Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C97. Apa maksudnya itu?


__ADS_3

Akhirnya Lewi berhasil membantu Patricia memakai pakaian tanpa berbuat macam-macam pada perempuan itu kecuali beberapa ciuman dan kecupan di bibir dan bagian tubuh Patricia yang lain.


Keduanya kemudian keluar dari kamar lalu mendapati Meilin sedang menonton TV di luar.


"Ayo sarapan." Langsung kata Patricia pada perempuan itu membuat Meilin langsung mengalihkan perhatiannya pada Patricia.


"Aku sudah selesai sarapan." Jawab Meilin.


"Lalu kau tidak ke kantor?" Tanya Patricia yang begitu yakin kalau perempuan itu sebenarnya memiliki setumpuk pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan karena perempuan itu baru saja kembali dari luar negeri.


"Tidak, asisten ku sudah menangani semuanya jadi hari ini aku akan menghabiskan waktuku denganmu." Kata Meilin sembari tersenyum membuat Patricia mengangguk lalu melangkah ke ruang makan.


Setelah keduanya menghilang di balik dinding, Meilin langsung mematikan TVnya lalu perempuan itu berlari ke arah dinding untuk mendengarkan percakapan dari ruang makan.


"Meilin memasak semua ini?" Tanya Patricia sembari duduk disalah satu kursi dengan mata berkaca-kaca melihat makanan diatas meja.


Namun, pertanyaan Patricia membuat Lewi merasa kesal sembari duduk di kursinya.


"Aku yang memasaknya." Katanya.

__ADS_1


Entah kenapa dia kesal, mungkin karena pagi ini dia tidak mendapat jatah dari istrinya hingga kekesalannya di bawah sampai ke ruang makan.


Namun begitu, dia masih tetap berusaha mengontrol diri supaya tidak berkata kasar dan meninggikan suaranya di depan istrinya yang sedang hamil.


"Wahh, suamiku benar-benar keren," Patricia sangat bersemangat mengambil dan segera mencicipi masakan suaminya.


Melihat istrinya yang begitu bersemangat, kekesalan Lewi pun sirna dan dia kini fokus untuk menunggu penilaian istrinya atas masakannya.


"Wohhh,, enak!" Kata Patricia sembari mengambil sesendok lagi dan meletakkannya ke mulutnya.


"Baguslah." Lewi merasa percaya diri dengan masakannya.


Sementara di balik dinding, Meilin yang mendengarkan kedua orang itu akhirnya merasa lega dalam hati.


"Apa yang Nona lakukan?!" Tanya Jun dengan suara ditekan.


"Hah,, astaga. Kenapa kau muncul tiba-tiba seperti itu? Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung karena dikagetkan olehmu dan akhirnya masuk ke rumah sakit lalu berakhir di pemakaman?" Gerutu Meilin mengelus dadanya yang hampir meledak.


"Kalau itu terjadi saya akan menghadiahkan Nona sekuntum bunga di batu nisan Nona." Kata Jun membuat Meilin langsung melototkan matanya dan terbatuk batuk tak berdaya.

__ADS_1


Pria kejam..!


"Tidak perlu memperlihatkan ekspresi seperti itu dan cukup jelaskan mengapa Nona berada disini menguping pembicaraan Tuan Muda dengan Nyonya Muda saya?" Segera tanya Jun mengabaikan sorot mata yang diberikan oleh Meilin.


"He! Aku ini teman majikanmu dan kau hanya seorang pelayan, jadi tidak perlu bersikap seperti itu padaku! Dasar menyebalkan!" Geram Meilin segera berlalu meninggalkan Jun dengan perasaan kesal.


Beraninya pria itu mengatakan kalau dia ingin dirinya cepat mati lalu membawa sekuntum bunga ke pemakamannya?!


Apa maksudnya itu?!


Orang gila pun masih tahu batasan untuk bercanda, tapi orang itu?


'Sepertinya dia tidak masuk ke dalam kategori orang gila maupun orang waras. Apa dia orang mati?' Gerutu Meilin dalam hati lalu memasuki kamarnya dan mengunci pintunya dengan kesal.


Sementara Jun yang memperhatikan Meilin, pria itu menyipitkan matanya memandangi pintu kamar Meilin yang telah tertutup 'Sepertinya aku harus mengawasinya dengan ketat, dia sangat mencurigakan!'


Jun paling benci pada siapa pun yang memiliki gelagat mencurigakan untuk melukai Tuannya!


@Interaksi

__ADS_1



Nah ini bener, hal-hal di dunia halu jangan di bawa ke dunia nyata. Tapi yang komen ini benar2 cerdik, pura2 bela otor demi meletakkan wajahnya di novel otor ya...? Dasar gak tulus!


__ADS_2