
"Kita lewat dulu makan malam." Ucap Lewi ketika mobil mereka sudah keluar dari perusahaan Azura.
"Baiklah, aku mau makan rujak mangga asam pedas!" Jawab Patricia sembari mendekat ke arah Lewi dan memeluk lengan pria itu serta menyandarkan kepalanya di bahu Lewi.
"Mana boleh rujak untuk makan malam? Kau mau menyiksa anak kita untuk merasakan yang asam-asam dan yang pedas?" Lewi berkata sembari mengulurkan tangannya memegang perut datar Patricia.
Ini pertama kalinya Dia memiliki seorang anak, dan dia merasa harus memikirkan hal yang terbaik untuk anak dan istrinya.
"Tapi anakmu menginginkan rujak!" Patricia berbicara dengan kesal meski dia tidak berusaha menjauhkan tubuhnya dari suaminya.
"Baiklah, kita makan rujak pisang manis." Jawab Lewi membuat Patricia semakin kesal.
"Pokoknya aku mau rujak mangga asam pedas!" Patricia menggeser posisinya untuk menjauh dari Lewi sebagai pertanda bahwa dia akan merajuk, tetapi belum sempat dia bergerak menjauh ketika Lewi sudah meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke pangkuan pria itu.
"Mau kemana he??" Lewi bicara dengan kesal sembari mencubit pipi Patricia.
"Sakit...!" Patricia meringis sembari memegangi pipinya yang terlihat memerah karena cubitan Lewi.
"Benarkah? Apakah aku mencubit mu terlalu keras?" Dengan cemas Lewi memeriksa pipi Patricia yang sedikit memerah.
"Tidak akan sakit lagi Kalau kau menciumnya." Tiba-tiba kata Patricia membuat Jun yang duduk di bangku depan langsung tersedak air liurnya.
Baru saja Nyonya mudanya merajuk pada Tuan Mudanya, dan sekarang malah menggoda Tuan Mudanya? Menakjubkan!
"Benarkah?" Lewi akhirnya tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Patricia yang baru saja ia cubit.
"Sudah, sekarang kita pergi makan malam." Kata Lewi merasa sangat puas. Dia menyukai sikap manja istrinya!
"Belum," wajah Patricia terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang mengharapkan sesuatu.
Lewi mengerutkan keningnya dan bertanya "Apa lagi?"
"Pipi satunya iri," jawab Patricia memiringkan kepalanya memperlihatkan pipi lain yang belum dicium.
Lewi tertawa kecil lalu dia mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi Patricia dan juga di bibir perempuan itu.
"Apakah dagunya juga iri?" Lewi menciumi dagu Patricia.
"Hidungnya juga."
Cup cup cup...
"Dahi."
Cup cup cup
"Mata."
__ADS_1
Cup cup cup...
"Alis."
Cup cup cup
...
Mereka akhirnya tiba di restoran dimana mereka akan makan malam. Keduanya memasuki jalur VIP dan tiba di ruang privat yang sudah dipesan oleh Jun.
Begitu makanan di tata di atas meja, Patricia langsung mengerutkan keningnya.
"Dimana rujaknya?" Tanya Patricia pada pelayan.
"Rujak apa yang Nyonya inginkan?" Pelayan itu bertanya dengan sangat hati-hati karena daftar makanan yang mereka terima sebelumnya tidak ada tercantum rujak. Bahkan, di restoran mereka juga tidak menyediakan menu itu.
"Rujak mangga asam pedas. Tolong siapkan itu untukku." Jawab Patricia lalu dia segera berbalik menatap suaminya sembari tersenyum menyengir.
"Kau benar-benar membantah?" Lewi berkata dengan nada suara yang ditekan.
"Jangan memarahiku, ini keinginan anakmu!" Kata Patricia segera mengacuhkan suaminya lalu dia fokus ke makanan diatas meja.
Steik, dia mengambil beberapa potong steik dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau harus makan sup dulu supaya lambungmu,,,"
Kata 'Anakmu' adalah senjata yang sangat ampuh.
Akhirnya, Lewi hanya menghela nafas dan membiarkan perempuan itu makan sesuka hati.
Setelah semua makanan habis, barulah rujak yang dipesan oleh Patricia datang.
"Ini makanan penutup yang paling...." Patricia melototkan matanya ketika melihat Lewi merebut piring berisi rujak dan melihatnya.
"Ada apa?" Tanya Patricia.
"Aku akan melihatnya dulu," kata Lewi mengambil sepotong rujak dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau memeriksanya karena takut di sana ada sesuatu?" Suasana hati Patricia menjadi lebih baik, bagaimana bisa pria itu mengorbankan dirinya demi melindungi nya?
"Hm, makanlah," barulah Lewi menyerahkan rujak itu pada Patricia.
Air liur Patricia sudah hampir menetas jadi dia dengan penuh semangat langsung memasukkan 3 potong mangga ke dalam mulutnya.
"Kurang pedas," katanya mengambil saus cabai yang diletakkan di atas meja dan menambah tiga sendok saus serta menambah perasaan jeruk.
"Istri, apa yang kau lakuk,," Lewi baru saja ingin merebut, tapi Patricia sudah berdiri dan berjalan menghindari Lewi serta memasukkan beberapa potong rujak ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ha,,, ini baru enak." Ucap Patricia menikmati kunyahan nya.
"Istri, kau akan sakit nanti!" Lewi menjalankan kursi rodanya ke arah Patricia.
"Jangan mendekat!" Patricia mengancam "Kalau kau mendekat dan merebut rujak ini, aku akan marah selama 1 bulan penuh!"
Mendengar ancaman istrinya, Lewi hanya menghela nafas "Baiklah aku tidak akan melarangmu untuk memakannya tapi biarkan aku membantumu menghabiskannya. Bagaimana?" Tanya Lewi.
Patricia melihat mangga yang berada di piringnya, Dia benar-benar tidak rela berbagi dengan pria itu, tapi,,, dia kembali ingat sesuatu 'Memangnya kau tidak mau berbagi segalanya denganku?' kata Lewi tadi pagi.
Akhirnya Patricia memaksakan senyumnya lalu memberi kode pada Lewi supaya pria itu duduk disampingnya.
"Terima kasih istri," ucap Lewi tidak keberatan dengan ekspresi terpaksa istrinya, ia memberi ciuman di kening Patricia sebelum ngambil garpu dan mulai membantu Patricia menghabiskan mangganya.
"Enak?" Patricia bertanya sembari memperlihatkan wajah berbinar nya.
"Hmm," jawab Lewi dengan asal sembari memasukkan potongan mangga ke dalam mulutnya, dia harus menghabiskan lebih banyak dari perempuan itu supaya istrinya tidak pernah sakit perut karena ngotot menghabiskan seluruh rujak mangga yang asam pedas.
"Kau lebih lahap dariku 'kan, hehe sudah ku bilang kalau ini enak!" Patricia berbicara sembari tertawa kecil dan juga mulai di mempercepat kunyahan mulutnya.
Lewi "..."
Mana ada yang enak! Ini seperti neraka cabai!
Melihat istrinya semakin cepat memakan mangga asam pedas itu, Lewi menjadi semakin cemas kalau istrinya akan sakit perut, Jadi pria itu mengambil lebih banyak potongan dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Akhirnya mangga itu telah habis dan sebagian besar mangga mangga itu telah berakhir di perut Lewi.
"Ya habis,,, ayo kita pesan lagi!" Patricia terlihat sangat bersemangat.
"No! Ini sudah malam, kita pulang dan tidur lebih awal! Ibu hamil tidak boleh kelelahan." Ceramah Lewi membuat Patricia menghela nafas, dia ingin menolak, tapi apa yang dikatakan suaminya memang benar jadi perempuan itu segera berdiri lalu mereka meninggalkan restoran.
"Kita pulang kemana?" Tanya Patricia ketika mereka sudah duduk di mobil.
"Ke kediaman Azura," jawab Lewi.
"Kenapa bukan ke villa xx?" Tanya Patricia.
Dia lebih suka berada di Villa xx daripada kediaman Azura karena di kediaman itu terdapat orang-orang menyebalkan.
"Villa xx jauh dari sini, aku tidak mau kau kelelahan karena harus pulang pergi kesana setiap hari." Ucap Lewi.
"Baiklah," Patricia berpasrah lalu perempuan itu pindah tempat duduk ke pangkuan suaminya.
"Ada apa?" Tanya Lewi.
"Ngantuk." Jawab Patricia segera memeluk pria itu dan menyandarkan kepalanya di dada Lewi sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
Sangat nyaman....