
Setelah acara membahas kontrak selesai, Patricia dan Roland diantar oleh 3 perempuan dari keluarga Siloam untuk meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih atas ilmu hari ini, Aku sangat senang bisa belajar dari Tuan Muda Azura." Lenita berjalan di samping Rolland dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aku juga sangat berterima kasih kepada Tuhan muda Azura, semoga di lain waktu aku masih memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal dari Tuan Muda." Eyes tak mau kalah dari kakaknya.
"Sama-sama. Kalau begitu kami pergi dulu," kata Rolland melangkah bersama Patricia untuk meninggalkan tempat itu.
Namun, ia terkejut ketika Patricia berjalan ke arah yang berlawanan dengannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Rolland.
"Saya sudah memesan taksi online, jadi,,"
"Kau memesan taksi online? Bukankah kau juga akan kembali ke kantor? Mengapa tidak kembali bersamaku saja?" Tanya Rolland.
"Tuan Azura terlalu baik. Tapi saya hanya bawahan biasa, tidak mungkin 1 mobil dengan Tuan Azura. Kalau begitu saya pergi dulu." Ucap Patricia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pria itu ketika Rolland meraih tangannya.
Peristiwa itu masih disaksikan oleh Elizabeth dan kedua putrinya hingga ketiga perempuan itu begitu panas hati melihat adegan tersebut.
"Tuan Azura," Patricia berusaha melepaskan tangannya dari Rolland tapi cengkraman pria itu terlalu kuat untuk ia lawan.
"Kenapa kau terus memanggilku dengan Tuan Azura? Kau adalah Kakak Iparku, dan--"
"Tuan muda Azura, tolong sadarlah, ini adalah jam kerja, jadi jangan membawa nama keluarga di antara kita." Kata Patricia dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu sebagai atasanmu, aku memerintahkanmu untuk kembali bersamaku!" Kata Rolland segera menarik Patricia ke arah mobilnya.
"Ibu,, apa itu tadi?!" Lenita berkata dengan nada tak percaya.
"Jallang itu menggoda Tuan Muda Azura, berpura-pura menjadi pihak yang lemah supaya dilindungi oleh Tuan Muda asura! Dia menikahi pria cacat makanya dia ingin mengganti target ke Tuan Muda kedua!" Eyes mengeram dengan kesal.
"Tenang saja, kita sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan Azura, setelah ini akan ada lebih banyak kesempatan bagi kalian untuk bertemu dengan Tuan Muda Azura. Dan ibu juga akan mencari cara agar Patricia disingkirkan dari proyek ini!" Ucap Elizabeth menghibur dua putrinya.
Sementara di tempat parkir, Patricia terus memberontak ketika mereka hendak tiba di mobil.
"Lepaskan!" Teriak Patricia dengan kesal.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mau kembali bersamaku!" Ucap Rolland membuka pintu mobilnya dan memaksa Patricia memasuki mobil.
Pria itu lalu duduk di kursi kemudi dan memandangi Patricia yang sedang mengelus tangannya yang kemerahan karena ulah Rolland.
"Maaf," Roland mengulurkan tangannya untuk melihat tangan Patricia, tapi Patricia menjauhkan tangannya dan menatap Rolland dengan marah.
"Kau bilang ingin melindungiku? Ini yang kau sebut dengan melindungi?! Kau tidak ada bedanya dengan kakakmu si pria cacat yang kejam itu! Keluarga Azura semuanya sama!" Kata Patricia dengan mata memerah karena dia begitu marah pada Rolland yang sudah terlalu lancang dengannya.
__ADS_1
Jika bukan karena rencananya untuk melihat perusahaan Siloam, dia tidak akan pernah mengerjakan proyek yang sama dengan Rolland.
"Maaf," Rolland kembali meminta maaf lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu lalu berhenti ketika mereka tiba di sebuah cafe.
"Ayo turun, aku akan mencari obat untukmu." Kata Rolland membuka pintu mobil lalu keluar.
Patricia hendak pergi menjauh ketika hujan yang deras tiba-tiba saja datang menyapa bumi hingga Patricia mau tidak mau berlari kedalam cafe untuk berteduh.
"Duduklah, aku akan memesan kopi hangat untukmu." Ucap Roland saat melihat Patricia benar-benar marah padanya dan perempuan itu bahkan tidak mau menatapnya.
Patricia mengatupkan giginya dengan erat melihat pria yang sudah pergi menjauh darinya.
Dia sangat marah pada Rolland.
Tak punya pilihan lain, Patricia akhirnya berjalan ke salah satu kursi di dekat jendela lalu duduk di sana sembari melihat keluar.
"Mana tanganmu?" Tiba-tiba Rolland kembali menghampirinya dengan sebuah kantong plastik kecil berisi obat.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Ucap Patricia dengan nada suara yang datar.
"Tapi aku harus mengobati tanganmu!" Roland segera berdiri dan berpindah tempat duduk di samping Patricia.
"Menyingkir dariku atau aku akan teriak!" Ancam Patricia pada Rolland.
"Aku akan duduk di sana," Rolland menunjuk kursi di depan Patricia "Jika tanganmu sudah diobati!"
"Kalau begitu pergilah ke sana!" Ucap Patricia dengan suara begitu berat seolah Dia memiliki beban yang sangat besar pada kata-katanya.
"Baiklah, obati tanganmu." Kata Rolland meninggalkan obat itu lalu segera berpindah tempat duduk di depan Patricia.
Namun, bukannya mengambil obat untuk mengobati tangannya Patricia malah mengambil ponselnya dan menekan beberapa kali layar ponselnya.
"Bukankah kau bilang kau akan mengobati tangan mu kalau aku,," Rolland menghentikan kata-katanya saat Patricia menunjukkan layar ponselnya padanya.
Suami.
Perempuan itu sedang menelpon Lewi.
'Apa ini? Mengapa dia malah menelpon Lewi? Mengapa juga nama Lewi ditulis dengan 'Suami''? hati Rolland berkecamuk.
"Halo asisten Jun, tolong kirimkan mobil untuk menjemput ku di cafe xx. Di sini hujan, jadi tolong katakan untuk membawa payung." Ucap Patricia pada orang di seberang telpon.
Mendengan kata Asisten Jun, hati Rolland menjadi tenang.
'He, apa yang kupikirkan? Mana mungkin Lewi mau menyimpan nomor Patricia, sementara dia membenci Patricia karena dia hanyalah seorang janda!' guna Rolland.
__ADS_1
Dia mengenal Lewi, pria itu tidak menyimpan nomor ponsel siapa pun kecuali nomor ponsel 4 orang yang telah meninggal. Kedua tetua Azura dan kedua orang tua Lewi.
"Istri? Mengapa kau memanggilku Asisten Jun?" Suara Lewi dari seberang telepon terdengar sangat kesal.
"Baik Asisten Jun, terima kasih." Kata Patricia mematikan panggilan itu dan mengangkat wajahnya menatap Rolland.
"Suamiku akan mengirimkan mobil kemari untuk menjemputku, jadi tolong jaga sikap Tuan Rolland!" Ucap Patricia.
"Kenapa kau menulis nomor ponsel asisten dengan kata Suami?" Tanya Rolland.
"He, apa pedulimu? Yang penting aku tidak butuh terlalu banyak kebaikan darimu. Aku paling benci pria yang suka melukai perempuan dengan alasan cinta!" Ucap Patricia segera berdiri membawa ponselnya.
Karena terburu-buru untuk meninggalkan Rolland, dia lupa dan meninggalkan tasnya di samping tempat duduknya.
Rolland memperhatikan obat yang terletak di atas meja, perempuan itu bahkan tidak mau menggunakannya.
'Mengapa dia sangat keras?' Roland menghela nafas, tapi dalam hatinya dia menjadi semakin tertantang untuk meluluhkan hati Patricia.
Rolland melihat tas Patricia yang tertinggal lalu mengambil tas itu dan melihatnya.
"Lewi, kupastikan segala milikmu akan menjadi milikku!" Kata Rolland menaruh alat penyadap di tas milik Patricia.
Dia yakin tas itu akan diletakkan di dalam ruang kerja Lewi dan kamar Lewi, jadi segalanya akan terekam saat Lewi hanya sendirian di ruangan.
Patricia yang berada di toilet baru saja keluar dari bilik toilet ketika menyadari dia telah meninggalkan tasnya.
Jadi perempuan itu segera kembali ke meja dimana dia dan Rolland duduk dan melihat tasnya masih berada di atas kursi.
"Sebaiknya bawa obat itu, tanganmu,,"
"Aku tahu." Sela Patricia mengabaikan obat diatas meja dan hanya mengambil tasnya saja.
Perempuan itu lalu keluar dari restoran dan memilih berdiri di depan restoran sembari menunggu jemputannya datang.
Rolland melihat punggung Patricia yang berdiri sendirian di sana. "Suamimu bahkan tidak mau memberikanmu nomor teleponnya dan hanya memberikan nomor telepon asisten Jun, tapi mengapa kau begitu bersikukuh menjaga pernikahanmu dengannya?" Rolland merasa sakit memikirkannya.
Hanya karena Patricia tidak mau menjadi janda untuk yang kedua kalinya perempuan itu rela menderita di sisi Lewi...
Padahal dia sudah menawarkan jalan keluar terbaik untuk Patricia. Tapi mengapa...? Mengapa dia menolaknya?
@Interaksi
Butuh healing... dan 1 bab lagi diusahain nanti sore y.... Jangan nunggu,,, siapa tau otor lagi boong ðŸ¤
__ADS_1