Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C105. Satu kekhawatiran menghilang


__ADS_3

Keesokan harinya.


Hasil pemeriksaan Patricia baik-baik saja tetapi dia masih dianjurkan untuk beristirahat karena tubuhnya yang masih agak lemah.


Jadi perempuan itu tidak diizinkan keluar dari villa, bahkan Lewi bekerja dari villa untuk mengawasi Patricia sebab dia takut kalau-kalau tidak ada yang menjaga Patricia dan tiba-tiba perempuan itu mengalami kesakitan.


Namun begitu, Patricia tetap merasa terhibur karena dia dapat melakukan video call dengan Elsa.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Patricia menatap adiknya dari balik layar ponselnya.


"Sudah baikan. Dokter bilang setelah 2 hari kedepan aku sudah bisa kembali ke penjara. Kak, aku titipkan perusahaan ayah dan ibu padamu,,, dan maafkan aku," kata Elsa kembali meneteskan air matanya membuat otot-otot mata Patricia menegang karena menahan air matanya.


"Adik jangan cemas. Aku akan coba berbicara dengan suamiku kalau kalau kami bisa mencabut tuntutan itu." Kata Patricia berusaha menenangkan Elsa yang sudah terisak.


"Tidak,, kakak tidak perlu melakukan itu. Aku ingin menebus kesalahanku dan tidak ada cara lain selain berada di dalam penjara." Kata Elsa berusaha menghentikan air matanya yang terus berderai.


"Tidak,, kakak tidak tenang membiarkanmu berada di dalam penjara. Pokoknya Kakak akan coba bicara dengan suami kakak." Ucap Patricia bersikukuh.

__ADS_1


"Kakak,," Elsa kembali menangis dengan histeris melihat bagaimana kakaknya sangat memperjuangkannya.


"Jangan menangis lagi. Kalau kau menangis terus, kesembuhanmu akan semakin tertunda." Ucap Patricia.


Setelah berhasil membujuk Elsa untuk tidak menangis lagi, Patricia berbincang-bincang ringan dengan Elsa sebelum menutup panggilan itu.


Setelahnya Patricia mengintip ruang kerja suaminya dan melihat suaminya sedang sangat fokus pada berbagai pekerjaan.


"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Patricia.


"Baiklah." Kata Patricia tidak mau membantah suaminya, semakin pria itu dibantah semakin menjadi-jadi pria itu mengawasinya.


Patricia memutuskan untuk menunggu Lewi selesai bekerja baru berbicara dengan pria itu.


'Sebaiknya apa yang harus kukatakan padanya supaya dia mau di bujuk?' Patricia berpikir sembari memandangi laut biru di luar villa.


Dia tahu kalau suaminya sangat keras dan penuh perhitungan.

__ADS_1


'Hahh,, seandainya saja dokter sudah mengijinkan kami melakukan hal itu. Aku bisa memanfaatkannya, tapi...' Patricia menghela nafas.


Dia sangat ingin menolong adiknya, tapi dia juga tahu kalau awalnya dia sudah menyetujui adiknya di penjara. kalau meminta lagi supaya Elsa dibebaskan, maka itu sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri.


Patricia terus berpikir...


Sementara Lewi, setelah Patricia pergi pria itu langsung menerima panggilan dari Jun.


"Katakan," perintahnya pada pria di seberang telepon.


"Saya sudah mengawasi Tuan Fara dan melakukan penyelidikan ulang. Memang selama jabatannya di sana dia tidak melakukan kesalahan apapun, tetapi selama jabatannya di perusahaan dalam negeri terdapat banyak penyimpangan yang terjadi. Saya sudah mengirimkannya ke email tuan." Ucap Jun.


"Aku mengerti." Jawablah Lewi lalu pria itu segera membuka email nya dan membaca email dari Jun.


Setelah membacanya secara ringkas, pria itu lalu mengirim pesan pada Jun supaya menggunakan informasi itu untuk menekan Afra.


'Dengan begini, pria itu tidak akan mengganggu perusahaan dalam negeri apalagi berani menyentuh istri dan anakku.' pikir Lewi segera mematikan komputernya lalu lanjut mengerjakan berkas-berkasnya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2