Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C41. Terlalu rendah!


__ADS_3

Kantor.


"Bu, ini adalah rancangan anggaran yang ditawarkan grup Siloam, sementara schedule kegiatannya akan dibicarakan lagi setelah kita menyetujui anggaran yang mereka tawarkan." Salah seorang bawahan Patricia membawa dokumen pada Patricia yang merupakan dokumen kerjasama dengan grup Siloam.


"Baiklah, kau boleh pergi." Kata Patricia mengambil dokumen itu lalu membukanya untuk diperiksa.


"Masih ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan." Perempuan itu tetap tinggal di hadapan Patricia membuat Patricia mengangkat wajah menatap nya.


"Ada apa?" Tanya Patricia dengan suara yang datar, dia tidak suka seseorang berbasa-basi dalam urusan pekerjaan.


Perempuan itu seharusnya mengatakannya saja tadi ketika dia membawa laporan, tidak perlu mengulur waktu seperti ini.


"Itu, wakil CEO baru saja menghubungi saya dan mengatakan akan mengambil alih tugas saya, dia yang akan menangani proyek ini bersama Ibu Patricia."


"Apa?" Patricia mengeryit, bagaimana bisa dia membuat wakil CEO menjadi bawahannya?


"Ya, katanya jika ada hal-hal yang perlu dibahas lagi mengenai proyek ini Ibu Patricia bisa mencarinya." Lagi kata perempuan itu.


"He, aku yang bertanggung jawab penuh untuk proyek ini, jadi aku tidak mengizinkan perubahan apa pun! Kau boleh keluar."kata Patricia.


"Tapi,,"


"Kau masih ingin membantah?!" Patricia memberi tatapan tajam pada perempuan di depannya.


Ucapan Patricia membuat perempuan yang berbicara dengan Patricia hanya bisa menelan air liurnya dan keluar dari sana.


Dia sebenarnya sangat senang bisa masuk ke kantor CEO utama grup Azura, tapi tak menyangkah aurah di tempat itu benar-benar berbeda.


Bahkan Patricia yang bekerja di sana juga memiliki ketegasan yang sama dengan CEO mereka.


"Astaga, Apa yang harus kulakukan sekarang?" Perempuan itu kebingungan, kalau dia pergi menemui wakil CEO untuk mengatakan penolakan Patricia maka dia pasti akan terkena marah. Tapi kalau dia tidak pergi,,, ahh, jadi bawahan benar-benar tidak menyenangkan! Semuanya serba salah!


Lewi memperhatikan Patricia yang baru saja berbicara dengan bawahannya, dia tersenyum dengan sikap istrinya.


"Kau benar-benar menantang Wakil CEO?" Tiba-tiba kata pria itu membuat Patricia mengangkat wajahnya dan menatap Lewi.


"Apakh tidak boleh? Saya tidak suka orang-orang yang bertindak sembarangan!" Jawab Patricia dengan senyum tipisnya lalu perempuan itu kembali fokus pada pekerjaannya.


Tak berapa lama mereka kembali terdiam, tiba-tiba telepon di meja kerja Patricia berbunyi.


"Ada apa Jun?" Tanyanya.


"Wakil CEO berada disini untuk menemui Nyonya Muda." Jawab Jun.


"Suruh dia masuk." Perintah Patricia.

__ADS_1


Setelah menutup teleponnya, tak berapa lama Rolland memasuki ruangan mereka.


"Ada apa Tuan?" Tanya Patricia sembari berdiri.


Rolland melihat ke arah Lewi yang sedang tertunduk mengerjakan dokumen, pria itu terlihat seperti tidak peduli dengan kedatangannya untuk menemui Patricia.


'Apakah dia sudah membaca dokumen yang dikirimkan untuknya?' Rolland bertanya-tanya dalam hatinya lalu dia menatap Patricia yang terlihat baik-baik saja.


'Sepertinya belum sempat.' gumam Rolland menghela nafas.


"Dapatkah kita berbicara di luar?" Tanya Rolland.


"Jika ini tentang kerjasama dengan grup Siloam, maka saya katakan pada Tuan kalau saya tidak akan merubah pendirian saya. Saya tidak mungkin membuat wakil CEO grup Azura menjadi bawahan saya. Tolong mengerti." Ucap Patricia.


Rolland mengerutkan keningnya, sepertinya perempuan di depannya benar-benar tidak mau berhubungan dengannya.


'Entah apa yang sudah dikatakan Lewi untuk mengancam mu, tapi aku tidak akan berhenti dengan mudah.' gumam Rolland.


"Aku rasa kau salah paham, aku bukan untuk memohon supaya aku menjadi salah satu bagian dari proyek itu. Namun, aku kemari karena ingin memberitahumu bahwa proyek itu ada hubungannya dengan proyek yang kujalankan, jadi mau tidak mau kau harus bekerja sama denganku. Satu hal lagi, satu jam lagi aku menunggumu di ruang meeting untuk membahas hal ini." Kata Rolland lalu pria itu meninggalkan ruangan Patricia tanpa menunggu reaksi Patricia.


Patricia memandangi pintu yang tertutup lalu dia segera duduk dengan kesal.


'Apa yang diinginkan pria itu?!" Geramnya dalam hati menampakan wajah kesalnya.


Tidak masalah bekerjasama dengan pria itu seandainya pria itu tidak pernah mengatakan maksudnya yang begitu buruk, tapi sekarang, bahkan berada di ruangan yang sama dengan pria itu saja sudah membuat Patricia menjadi muak, apalagi harus menangani proyek yang sama dengannya?


"Bukan apa-apa, ini hanya masalah pekerjaan." Jawab Patricia.


"Jadi kau akan menemuinya?" Suara Lewi sudah terdengar mengandung kecemburuan jadi Patricia memejamkan matanya lalu menghela nafas.


"Bukankah kita sudah sepakat kalau di kantor kita adalah rekan kerja. Jadi tolong, biarkan aku melakukan pekerjaanku dengan baik." Kata Patricia.


Dia bukannya mau membuat suaminya cemburu, tapi dia hanya ingin bekerja secara profesional mengesampingkan masalah pribadinya.


"Baiklah, tapi kalau kau membutuhkan bantuan ku jangan ragu mengatakan kepada suamimu." Kata Lewi lalu pria itu kembali fokus bekerja.


Kepercayaan...


Kepercayaan...


Lewi berusaha menanamkan 1 kata itu di dalam hatinya namun ketika Patricia berdiri untuk pergi meeting bersama dengan Roland, hatinya menjadi tidak tenang.


Pria itu segera berdiri meninggalkan kursi rodanya dan berjalan cepat memeluk Patricia yang hendak membuka pintu.


Patricia menghela nafas, suaminya kembali kumat!

__ADS_1


"Ada apa?" Patricia bertanya sembari berbalik menatap suaminya.


"Hah,, bisakah kau meninggalkan proyek itu dan fokus saja menjadi sekretaris ku? Aku merasa--"


"Pria nakal! Tidak bisakah kau menahan dirimu? Kita ada di kantor! Bagaimana kalau ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam sini dan melihatmu berdiri seperti ini, terutama memelukku begini?!" Geram Patricia.


"Aku tidak perduli, aku hanya perduli pada istriku yang akan pergi menemui saingan cintaku." Kata Lewi segera memeluk Patricia dengan erat seolah dia tidak mau membiarkan Patricia keluar dari pintu ruangannya untuk menemui Roland.


"Ha ha ha..... Kau bodoh! Bagaimana bisa pria seperti itu layak disebut sebagai saingan cintamu? Apakah kau sudah menganggap rendah dirimu?!" Ucap Patricia mengalirkan rasa hangat di dalam hati lebih lalu pria itu melonggarkan pelukannya dan menatap Patricia.


"Istriku benar, pria itu tidak layak menjadi sainganku! Terlalu rendah!" Ucap Lewi mencium bibir Patricia dengan kuat.


Benar,, dia harus percaya.


Setelah mencium Patricia agak lama, Lewi baru membiarkan perempuan itu meninggalkan ruangan.


'Dasar suamiku..!' Patricia bergumam sembari tersenyum memasuki lift yang akan mengantarnya ke ruang meeting.


Ketika dia tiba di ruang meeting didapatinya Rolland sudah duduk di sana dengan pria itu sedang memegang dokumen sembari membacanya.


"Kau sudah datang, duduklah." Rolland berkata sembari tersenyum tipis ke arah Patricia.


Namun ketika Patricia sudah duduk dan dia memperhatikan bibir Patricia yang sedikit bengkak dan kemerahan, hatinya menjadi tidak tenang.


Pria itu...


"Ada apa?" Tanya Patricia saat menyadari tatapan Rolland yang terpaku pada bibirnya.


"Apakah kau sakit?" Tanya Rolland.


"Maaf, Saya disini untuk membahas pekerjaan dengan Tuan, bukannya membahas masalah kesehatan saya." Kata Patricia dengan suara datar.


"Ha ha ha..." Tawa Rolland membuat Patricia tidak senang.


"Mengapa Tuan tertawa?" Tanyanya.


"Kau tidak perlu berpikir kita adalah bawahan dan atasan. Aku ingin bekerja dengan santai." Ucap Rolland.


"Tapi saya tidak bisa. Silahkan katakan, bagian mana yang harus kita bahas?"


Melihat sikap perempuan di depannya, hati Rolland menjadi semakin tidak tenang, bagaimana bisa perempuan itu tetap tenang bersama dengan Lewi yang terus menyiksanya, sementara ketika permepuan itu bersama dengannya yang memiliki niat baik untuknya, perempuan itu malah berharap pertemuan mereka segera berakhir?


Tapi dia tidak akan menyerah sampai segala milik Lewi menjadi miliknya!


@Interaksi

__ADS_1



Otor pengen banget nunjukin visualnya, tapi masalahnya otor kepengen pembaca bisa bebas berimajinasi tentang rupa pemerannya.... takutnya otor tampilin wajah otor di visual cowoknya eh,, kalian malah demo..! 😂


__ADS_2