Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C114. TAMAT


__ADS_3

Di sebuah kamar rumah sakit, Patricia duduk sembari menggendong seorang bayi laki-laki yang lucu.


"Oh,, keponakanku yang lucu!" Meilin dan Jun memasuki ruangan sembari membawa buah tangan untuk keponakan mereka lalu Meilin langsung menghampiri Patricia dan menatap bayi mungil kecil di gedongan Patricia.


"Kalian sudah datang, aku minta maaf atas kehebohan di pesta pernikahan kalian hingga kalian gagal mengikat janji suci pernikahan. Aku merasa,--"


"Kau tidak perlu merasa bersalah, lagi pula pernikahan itu hanya dipaksakan jadi tidak terlalu penting dan memang seharusnya dibatalkan saja." Ucap Meilin dengan suara lantang membuat Jun yang sedang duduk di sofa bersama Lewi langsung menatap ke arah Meilin.


Tatapannya yang mengandung kekecewaan langsung tertangkap oleh Patricia dan Lewi yang memperhatikan pria itu.


"Bolehkah aku menggendongnya?" Tanya Meilin seolah ucapannya barusan biasa-biasa saja. Fokusnya kini tertuju pada bayi mungil di dalam pelukan Patricia dan dia sangat ingin menggendongnya karena merasa gemas.


"Tidak!" Tiba-tiba suara Lewi dari belakang Meilin membuat perempuan itu terdiam dan menatap Lewi yang kini berdiri.


Lewi berjalan ke arah Patricia dan naik ke ranjang mengusap kepala putranya.


"Kalau kau memang mau menggendong seorang bayi kau harus membuatnya dengan suamimu!" Ucapan Lewi dengan ketus membuat wajah Meilin langsung membatu.


"Suami, jangan berkata seperti itu, Meilin tidak mau menikah seumur hidupnya Jadi mungkin dia tidak akan punya kesempatan untuk menggendong seorang bayi." Kata Patricia mengompori Meilin tanpa memperdulikan wajah Meilin yang sudah tidak enak dipandang.


"Apapun itu, itu bukanlah urusan kita. Pokoknya anak kita tidak boleh dipegang oleh sembarang orang. Hanya ayah dan ibunya yang boleh menyentuhnya." Ucap Lewi.

__ADS_1


"Kalian,," Meilin menahan nafas "Baiklah! Lihat saja nanti! 1 tahun kedepan aku akan memiliki seorang bayi yang lebih lucu dari bayi kalian!" Kesal perempuan itu segera berlari keluar ruangan.


Lewi dan Patricia langsung memandangi Jun yang duduk di sofa tanpa ada sedikit pergerakan.


"Kau tidak mengejarnya?" Tanya Patricia.


"Dia tidak menginginkanku jadi--"


"Jadi kau menyerah? Hah,, dasar pengecut." Cibir Patricia lalu perempuan itu kembali fokus pada bayinya.


"Bukankah anak kita sangat lucu?" Tanya Patricia pada suaminya.


"Ya,, dia benar-benar lucu, Dia memiliki bola mata yang sama denganmu." Ucap Lewi.


Akhirnya karena tidak tahan melihat kemesraan dua orang itu.


"Apakah tidak masalah membuat menyinggung mereka seperti itu?" Patricia merasa cemas.


"Mereka harus diperlakukan seperti itu supaya mereka cepat menikah dan kau tidak perlu lagi memberi perhatian lebih pada Jun!" Ucap Lewi membuat Patricia ternganga.


Pikiran suaminya benar-benar.....!!!

__ADS_1


Jun yang keluar dari kamar Patricia berjalan dengan lesu ke arah lift.


Dia belum memasuki lift ketika mendengar seorang gadis sedang mengumpat dari koridor yang tak jauh darinya.


Pria itu lalu mengintip ke arah koridor dan melihat Meilin berdiri di sana sembari menendang dinding.


"Dasar menyebalkan! Seandainya dia cepat-cepat datang menjemputku diruang pernikahan maka saat ini kami sudah menikah dan mungkin sudah merencanakan untuk memiliki anak! Tapi mengapa di hari pernikahan dia datang terlambat?! Haiss..! Apa sih yang kuharapkan?! Dia tidak mencintaiku, cintaku hanya bertepuk sebelah tangan! Jadi untuk apa aku memikirkannya?! Dasar Jun brengsek! Pria pengecut mengesalkan!" Kesal Meilin semakin keras menendangi dinding bahkan tangannya kini memukul-mukul dinding itu.


Sementara Jun yang melihat dan mendengar ucapan Meilin, Dia terpaku di tempatnya.


'Jadi sebenarnya?' jantung Jun berdegup dengan sangat kencang dan kakinya tanpa sadar berjalan ke arah Meilin.


Meilin masih terus menendangi dinding ketika tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Siapa bilang cintamu bertepuk sebelah tangan? Aku juga mencintaimu." Suara Jun yang terdengar lembut dan berat membuat Meilin mematung di pelukan pria itu.


...TAMAT...



__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel baru otor di bawa ini ya....



__ADS_2