apakah dia sanggup membiarkan istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya menderita?
'Tidak! Aku akan mencari cara dan mengembalikan Patricia ke posisinya dalam waktu 3 hari! Tidak tidak,,, 3 hari terlalu lama, haruskah besok sore?' Lewi berkutat dengan pikirannya sendiri, dia tidak mau berpisah dengan istrinya tapi dia juga tidak mau membuat istrinya kecewa.
Istrinya ingin bersandiwara di depan semua orang, istrinya bahkan melakukan semua itu demi melindunginya, jadi bagaimana bisa ia tidak membantu istrinya?
Akhirnya, di pagi hari Patricia berangkat lebih pagi menggunakan taksi sementara Lewi berangkat bersama Jun.
"Apakah Tuan serius membiarkan Nyonya Muda menjadi karyawan biasa? Bagaimana kalau beberapa orang merundungnya sebab dia diturunkan dari posisi sekretaris ke karyawan biasa?" Jun bertanya dengan hati-hati.
Bagaimanapun, kalau sesuatu terjadi pada Patricia maka dia juga lah yang akan bertanggung jawab.
Apalagi, Nyonya nya bukan hanya sendirian tetapi sedang bersama seorang janin di dalam rahim Nyonya nya, akan lebih repot lagi baginya jika sesuatu terjadi pada Patricia.
"Pasang camera CCTV di sekitar tempat istriku bekerja." Ucap Lewi.
"Baik Tuan." Jawab Jun.
Akhirnya ketika Patricia tiba di kantor dia langsung disambut oleh seorang karyawan lalu dibawa ke mejanya.
__ADS_1
Beberapa karyawan wanita yang mengenali Patricia menjadi sekretaris langsung mengerumuni Patricia dan memperhatikan Patricia.
"Wajahmu lebam, kenapa bisa?" Salah satu karyawan bertanya.
"Aku jatuh," jawab Patricia.
"Aku dengar kemarin kau diantar langsung oleh Tuan Rolland ke rumah sakit? Bagaimana rasanya bisa mendekati 2 pewaris dari keluarga Azura?"
Mendengar pertanyaan salah satu karyawan itu akhirnya Patricia mengangkat wajahnya dan menatap karyawan yang baru saja berbicara.
"Aku hanya ingin bekerja dengan tenang, jadi bisakah kalian meninggalkan mejaku?" Patricia berusaha memperbaiki suaranya dan menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Ok, bekerjalah dengan tenang." Ucap perempuan itu lalu meninggalkan meja Patricia diikuti teman-temannya.
"Kak Sita, apakah kau akan membiarkannya? Dia Baru saja datang ke departemen kita dan sudah berlagak sepeti itu. Aku saja merasa kesal padanya!"
"Benar, dia bahkan berani mengusir Kak Sita, sebaiknya kita beri dia sambutan yang baik di departemen kita. Bagaimana menurut Kak Sita?"
"Jangan buat keributan dulu, kita lihat bagaimana Kak Sarah menanganinya." Ucap Sita sembari tersenyum, kepala departemen mereka adalah perempuan yang sangat mengidolakan Rolland.
Perempuan tercantik di perusahaan Azura yang memiliki prestasi terbaik di perusahaan.
"Kak Sita benar, Kak Sarah tidak akan membiarkan dia bernafas dengan tenang, apalagi Kak Sarah telah mengetahui bagaimana perempuan itu diam-diam menggoda dua pewaris dari Grup Azura!"
Akhirnya, perempuan yang mereka bicarakan telah tiba.
"Kau anak baru?" Perhatian Sarah langsung tertuju pada Patricia yang tampak menonjol karena wajahnya yang lebam.
"Selamat pagi Kak Sarah, perkenalkan nama saya Patricia." Ucap Patricia dengan sopan.
"Oh,, kau perempuan yang yang menjadi sekretaris CEO hanya dalam waktu 3 hari?" Nada bicara Sarah langsung tidak enak didengar.
Penghinaan yang diucapkan perempuan itu langsung membuat para perempuan yang tadi mengelilingi Patricia tersenyum senang.
"Ya," jawab Patricia.
Mendengar jawaban Patricia yang terlalu percaya diri, Sarah menghela nafas lalu tersenyum pada Patricia.
"Kemarin kau diantar secara pribadi oleh wakil CEO ke rumah sakit? Bagaimana rasanya?" Tanya Sarah.
'Huh,, kenapa semua perempuan ini? Masih pagi pagi sudah merundung orang lain karena cemburu buta!' Patricia berusaha menenangkan hatinya.
"Saya tidak mengerti dengan ucapan Kak Sarah," jawab Patricia.
__ADS_1
"Baguslah kalau kau tidak mengerti. Tapi aku ingatkan padamu, kalau kau ingin bekerja dengan tenang, jangan berbuat hal-hal yang tidak pantas, apa lagi merayu atasan! Kau mengerti?!"
"Mengerti." Patricia berusaha tetap tenang.
Akhirnya pagi itu berjalan secara biasa. Ketika jam makan siang akan tiba, tiba-tiba beberapa teknisi datang untuk memasang CCTV.
"Mengapa hanya tempat kami yang dipasang CCTV?" Sarah bertanya pada teknisi.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan perintah, kalau mau tahu hal lain Nona bisa bertanya pada atasan Nona saja." Ucap Sang teknisi.
"Apa sekarang kita dimata-matai? Mengapa hanya departemen kita yang dipasang CCTV?" Sita berkata dengan kesal.
"Ini pasti berhubungan dengannya!" Sala satu perempuan menunjuk Patricia yang sedang fokus pada komputernya.
"Dia baru saja datang dan ruangan kita sudah dipasangi CCTV, apa lagi kalau bukan dia yang diawasi?!"
Akhirnya semua orang mengelilingi Patricia.
"Hei, kau!! Apa yang sudah kau lakukan hingga dipindahkan kemari?!" Tanya Sita dengan kesal.
Mereka tidak tahu alasan mengapa Patricia di pindahkan, mereka hanya tahu kalau kemarin Patricia diantar oleh Rolland ke rumah sakit.
"Aku juga tidak tahu. Kalau kalian penasaran kalian bisa bertanya pada CEO." Jawab Patricia.
"Apa?! Beraninya kau berkata seperti itu di depan Kak Sarah! Dia di sini sebagai atasanmu!" Sita mengingatkan Patricia.
"Apa yang kukatakan hingga menyinggung Kak Sarah? Aku hanya berkata dengan jujur. Aku tidak tahu apa pun!" Ucap Patricia menghela nafas.
Perempuan yang cemburu benar-benar menakutkan!
"Tunggu, apa kau sudah melakukan hal menjijikkan hingga kau tidak mau mengatakannya? Apa kau menggoda CEO?" Sala satu perempuan kembali bertanya.
"Apa?!" Sita sangat terkejut.
"Itu tidak mungkin! Perempuan seperti dia tidak akan berani menggoda CEO, dia pasti mencuri sesuatu hingga dia harus dimata-mati dengan CCTV!"
"Apa?! Kau seorang pencuri?!" Semua orang terkejut.
"Benarkah itu?" Sita memastikannya pada Patricia.
"Halla, mana ada maling mau ngaku! Secara, dia ini mantan CEO grup Siloam, dia sudah jatuh miskin, jadi dia pasti berusaha mencuri barang berharga CEO karena dia tahu kalau CEO kita tidak mungkin tertarik pada janda seperti dia!" Sala satu perempuan kembali berkata.
"Benar, dia janda miskin yang super jelek. Lihat saja wajahnya, sungguh tak pantas menggoda CEO!"
__ADS_1
@Info.
Aduh, bab ini sudah di up dari subuh tadi, tapi entah kapan berhasil review... otor dah bolak balik cek tapi blm review juga.. maaf ya....