Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C109. Model seperti apa yang dia suka


__ADS_3

"Bagaimana? Enak?" Tanya Patricia setelah menyuapi suaminya dengan masakannya.


"Enak." Jawab Lewi lalu mengambil sendok dan ikut menyuapi istrinya.


Keduanya saling suap hingga merasa kenyang lalu Patricia membereskan kotak bekal.


"Biar aku saja." Kata Lewi mengambil alih pekerjaan Patricia.


Akhirnya Patricia Hanya duduk dengan diam sembari memperhatikan suaminya yang membereskan kotak bekal mereka.


"Tadi di lobi, aku bertemu dengan Rolland. Kau memperkerjakan dia kembali?" Tanya Patricia.


"Apa yang dia lakukan denganmu? Dia tidak macam-macam 'kan?" Tanya Lewi.


Dia akan merasa bersalah pada istrinya kalau sampai pria itu melakukan sesuatu yang mengganggu istrinya.


"Dia tidak menggangguku, aku hanya terkejut kalau suamiku mempekerjakannya kembali." Kata Patricia sembari tersenyum dengan kebesaran hati suaminya.


Memang tepat untuk membawa Roland kembali ke perusahaan mereka jadi di kemudian hari pria itu tidak akan menjadi dendam pada mereka karena sudah menghancurkan hidupnya.

__ADS_1


"Aku menurunkan posisinya ke posisi manager. Beberapa orang juga ku tugaskan untuk mengawasinya, hanya ini yang bisa kulakukan supaya dia tidak mengganggu kita lagi." Ucap Lewi.


"Aku mengerti." Ucap Patricia tersenyum.


"Oya, kemarin dokter memberitahuku Kalau nanti malam kita sudah bisa--"


"Jangan bilang-bilang! Bagaimana kalau ada yang mendengarnya?" Kesal Patricia langsung menoleh ke arah pintu takut takut bila ada yang menguping pembicaraan mereka.


Melihat wajah istrinya yang memerah, Lewi kemudian tersenyum dan memeluk Patricia dengan erat.


"Aku suka warna hitam." Bisiknya semakin membuat wajah Patricia menjadi merah padam namun dia tidak bisa menjauhkan diri dari suaminya karena dipeluk dengan erat.


'Ini memalukan!'


Setelah meninggalkan kantor suaminya, Patricia diantar sopir untuk kembali ke Villa, namun di tengah perjalanan dia mengingat ucapan suaminya "Aku suka warna hitam."


Mengingatnya saja langsung membuat pipih Patricia menjadi merah sembari perempuan itu menghela nafas berusaha menenangkan diri.


Namun, sang supir yang berada didepan menjadi salah paham saat melihat wajah Patricia yang tampak tidak baik.

__ADS_1


"Apakah Nyonya baik-baik saja? Haruskah kita ke rumah sakit? Saya akan menghubungi Tuan." Kata sang supir itu dengan sangat panik meraih ponselnya sebab dia begitu takut kalau sampai dia gagal menjaga Patricia.


Saat ini Patricia sedang mengandung jadi membawa Patricia sama saja dengan membawa dua nyawa yang merupakan milik berharga Lewi!


"Tidak,, tidak perlu. Saya hanya perlu mencari udara segar. Tolong mampir ke pusat perbelanjaan sebentar?" Kata Patricia langsung di-iya kan oleh sang supir.


Dia mengerti bahwa Patricia sudah lama menjadi perempuan dari kalangan atas dan selama beberapa hari ini Patricia terus terkurung di vila, jadi tentulah perempuan itu merasa sesak karena tidak bisa menghabiskan waktunya untuk berbelanja.


Akhirnya mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan, begitu mobil berhenti, mobil lain ikut berhenti. Mobil itu adalah mobil para pengawal yang ditugaskan untuk mengawal istrinya.


Patricia segera turun dari mobil lalu perempuan itu didampingi sang supir memasuki pusat perbelanjaan.


Patricia tidak membuang-buang waktunya dan dia langsung pergi ke toko pakaian wanita.


'Dia suka warna hitam, tapi model seperti apa yang dia suka?' pikir Patricia yang kebingungan melihat begitu banyak piyama dengan motif dan dan potongan yang berbeda-beda.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Seorang pelayan menghampiri Patricia saat melihat Patricia kebingungan.


Patricia menggigit bibir bawahnya lalu memberi kode pada pelayan itu supaya mendekat ke arahnya lalu membisikkan sesuatu.

__ADS_1


Segera pelayan itu tersenyum dan mengangguk lalu mengantar Patricia ke sebuah ruangan privat untuk memilih pakaian.



__ADS_2