Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C46. Sangat membuang-buang waktu


__ADS_3

Tiba di kantor, Patricia meletakkan tasnya di meja dan kembali fokus pada pekerjaannya.


Tak berapa lama Lewi memasuki Kantor dan melihat Patricia yang sedang duduk sembari memejamkan matanya. Sepertinya tertidur.


Lewi tidak ingin mengganggunya, jadi pria itu menjalankan kursi rodanya kearah meja kerjanya dan duduk di sana sembari fokus pada pekerjaannya.


Tak berapa lama dia terus memperhatikan Patricia dan mengambil ponselnya untuk mengambil gambar.


Namun dia terkejut ketika sebuah sinar merah kecil terpancar di layar ponselnya.


Brak!


"Apa itu?!" Tiba-tiba katanya dengan suara berteriak sembari memukul meja.


Patricia yang sedang memejamkan matanya terkejut dan mengangkat wajahnya menatap Lewi.


"Ada apa Tuan?" Tanya patricia.


"Bawa tas itu kemari!" Lewi membentak dengan suara keras.


"Tas ini?" Patricia bertanya kebingungan.


"Kalau kau tahu cepat bawa kemari!" Kata Lewis tak lupa memandang Patricia dengan tatapan mengancam.


"Baik Tuan." Jawab Patricia segera mengambil tas itu dan membawanya pada Lewi.


"Ini Tuan," ucap Patricia dengan tangan gemetaran meletakkan tas di atas meja Lewi.


Lewi tersenyum mengejek mengambil kamera kecil yang diselipkan di tas Patricia lalu memandangnya dengan tatapan membunuh.


"Tu,, Tuan,, itu,, apa itu?" Patricia dengan suara gemetaran nya bertanya.


"He,, apa?! Kau wanita tidak tahu diri! Berani-beraninya memata-mataiku!" Teriak Lewi menghancurkan benda di tangannya hingga pecah berkeping-keping.


"Ha ha ha... Kenapa kau begitu marah?" Patricia langsung tertawa dan melompat ke pangkuan Lewi memeluk pria itu.


Cup!


Sebuah ciuman besar mendarat di puncak kepala Patricia saat Lewi mempererat pelukannya di tubuh Patricia.


"Beraninya pria itu bermain-main denganku! Sepertinya sudah bosan hidup!" Ucap Lewi masih dalam keadaan marah.


"Jangan marah, bukankah ini menghibur juga?" Patricia terkikik dalam pelukan Lewi.


Lewi menghela nafas "Bagaimana kau tahu dia menaruh alat penyadap di tas mu?" Tanya Lewi.


"Aku melihatnya ketika kembali dari toilet. Tapi maafkan aku, seharusnya aku,,"


"Aku percaya padamu!" Cup! Sebuah ciuman kembali menutup ucapan Lewi lalu kedua orang itu kembali mempererat pelukan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Patricia penuh haru.


Dia pikir suaminya akan marah setelah tahu dia berada di cafe bersama Rolland.


"Kau berterima kasih pada suamimu? He,, benar-benar bodoh!" Lewi menghela nafas .


"Hehe.. aku senang berterima kasih padamu. Oya,, sekarang rencana selanjutnya." Kata Patricia melihat suaminya sembari mengedipkan sebelah matanya.


Perempuan itu keluar dari ruangan Lewi lalu pergi ke ruangan sebelah menemui seorang penata rias.


"Apakah ini tidak terlalu berlebihan Nyonya?" Tanya sang penata rias saat melihat dandanan yang ia berikan pada Patricia.


"Bagus, buat juga beberapa luka di tangan dan di leherku." Ucap Patricia.


"Baik Nyonya," jawab sang penata rias yang sebenarnya kebingungan dengan apa yang ingin dilakukan oleh Patricia hingga berdandan seperti itu.


Bagaimana kalau ada orang yang melihatnya dan berpikir telah terjadi kekerasan di kantor keluarga Azura?


Setelah selesai berdandan, Patricia kembali ke kantornya mengagetkan suaminya yang sedang bekerja.


"Istri, apa yang kau...?" Kata-kata pria itu tergantung saat Patricia mendekatinya.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Patricia mendekatkan wajahnya ke arah Lewi.


"Orang-orang benar-benar akan berpikir kalau aku sudah menyiksamu habis-habisan!" Kata pria itu mengulurkan tangannya menyentuh lebam-lebam buatan di wajah Patricia dan menyingkap sedikit bajunya.


Pria itu langsung mengerutkan keningnya melihat lebam besar juga digambar di sekitar dada Patricia.


Perempuan itu mendandani bagian tubuhnya yang tertutup, Apakah perempuan itu berpikir untuk memperlihatkan bagian itu pada Rolland.


"Uh,, ini hanya untuk berjaga-jaga." Ucap Patricia hendak menarik dirinya dari suaminya saat Lewi dengan cepat menarik pinggang Patricia sehingga perempuan itu terjatuh di pangkuannya.


"Jangan berpikir memperlihatkan bagian itu pada siapapun atau aku akan mencungkil mata orang itu dan memberikannya pada anjing liar!" Ucap Lewi mengancam istrinya.


"He,, Tuan,, penata rias sudah melihatnya tadi, jadi apakah mata penata rias itu juga akan kau congkel matanya?" Tanya Patricia.


"Kau mulai membantah?!" Lewi menjepit dagu Patricia.


"Suami,, anakmu ketakutan dengan suara dan wajahmu,," ucap Patricia menyadarkan Lewi.


"Maaf,," pria itu memejamkan matanya dan memeluk istrinya, dia belum terbiasa berbagi perasaan jadi sesekali dia masih harus membentak Patricia.


"Jangan berpikir macam-macam, ini hanya berjaga-jaga kalau nanti Rolland menyuruh seorang perempuan untuk memastikannya. Memangnya kau pikir aku perempuan apa yang akan memperlihatkan tubuhku pada sembarang orang?! Hanya suamiku yang berhak!" Kata Patricia langsung menghangatkan hati Lewi hingga pria itu mempererat pelukannya.


Sementara di ruangan lain, Rolland sejak kembali ke ruangannya langsung fokus pada pekerjaannya yang sudah menumpuk.


Namun, fokusnya langsung hilang ketika sang asisten memasuki ruangannya sembari membawa sebuah flash disk.


"Tuan, alat penyadap yang tuan pasang di tas Nona Patricia telah ditemukan oleh Tuan Lewi." Kata pria itu menyerahkan flash disk pada Roland.

__ADS_1


"Kau boleh keluar." Kata Roland pada asistennya lalu pria itu menghubungkan flashdisk ke komputer nya dan membuka rekaman yang terdapat di sana.


"Apa?!" Pria itu sangat terkejut melihat Lewi memarahi Patricia hingga suara Patricia terdengar sangat gemetaran dan ketakutan.


Dengan segera, Rolland meninggalkan ruangannya dan berjalan kearah lift untuk menemui Patricia.


Dia harus menyelamatkannya!


Ketika dia tiba di sana, ia mendapati Patricia baru saja keluar dari ruangan Lewi sembari membawa tasnya.


Pakaian perempuan itu berantakan dan...


"Patricia..." Rolland segera mendekati Patricia, tapi perempuan tu langsung menghindar.


"Tolong tinggalkan aku sendirian!" Ucap Patricia dengan suara gemetar selagi melangkahkan kakinya terus menjauhi Rolland yang mendekatinya.


"Aku hanya ingin membantumu," kata Rolland dengan wajah penuh penyesalan sembari mendekati Patricia.


Pada akhirnya Patricia di pojokan ke dinding oleh Rolland yang terus mendekatinya.


Rolland baru akan menyentuh luka Patricia di tangan perempuan itu ketika pintu ruangan Lewi terbuka memperlihatkan seorang pria yang duduk di kursi roda dengan tatapan jijik pada Patricia dan Rolland.


"He, jadi kau langsung memanggil selingkuhan mu untuk membantumu?" Suara ejekan dari mulut Lewi yang tajam membuat mata Patricia menjadi semakin memerah dan tak berani mengangkat wajahnya melihat ke arah Lewi.


"Kau pria brengsek!" Roland begitu marah dan mendekati untuk mendaratkan sebuah tinju di wajah pria itu.


Namun, Jun yang berada di belakang Lewi langsung menghalangi Rolland.


"Jangan menghalangiku! Beraninya dia...!" Rolland berteriak keras.


"Apa?! Kau ingin membantu Perempuan yang datang kepadaku untuk memata-matai ku? He,, perempuan gila harta yang-"


"Cukup! Aku sudah bilang aku tidak melakukannya! Benda itu bukan milikku!" Patricia berteriak dengan mata memerah dan air mata menetes di pipi perempuan itu menambah kesan menyedihkan yang ditampilkan Patricia.


"Oh? Bukan milikmu?! Hahah,, kau pikir aku percaya?! Ck,, ck,, singkirkan mereka berdua!" Perintah Lewi kemudian berbalik memasuki ruangannya.


Sandiwara itu harus segera diselesaikan supaya dia tidak banyak mengatakan kata-kata kasar pada istrinya, dan terlebih tidak membuat istrinya kelelahan untuk berakting di depan Rolland.


'Kalau ini bukan kemauan Istriku, mana mungkin aku mau meladeni pria itu?!' Lewi memijat keningnya, ia merasa sangat kesal karena dia sebenarnya ingin langsung menyingkirkan Rolland dari perusahaan supaya tidak mengganggu mereka lagi, tapi istrinya...


'Kenapa perempuan sangat suka bermain halus?' lagi kata Lewi menghela nafas.


Istrinya sangat suka bermain-main sementara dia lebih suka menyelesaikannya dengan cepat.


Sangat membuang-buang waktu berurusan dengan seekor tikus yang bahkan tidak memiliki gigi untuk menggigit!


@Interaksi


__ADS_1


Mahluk bumi yang aneh semakin banyak saja berkumpul di sini...🤦 Suka kalo dibohongi otor, tapi kalo kekasih membohonginya sok-sok marah sampai ngitung uang yang pernah di keluarkan untuk biaya kencan...


__ADS_2