
Bab 48 udh diperbaiki ya... silahkan baca ulang kalau sebelumnya kalian bacanya sama dengan baba 47
Setelah berhasil menenangkan emosinya menghadapi para perempuan yang terus mengejeknya di ruang kerjanya, Patricia akhirnya bisa bernafas lega ketika dia sudah berada di kantin untuk makan siang.
Dia sengaja mengambil tempat yang terpojokan supaya tidak banyak menarik perhatian.
Baru saja dia akan mencicipi sup di depannya ketika ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan telah masuk.
Nomor ponselnya hanya diketahui oleh suaminya dan Jun, jadi dia sudah tahu pesan dari siapa yang masuk.
(Makan siang di kantorku!) Pesan dari Lewi.
'Hah,,, suamiku ini benar-benar....' Patricia berusaha menahan emosinya selalu menggunakan kedua jari jempolnya menekan layar ponselnya.
(Aku sudah makan di kantin. Makan malam nanti biar aku memasak untukmu ❤️) balas Patricia lalu menyisikan ponsel itu ke sampingnya dan kembali fokus untuk menikmati makanannya.
Drrrrtttt.....
Belum sesuap ketika sebuah pesan kembali masuk.
'Mengapa dia membalas dengan sangat cepat?'
Patricia mengambil ponselnya dan kembali membacanya.
(Baiklah, setelah hidangan darimu, aku akan membalasnya dengan sosis ditambah mayonaise.)
Begitu membaca pesannya, wajah Patricia menjadi merah padam dan tanpa sadar dia melirik sekitarnya untuk memastikan Kalau tidak ada seorangpun yang memperhatikannya.
Suaminya benar-benar tidak punya rasa malu!
Patricia bernafas lega ketika dia melihat semua orang sedang fokus pada makanan mereka masing-masing jadi dia mengabaikan ponselnya dan mengambil sendoknya.
"Sup ini tidak seenak sup di grup Siloam..." Komentar Patricia yang dulunya di grup Siloam dia selalu mengutamakan kesejahteraan karyawan.
"Benarkah?" Sebuah suara yang tak diinginkan Patricia tiba-tiba saja menjawab ucapan Patricia.
Begitu mengangkat wajahnya dan melihat orang yang datang, Patricia langsung mengatup giginya.
Selera makannya langsung menghilang!
"Sepertinya aku perlu meninjau ulang makanan di sini karena kau bilang makanan di grup Siloam jauh lebih enak daripada makanan di sini." Rolland kembali berbicara sembari duduk di depan Patricia meletakkan makanannya dan memandang Patricia yang juga memandangnya.
"Bukankah kita sudah sepakat kalau kau tidak akan pernah mendekatiku lagi?" Suara Patricia berusaha di tekan.
__ADS_1
"Sepakat? Aku tidak pernah bilang aku sepakat, aku hanya bilang aku akan mengusahakannya dan kebetulan sekali aku juga ingin makan di kantin dan melihatmu sendirian begini, aku rasa tidak baik bagi seorang perempuan cantik makan sendirian." Ucap Rolland dengan senyum terukir di wajahnya seolah pria itu sama sekali tidak merasa bersalah dengan tatapan aneh yang sudah dilontarkan orang-orang pada mereka.
'Pria ini... Aku pikir dia sudah kapok mendekatiku setelah melihat luka luka di tubuhku, ternyata aku sudah salah sangka!' Patricia menggerutu dalam hati nya lalu dia mengambil ponsel dan bakinya, ia berdiri meninggalkan Rolland tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Rolland memperhatikan punggung Patricia yang menjauh, perempuan itu terlihat sangat dingin. Menyadarinya, mata Rolland langsung meredup layaknya pria pata hati.
Rolland yang masih melihat Patricia tiba-tiba terhalang oleh beberapa perempuan yang mendekatinya.
"Tuan Rolland, apakah perempuan itu sudah mengatakan sesuatu yang buruk? Biarkan kami membantu Tuan menyelesaikannya." Sala satu perempuan bertanya dengan kuwatir.
"Benar, kalau Tuan Rolland mau kami bisa membuat perempuan itu jerah."
"Ya, perempuan sepertinya tidak pantas untuk Tuan Rolland pikirkan."
Para perempuan itu terus mengatakan hal-hal yang membuat Rolland menjadi kesal.
"Tidak perlu, silahkan kembali maka siang." Kata Rolland segera berdiri meninggalkan perempuan yang terlihat kecewa.
"Sial...! Apa yang sudah dikatakan janda itu hingga suasana hati Tuan Rolland menjadi sangat buruk?" Para perempuan mulai mengutuki Patricia dan banyak perempuan di sana menjadi sangat marah serta menyimpan dendam pada Patricia.
Sementara Patricia, perempuan itu meninggalkan kantin dan berjalan ke arah lift untuk kembali bekerja.
Drrt....
"Halo?" Patricia menjawab sembari memperhatikan tempatnya, jangan-jangan ada orang yang menguping pembicaraan nya.
"Datang ke kantorku sekarang!" Ucap pria dari seberang telepon.
"Kenapa? Bukankah tadi kita sudah sepakat kalau--"
"Kalau tidak datang, aku yang akan menghampirimu ke situ!" Kata Lewi dengan nada mengancam lalu mematikan panggilan itu secara sepihak.
Patricia memejamkan matanya dan memijat keningnya.
Hidup di dunia benar-benar tidak gampang!
Pada akhirnya, Patricia tidak punya pilihan lain selain pergi ke ruangan Lewi.
"Kemarilah," suaminya langsung menyambutnya dengan melambaikan tangan.
"Ada apa?!" Tanya Patricia dengan kesal meski dia dengan manja langsung duduk dipangkuan suaminya dan memeluk suaminya.
"Aku menyuruhmu kemari bukan untuk memelukku, tapi untuk menyuruh mu makan." Kata Lewi langsung membuat Patricia melihat kearah meja.
__ADS_1
Ada banyak makanan diatas meja, cukup untuk 3 orang.
"Terima kasih!" Patricia langsung turun dari pangkuan Dewi dan duduk di karpet menikmati makanan yang ada di depannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Patricia ketika dia sudah dimasukkan sepotong sayur ke dalam mulutnya dan mengingat kalau dia lupa menanyai suaminya.
"Sudah," Lewi berkata sembari mengusap lembut kepala Patricia.
"Baguslah..." Patricia kembali menikmati makanannya, dia benar-benar terharu dengan suaminya.
"Oya, Bagaimana kau tahu kalau aku belum makan?" Tiba-tiba tanya Patricia.
"Aku CEO, aku tahu segala sesuatu yang terjadi dalam perusahaan ku." Jawab Lewi.
"Benar juga." Patricia mengangguk, dia sudah menduga Kalau pria itu pasti akan terus mengawasinya dari CCTV, bahkan CCTV yang dipasang di departemen mereka pastilah diawasi Lewi.
Entah kenapa dia bukannya merasa tidak dipercaya oleh suaminya tapi dia merasa hangat karena suaminya terus memperhatikannya.
"Sering-seringlah melihat CCTV di ruanganmu. Kau mengerti?!" Ucap Lewi.
"Huh,, ini Tidak adil! Bagaimana bisa kau terus memperhatikanku sementara aku tidak bisa memperhatikanmu?!" Patricia menatap suaminya sembari mengerutkan keningnya dengan mulut terus mengunyah.
"Kalau kau merasa tidak adil, kau bisa kembali menjadi sekretarisku." Ucap Lewi.
"Tidak perlu." Jawab Patricia dengan kesal lalu dia kembali menikmati makanannya.
Setelah makan siang di ruang kerja suaminya, Patricia mendaratkan sebuah ciuman bibir suaminya lalu meninggalkan pria itu untuk kembali bekerja.
Ketika dia berada di dalam lift dan melihat CCTV pada sudut ruangan itu, Patricia kembali teringat akan ucapan suaminya jadi dia melihat ke CCTV itu dan tersenyum manis sembari memonyongkan bibirnya ke arah CCTV seolah-olah sedang mencium seseorang.
Jun yang berada diruang CCTV untuk mengatur beberapa kamera CCTV supaya tidak diawasi dari sana langsung terpaku di tempatnya.
Nyonya benar-benar......
2 detik terpaku, Jun langsung melihat orang-orang yang bekerja di sana dan semuanya sedang melihat ke arah layar yang menampilkan wajah Patricia.
"Matikan layar itu!" Perintah Jun mengejutkan semua orang lalu kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Perempuan yang sedang hamil benar-benar suka membuat kegaduhan!
@Interaksi
__ADS_1
Iya sama-sama..