Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C47. Benar-benar nyaman berada di pelukan orang yang tepat


__ADS_3

Setelah adegan di depan ruangan Lewi selesai, Patricia berdiri di dalam lift bersama Rolland untuk meninggalkan tempat itu.


"Apa yang terjadi?" Roland menahan tangannya yang sangat ingin menyentuh Patricia, dia tahu perempuan itu sangat keras kepala, jadi dia butuh kesabaran yang lebih banyak untuk memecahkan keras kepala Patricia.


"Tidak ada alasan bagiku untuk menjelaskannya padamu!" Kata Patricia dengan dingin, lagipula pria itu seharusnya sudah tahu apa yang menjadi penyebab suaminya memperlakukannya seperti itu.


Dia hanya berpura-pura tidak tahu!


"Biarkan aku membantumu, aku bisa--"


"Aku tidak butuh bantuan dari anggota keluarga Azura!" Kata Patricia sembari menggertakkan giginya dengan tangan yang agak gemetaran berpegangan pada dinding lift.


Roland yang melihat tangan Patricia gemetaran dan ketakutan dibalik mata Patricia membuat pria itu semakin menyalahkan dirinya sendiri.


Harusnya,, harusnya dia tidak mendengarkan saran asistennya untuk menaruh penyadap di tas Patricia. Akhirnya sekarang jadi begini...


"Kalau begitu, kau mau kemana? Biar ku antar." Ucap Rolland.


"Bukan urusanmu!" Lagi kata Patricia.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Patricia langsung keluar dari lift dan berjalan ke jalan raya untuk menghentikan taxi.


Namun dia belum tiba di sana ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti dan kaca mobil itu diturunkan.


"Naiklah, aku akan mengantarmu." Suara Rolland menyambut Patricia yang menoleh ke dalam mobil.


'Pria ini...! Aku hanya ingin menghentikan sandiwaranya secepat mungkin!' Patricia merasa kesal dalam hatinya.


"Maaf, aku sudah bilang kalau aku tidak membutuhkan bantuan apapun dari anggota keluarga Azura!" Kata Patricia lalu perempuan itu berjalan meninggalkan mobil Rolland.


Rolland yang melihat keras kepala Patricia sudah tidak tahan lagi, pria itu segera menyusul Patricia dan menarik paksa Patricia ke dalam mobilnya.


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Patricia dengan kesal.


"Diamlah!" Kata Rolland menutup pintu lalu berjalan ke kursi kemudi dan menjalankan mobil itu meninggalkan perusahaan Azura.


"Hentikan mobilnya!" Patricia berkata dengan marah.


"Tidak, aku tahu kau tidak punya tempat tujuan untuk pergi jadi aku akan menyediakannya untukmu! Kalau kau tidak mau menerima bantuan dari anggota keluarga Azura, anggap saja aku bukan pria dari keluarga Azura." Ucap Rolland mengabaikan kemarahan Patricia.


"He, kau sama saja dengan Kakakmu!" Cibir Patricia melihat keluar jendela.


"Aku tidak pernah sama dengannya. Aku tulus membantumu." Ucap Rolland.


"Ya,, dan aku penasaran siapa yang sudah menaruh kamera di tasku. Hari ini aku terus menaruh tas ku disisiku dan hanya di cafe aku meninggalkan tas itu di meja mana kau berada." Ucap Patricia membuat Rolland mengencangkan pegangannya pada setir mobil.

__ADS_1


Dia tidak pernah memikirkan kalau kamera pada tas Patricia akan di temukan Lewi.


Lagi pula, sejak kapan Lewi bermain dengan ponselnya dan bahkan memotret ruangannya? Ini benar-benar janggal!


"Kau mencurigaiku?" Roland bertanya balik.


"Lalu kenapa kalau aku mencurigaimu?! Kau adalah satu-satunya orang yang mengharapkan ku berpisah dengan Kakakmu!" Kata Patricia gigi-gigi dikatupkan.


'Pria ini benar-benar licik! Dia bahkan berencana mengawasi kakaknya! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal karena sudah berani memata-matai suamiku!' geram Patricia dalam hati meski dia belum punya rencana apa pun.


"Kau sungguh berpikir aku yang menaruh kamera itu di tasmu? Kau pikir aku mau membuatmu terluka seperti ini?!" Rolland terdengar sangat putus asa dengan matanya menahan kemarahan.


"He, Bukankah situasi sekarang menguntungkan mu? Setelah membuatku dipukuli oleh Kakak mu, kau berpura-pura datang sebagai seorang pahlawan karena kau tahu aku tidak punya tempat lain untuk pergi! Kau ingin-"


"Ku bilang tidak! Aku tidak pernah berniat membuatmu terluka seperti ini!" Rolland menghentikan mobilnya dan berbalik menatap Patricia.


Patricia juga menatap Rolland dengan marah sembari menahan sekumpulan air mata yang menggenang di matanya.


"Aku tulus mencintaimu, jadi mana mungkin aku membiarkanmu terluka seperti ini?! Patula sebentar, aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk diobati. Setelah itu, aku akan menuruti apapun keinginanmu, bahkan jika kau tidak mau ku bantu." Ucap Rolland dengan wajah yang benar-benar tulus.


Dia sangat tulus pada Patricia, tapi dia hanya tidak menyangka bahwa perbuatannya untuk mencari tahu tentang Lewi justru membuat Patricia berada dalam kesengsaraan.


Dia menyesal!


"Baiklah, setelah itu aku mau kau jangan pernah lagi muncul di depanku!" Kata Patricia akhirnya duduk dengan tenang.


Tapi kata-kata seorang pria tidak boleh ditarik kembali jadi pria itu berusaha tenang melajukan mobilnya di jalanan menuju rumah sakit.


"Kan ku usahakan," jawab Rolland.


Tidak masalah untuk saat ini, kedepannya dia masih punya banyak waktu untuk melakukan apapun demi membuat Patricia berpaling padanya.


'Sial..! Pria ini benar-benar tidak mau menepati ucapannya!' Patricia mengeram dalam hati.


"Kalau begitu Kau bisa memulainya dengan mundur dari proyek grup Siloam." Ucap Patricia yang tidak mau membiarkan pria itu terus berada di sisinya.


"Aku sudah bilang, proyek itu--"


"Kau bisa menyerahkan semua proyek di tanganmu kepada orang lain!" Potong Patricia.


"Kau benar-benar tidak mau bertemu lagi denganku?" Tanya Roland menelan air liurnya yang terasa sangat pahit seperti obat yang sulit ditelan.


"Ya," jawab Patricia dengan singkat.


Setelah jawaban Patricia, tidak ada lagi yang berbicara hingga mereka tiba di rumah sakit dan menemui dokter.


"Obati lukanya," perintah Rolland pada dokter yang bertugas.


"Baiklah, silahkan tunggu di luar." Ucap Sang Dokter di ikuti langkah Roland meninggalkan Patricia dan Dokter.

__ADS_1


"Dok, saya tidak terluka, ini hanya make up., Jadi--"


"Saya tahu, Tuan Muda sudah menunggu di ruangan sebelah." Dokter itu tersenyum dan mengantar Patricia meninggalkan ruangan pemeriksaan.


"Suami," Patricia mengukir sebuah senyum indah di wajahnya sembari mendekati suaminya yang duduk di atas kursi roda.


"Ayo pulang," ucap Lewi menarik istrinya ke pangkuannya dan memeluk perempuan itu dengan erat.


"Ya,, aku lelah," Patricia membalas pelukan suaminya dengan erat dan menikmati aroma maskulin suaminya.


Benar-benar nyaman berada di pelukan orang yang tepat.


Sementara Lewi dan Patricia meninggalkan rumah sakit, Rolland yang duduk di kursi tunggu terus berada di sana sampai 2 jam telah berlalu.


"Kenapa dia belum keluar?" Pria itu menjadi sangat cemas.


Luka seperti apa yang sudah dibuat Lewi pada Patricia hingga membuat perempuan itu menjadi sangat lama ditangani oleh dokter?


Rolland berdiri di depan ruangan pemeriksaan dengan gelisah sampai ketika asistennya datang.


"Tuan harus kembali ke kantor. Meeting dengan Tuan Arjuna--"


"Batalkan rapatnya, juga semua jadwalku sampai sore nanti harus dibatalkan." Perintah Rolland tanpa ragu.


"Tapi Tuan, meeting dengan Tuan Arjuna sudah dua kali ditunda, kalau kita membatalkan nya lagi saya takut Tuan Arjuna mungkin-"


"Baiklah, tinggalkan seseorang disini untuk menunggu Patricia." Ucap Rolland segera meninggalkan rumah sakit.


Di harus membangun hubungan yang baik dengan semua orang yang berhubungan dengan grup Azura supaya nantinya dia menjadi lebih mudah untuk menguasai grup Azura.


"Pria itu, apakah dia masih di kantor?" Rolland bertanya ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Tuan Lewi meninggalkan kantor sesaat setelah Tuan dan Nona Patricia meninggalkan kantor." Jawab Sang asisten.


"Kemana dia?" Lagi tanya Rolland.


Menurut beberapa karyawan, Tuan Lewi terlihat sangat pucat, sepertinya penyakitnya kembali kambuh jadi Tuan Lewi juga berada di rumah sakit yang sama dengan Nyonya Patricia.


"Apa?!" Roland sangat terkejut, dia mengepal kuat tangannya karena berada dalam kedilemaan.


"Tuan, kita tidak bisa kembali ke rumah sakit. Tuhan Arjuna adalah salah satu klien penting grup Azura. Tuan Afra pun mengharapkan Tuan membangun hubungan baik dengannya." Asisten kembali memperingatkan Rolland ketika melihat keraguan di wajah Rolland.


Rolland memejamkan matanya 'Benar, yang paling penting saat ini adalah membangun pondasi kuat untuk menghadapai Lewi. Setelah mendapatkan segala milik Lewi, aku yakin Patricia juga akan kudapatkan dengan mudah!'


@Interaksi



Otor sibukk..... Lagi bergabung dengan tim siaga bencana Mars, saat ini ada operasi penangkapan paman omicron yang kabur ke bumi.....🤫 Jika kalian melihatnya tolong hubungi 1¹⁰ ya.....

__ADS_1


__ADS_2