
"Hei,, siang ini ayo makan bersama." Ucap Patricia pada Meilin di seberang telpon.
"Uh,, Patricia aku tidak bisa. Tanteku kembali dari luar negeri dan mengajakku makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama besok saja?" Ucap Meilin merasa bersalah.
"Baiklah besok saja." Ucap Patricia yang sedang ada di mall bersama Elsa.
"Kakak, ayo kita beli beberapa baju untuk calon keponakanku yang tampan." Ucap Elsa setelah melihat Patricia menutup panggilannya.
"Baiklah." Jawab Patricia lalu mereka segera berbelanja bersama.
Sementara Meilin, perempuan itu membereskan pekerjaannya lalu pergi ke sebuah restoran yang dikatakan oleh tantenya.
"Nah,, itu dia keponakanku." Ucap Liona pada temannya.
"Wahh, dia sangat cantik. Keponakanku pasti menyukainya." Ucap Vinya.
"Halo, selamat siang." Sapa Meilin pada dua orang itu.
"Selamat siang. Duduklah."
"Meilin segera duduk di kursi depan dua perempuan yang berumur 40an.
Mielin, kenalkan ini teman Tante, namanya Vinya.
"Halo Tante, nama saya Meilin."
"Halo Meilin," Ucap Vinya mengamati Meilin.
"Apa kau sudah lapar?" Tanya Liona pada keponakannya.
"Belum terlalu. Lagi pula jam makan siang masih 15 menit lagi." Ucap Meilin.
"Wahh, sepertinya kau benar-benar memperhatikan waktu ya? Keponakanku juga begitu." Ucap Vinya dijawab senyum kikuk Meilin.
__ADS_1
Apa hubungannya dia dengan keponakan orang itu?
"Iya Vin, dia ini wanita karir yang mandiri dan ketat sekali soal waktu. Tapi hatinya selembut gulali." Ucap Liona membanggakan Meilin.
'Hah,, dua tante-tante ini,, apa lagi yang mereka rencanakan?' Meilin menghela nafas.
"Oh,, itu dia keponakanku." Tiba-tiba kata Vinya sembari melihat ke pintu masuk.
"Wahh, tampan dan berwibawah!" Komentar Liona bersemangat.
"Iya 'kan? Sudah ku bilang kalau mereka pasangan yang cocok!" Ucap Vin menarik perhatian Meilin.
Pasangan yang cocok?
Apa-apan?!
"Selamat siang.", Tiba-tiba suara seorang pria yang sedikit familiar di telinga Meilin.
Meilin langsing mengangkat kepalanya dan terkejut Melihat Jun.
"Oh, kalian sudah saling kenal?" Vinya dan Liona juga kompak bertanya.
"Tidak kenal!" Jawab Meilin sementara Jun hanya diam menghela nafas.
"Duduklah dulu." Ucap Vinya pada Jun lalu pria itu segera duduk di samping Meilin.
"Pelayan," panggil Vinya dengan senyum semangatnya.
Mereka segera memesan makanan.
"Ternyata kalian sudah saling kenal, kalau begitu perjodohan ini akan berjalan cepat!" Ucap Vinya menarik perhatian Jun dan Meilin.
"Apa?!"
__ADS_1
"Iya, aku rasa Minggu ini kita sudah bisa mengadakan pertemuan keluarga." Ucap Liona mengabaikan dua orang yang menatap sinis ke arah mereka.
"Jangan Minggu ini. Langsung besok saja, bagaimana?"
"Oh,, iya benar.. kalau begitu besok sore jam 3, bagaimana?"
"Iya, kalau begitu sudah di putuskan!"
"Hei,,, tunggu dulu! Aku saja belum mengatakan apa pun, kenapa langsung memutuskan?" Tanya Meilin dengan kesal.
"Memangnya apa yang ingin kalian katakan?" Tanya Vinya.
"Kami tidak setuju dengan perjodohan ini!" Ucap Jun dan Meilin dengan kompak.
"Wah,, wah... Belum apa- apa langsung ajah bilang 'kami' ini pasti jodoh! Iya kan Vin?" Ucap Liona pada Vin.
"Benar sekali." Ucap VInya.
"Aku pergi." Tiab-tiba kata Jun berdiri.
"Ok,, kalau kamu pergi, jangan berharap kau masih punya kesempatan untuk bertemu Tante!" Ancam Vin.
"Iya, kalau kalian menolak perjodohan ini, jangan pernah berpikir kalian masih memiliki keluarga.!" Tambah Liona mengancam keduanya.
Jun yang dibesarkan oleh Vinya tidak bisa membantah perempuan itu. Dia sudah menganggap Vinya sebagai ibu sekaligus ayahnya, jadi dia dengan enggan kembali duduk di kursinya.
"Jadi besok, apa yang harus kita kenakan? Haruskan kita menggunakan jasa desainer kilat?" Tanya Liona pada Vin.
"Oh, benar,, masih ada waktu hari ini. Kita bisa ke butik sebentar." Ucap Vin.
Akhirnya Meilin dan Jun menjadi patung pajangan di restoran itu. Mereka tak punya kesempatan untuk berbicara, kecuali jika berniat membahas acara lamaran mereka.
Tapi,, siapa yang mau?
__ADS_1