
Begitu Patricia dan Lewi memasuki ruangan, Lewi langsung membalikkan kursi rodanya lalu menarik istrinya ke pangkuannya.
"Coba ku lihat," ucap Lewi segera memeriksa wajah istrinya dan tak lupa pula memeriksa kulit kepala istrinya.
Melihat lukanya yang tidak parah namun juga tidak ringan, Lewi akhirnya menangkup dagu Patricia dan memberi tatapan tajam pada istrinya.
"Lihat bukan?! Sudah kubilang menjadi karyawan biasa adalah pilihan yang sangat buruk!" Kata pria itu mengusap pipi Patricia yang kemerahan karena bekas tamparan.
"Maaf," kata Patricia merasa bersalah pada suaminya.
"Jangan minta maaf, ini juga salahku karena lalai menjaga istriku." Lewi mengarahkan kursi rodanya ke sofa lalu berdiri dan mendudukkan Patricia di sofa.
Tok tok tok...
"Ada orang," ucap Patricia merasa kuatir dan segera mendorong suaminya supaya pria itu kembali ke kursi roda.
"Masuk," perintah Lewi pada orang di seberang pintu lalu pintu terbuka memperlihatkan Jun dan seorang perempuan yang memakai pakaian dokter.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya." Perempuan itu menyapa dengan ramah.
"Selamat siang," jawab Patricia yang kebingungan. Mengapa ada dokter?
"Periksa dia," ucap Lewi.
"Baik," setelah menjawab, dokter itu langsung meletakkan tasnya di atas meja lalu melihat wajah Patricia.
Patricia "..."
__ADS_1
Ini hanya tamparan kecil, mengapa harus diperiksa oleh dokter?
Akhirnya Patricia tidak menolak saat dokter mulai memeriksanya.
"Nyonya baik-baik saja, hanya perlu mengompres wajah dengan air dingin." kata dokter itu.
"Kau yakin? Kau belum memeriksa darahnya dan hanya melihat wajahnya lalu kau langsung menyimpulkan?" Tanya Lewi yang ta yakin dengan dokter itu.
Bagaimana mungkin dokter itu mengatakan istrinya baik-baik saja sementara dokter itu tidak memeriksa dengan baik? Hanya melihat wajah istrinya lalu langsung memutuskan!
Patricia "..."
Jun "..."
Dokter "..."
Ini hanya luka luar! Bukannya penyakit mematikan yang diperiksa sampai harus mengambil darah untuk di uji.
Lewi mengerutkan keningnya menatap Patricia "Kau bukan dokter jadi jangan mengelak!"
Lewi lalu menatap dokter "Cepat lakukan pemeriksaan lengkap!" Katanya.
"Baik Tuan." Jawab Sang dokter yang tak mampu membantah Lewi.
Tidak ada ruginya melakukan pemeriksaan, lagi pula dia juga digaji besar untuk hal ini.
Akhirnya Patricia hanya diam lalu membiarkan Dokter memeriksanya dengan akurat.
__ADS_1
Setelah mengambil sampel darah, Dokter menyimpannya ke tasnya lalu menatap Lewi.
"Hasilnya akan keluar dalam 3 hari." Kata Sang dokter.
"Apakah tidak perlu melakukan pemeriksaan lainnya?" Tanya Lewi.
"Saya rasa tidak perlu, Nyonya baik-baik saja." Jawab dokter.
"Bagaimana kau tahu dia baik-baik saja ketika kau belum melakukan pemeriksaan apapun?!" Ucap Lewi memojokkan sang dokter yang jadi bingung harus menjawab apa.
Dokter perempuan itu lalu menoleh pada Patricia untuk meminta pertolongan.
Patricia menghela nafas "Dokter silahkan keluar, saya yang akan mengurus sisanya." Ucap Patricia merasa tidak enak pada sang dokter.
"Baik Nyonya." Jawab dokter itu lalu keluar bersama Jun.
Lewi hendak mencegahnya, tapi Patricia yang memegangnya langsung menghentikannya.
Akhirnya sang dokter dan Jun bisa bernafas lega ketika mereka sudah keluar dari ruangan Lewi.
"Hah.... Lain kali jangan memanggilku!" Ucap dokter itu.
"Lalu siapa lagi yang akan ku panggil? Kau satu-satunya dokter berkualitas yang kukenal." Jawab Jun berjalan bersama dokter ke dalam lift.
"Terima kasih telah mengakui ku, tapi bekerja dengan Tuanmu itu sangat sulit! Oya, aku dengar Tuan Lewi tidak banyak bicara, mengapa tadi dia seperti perempuan yang--"
"Kita sudah menandatangani kontak untuk tidak membahas apa pun yang terjadi hari ini." Jun mengingatkan sang dokter.
__ADS_1
"Hah,, baiklah... Lagi pula aku hanya penasaran saja." Ucap sang dokter.
Jun tidak menjawab apa pun, tentu saja Tuannya seperti itu karena Nyonya mudanya.