
Setelah meninggalkan Patricia yang kembali beristirahat di kamar, Lewi segera bertemu dengan Jun pada salah satu ruangan yang biasa digunakan Lewi bekerja di villa itu.
"Katakan." Perintah Lewi yang sedang berada di dekat jendela melihat langit malam yang yang tampak cerah.
"Dokter itu sudah mengaku bahwa dia diancam oleh Nona Elsa supaya menggugurkan kandungan Nyonya Muda. Sementara informasi dari mata-mata kita bahwa pertemuan Tuan Rolland dengan Nona Elsa ialah pertemuan yang membahas tentang anak yang berada di kandungan Nyonya muda.
"Merekalah yang merencanakan untuk menggugurkan kandungan Nyonya Muda karena mereka berdua berpikir itu adalah anak dari mantan suami Nyonya Muda. Sepertinya Nona Elsa takut bila suatu saat kehamilan Nyonya Muda terbongkar dan mengancam posisinya." Ucap Jun membuat Lewi langsung menggertakan giginya dengan tangan pria itu mengepal kuat.
"Berkas-berkas itu, apa kau sudah mengambilnya?" Tanya Lewi.
Jun menghela nafas mendengar pertanyaan Lewi. Baru beberapa jam yang lalu pria itu memerintahkannya untuk mengambil berkasnya dan saat ini sudah malam, jadi tentulah tidak ada pelayanan untuk mereka.
"Berkas itu baru bisa diambil besok pagi. Saya akan mengurusnya dengan cepat." Ucap Jun.
"Kumpulkan bukti-bukti kejahatan mereka. Pastikan bukti-bukti itu cukup untuk memenjarakan mereka seumur hidup!" Lagi perintah Lewi disanggupi oleh Jun lalu kedua pria itu segera berpisah.
Ketika Lewi kembali ke kamarnya, didapatinya Patricia belum memejamkan matanya perempuan itu langsung menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" Tanya Lewi sembari naik ke atas tempat tidur dan berbaring memeluk istrinya.
Patricia langsung membalikkan badannya dan menatap suaminya "Jadi apa informasi yang kau dapat? Siapa yang sudah merencanakan kejahatan untuk keluarga kecil kita?" Tanya Patricia.
"Bukankah aku sudah bilang kalau kau tidak boleh berpikir terlalu keras, itu bisa membahayakan bayi kita." Ucap Lewi mencubit pelan pipi Patricia.
"Justru kalau kau tidak mengatakannya padaku aku akan semakin kepikiran." Ucap Patricia.
"Baiklah," Lewi menghela nafas dengan berat. Dia tidak sanggup mengatakan kalau orang yang akan mencelakai mereka ternyata adalah adik kandung Patricia.
"Dua orang? Orang terdekat? Apakah sala satunya adalah Rolland?" Tanya Patricia menahan nafasnya.
Kalau sampai itu benar maka dia benar-benar bodoh sudah mempercayai Rolland bahwa pria itu mengenal seorang dokter yang bisa menolongnya!
"Benar, dia sengaja melakukannya lalu berpura-pura untuk menolongmu." Ucap Lewi mengejutkan Patricia.
Jadi benar... Orang itu benar-benar licik!
__ADS_1
"Lalu, siapa orang yang satunya?" Tanya Patricia dengan jantung berdegup kencang.
"Yang satunya lagi, dia adalah keluargamu." Jawab Lewi.
"Apa?" Patricia langsung meneteskan air matanya ketika mendengar kata 'keluargamu'.
Nafas perempuan itu tersengal hingga membuat Lewi menjadi panik lalu memeluk perempuan itu dengan erat.
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa mereka Setega itu padaku?" Patricia mulai menangis memikirkan keluarganya.
"Tidak masalah kalau mereka mengambil seluruh warisan yang ditinggalkan oleh orang tuaku, tidak masalah kalau mereka mengusirku, tidak masalah kalau mereka tidak menganggap ku lagi, tapi bagaimana bisa setelah mereka membuangku mereka masih mengikutiku untuk melakukan kejahatan terhadapku? Apa salahku? Hiks... Hiks..." Patricia mengeratkan pelukannya pada tubuh Lewi dan menangis dengan keras.
@Interaksi
Ok.... saran tidak diterima. Otor udah berdiskusi sama patricia dan Lewi, mereka malah ketawa dan berkata 'Ini urusan rumah tangga kami, ngapain rakyat tingkat rendah ikut campur..?' ðŸ¤
__ADS_1