
Patricia hampir saja tertidur ketika dia merasakan seseorang memegang tangannya dan terasa jari-jari orang yang memegang tangannya seperti ingin menyentuh luka di tangannya.
"Bahkan tidak tahu merawat diri sendiri," tiba-tiba sebuah suara yang pelan namun mengandung kekesalan terdengar disamping Patricia.
Patricia menyatukan gigi-giginya ia ingin sekali membuka matanya dan melompat ke pelukan pria itu dan menggodanya, tapi kemudian dia merasakan tangan pria itu menjauh darinya dan suara kursi roda yang sangat pelan terdengar semakin menjauh.
Tetapi setelah diam beberapa saat lagi, terdengar suara kursi roda semakin mendekat lalu Lewi kembali memegang tangannya dan tiba-tiba sentuhan yang dingin dan lembut terasa di kulitnya.
Merasakan kelembutan Lewi, Patricia hampir saja menangis.
'Dasar pria gengsian ini! Membuatku kesal saja!' gumam Patricia dengan hati bergejolak tetapi dia berusaha menahannya dan membiarkan pria itu mengobati luka lukanya sampai selesai.
Setelah luka-luka itu selesai diobati, Lewi segera keluar dari kamar dengan kursi roda yang dijalankan dengan sangat pelan agar tidak menganggu perempuan yang sedang tertidur.
Baru saja pintu tertutup, Patricia langsung bangun dan menatap pintu lalu melihat lukanya yang telah selesai diobati.
"Kenapa dia mengaduk-ngaduk perasaanku seperti ini, kalau begini terus, bagaimana bisa aku menjauh darinya?" Patricia hampir saja menangis.
Tadinya dia berpikir untuk mengakhiri pernikahan itu supaya Lewi tidak perlu dibuat malu atas lahirnya anak haram dari perutnya, tapi sekarang...
"Aku tidak bisa menggugurkan anak ini, tapi aku juga merasa tidak bisa meninggalkan pria itu. Bagaimana nanti kalau dia tahu?" Akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan dalam menetes di pipinya.
Sungguh pilihan yang sulit menurutnya.
Sementara di ruang sebelah, tepat di ruang kerja Lewi, Hendrik dan Jun duduk bersama di ruangan itu.
Ketika Lewi memasuki ruangan, Hendrik yang semula duduk dengan tenang langsung menjadi gugup. Dia sangat mengenal Lewi, pria itu tidak akan pernah mengajaknya berbicara kecuali ada sesuatu yang sangat penting.
"Katakan," suara Lewi dipenuhi tekanan saat pria itu memberi perintah pada Jun.
"Baik Tuan," jawab Jun lalu dia segera melirik Hendrik.
"Tuan muda, Kami ingin Tuan Muda menceritakan apa yang sudah Tuan Muda lakukan sejak siang tadi bersama Nyonya Muda." Ucap Jun menatap Hendrik.
'Sial... Sudah kuduga kalau kakak pertama akan mengetahuinya dan pasti pria itu sedang cemburu lagi.' Hendrik menggerutu dalam hati lalu dia menatap Lewi.
"Saat kakak ipar makan siang tadi, dia berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah. Jadi aku membawanya ke rumah sakit untuk berobat. Setelah itu aku mengantarnya ke jalan xx lalu berpisah, Sampai sekarang aku belum bertemu dengan kakak ipar." Jawab Hendrik yang tidak mau mengatakan hasil pemeriksaan di rumah sakit.
__ADS_1
"Itu saja? Lalu apa kata dokter mengenai kesehatan Nyonya Muda?" Tanya Jun mewakili Lewi.
"Aku tidak tahu, kakak ipar memaksa untuk masuk sendiri, jadi aku hanya menunggu di luar dan tidak berani bertanya karena kakak ipar sepertinya tidak mau memberitahuku." Jawab Hendrik.
"Lalu, mengapa ketika Nyonya Muda sedang sakit Tuan Hendrik tidak langsung menghubungi Tuan Muda dan malah langsung memutuskan untuk mengantar Nyonya Muda secara pribadi ke dokter?" Lagi tanya Jun.
Hendrik mengerjapkan matanya, dia hanya pria berumur 20 tahun yang menghabiskan waktunya di luar negeri berkuliah sambil mengurus perusahaan kecil milik keluarga Azura disana.
Dia pulang hanya untuk bertemu dengan kakeknya untuk melepas rindu, mengapa sekarang dia malah terlihat seperti orang ketiga dalam hubungan pernikahan kakak pertamanya?
"Uh, Kak, kakak tidak berpikir kalau aku akan merebut kakak ipar bukan?" Hendrik tidak lagi menatap Jun, dia langsung melihat ke arah Kakak pertamanya yang terlihat dingin di atas kursi roda.
"Menurutmu?" 1 kata dari Lewi, pria itu benar-benar irit berbicara!
"Kalau begitu aku akan menjelaskan, tadinya aku ingin menelpon kakak karena aku sudah menyarankan nya pada kakak ipar tapi kakak ipar mengatakan bahwa dia tidak mau mengganggu kakak bekerja jadi,,"
"Jadi Tuan Muda ketiga menyalahkan Tuan Muda Pertama karena terlalu sibuk bekerja dan tidak bisa mengurus istrinya?" Jun mewakili Lewi memotong ucapan Hendrik.
Hendrik "..."
Tapi itu tidak penting, yang paling penting sekarang adalah dia sudah dituduh secara tidak adil!
"Kakak!" Teriaknya.
"Jangan berteriak!" Jun kembali memperingatkan Hendrik ketika pria itu sudah meninggikan suaranya di depan Lewi.
Hendrik "..."
Jun, apakah otak pria itu tersambung dengan otak Lewi? Mengapa dia terus mewakili Lewi berbicara sampai terus memojokkannya?
Hendrik menutup rapat giginya, tidak bisa,,, kakaknya yang seharusnya menegurnya,, mengapa dia merasa direndahkan karena asisten Jun lah yang terus berbicara dengannya!
Namun, dia tidak bisa melawan!
"Aku benar-benar tidak pernah menyalahkan kakak karena kakak sibuk bekerja, hanya saja tadi adalah permintaan kakak ipar yang,,"
"Jadi setelah gagal menyalakan Tuan Muda sekarang Tuan Muda Ketiga malah menyalahkan Nyonya muda?" Jun kembali memotong ucapan Hendrik membuat Hendrik menjadi sangat marah.
__ADS_1
Pria benar-benar sialan...!
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa! Ini hanya kenyataan yang kuceritakan kembali! Mengapa kalian tidak percaya? Mengapa kalian menyalakan ku seperti ini, kalau kalian tidak akan percaya dengan jawabanku sebaiknya tidak perlu bertanya. Sekarang juga Aku akan kembali ke luar negeri!" Kata Hendrik dengan kekesalannya lalu pria muda itu segera berjalan meninggalkan ruang kerja Lewi dan mengepak barang-barangnya untuk langsung terbang ke luar negeri.
"Tuan Muda, saya rasa Tuan Muda ketiga tidak salah,,"
"Dia tidak salah dan sekarang kau mau menyalahkanku?!" Lewi berkata dengan kesal lalu pria itu berjalan ke arah meja kerjanya.
Jun "..."
Dia belum selesai berbicara...! Mengapa langsung menyimpulkan?!
"Sekarang juga, periksa apa yang dilakukan perempuan itu di rumah sakit!" Lagi kata Lewi.
"Baik Tuan." Jawab Jun lalu pria itu segera keluar dari ruang kerja Lewi.
Jun duduk di balkon lantai 2 sembari menyalakan laptop nya dan ponselnya untuk mencari tahu apa yang terjadi di rumah sakit.
Dia belum selesai mengerjakannya ketika Hendrik tiba-tiba menghampirinya membawa sebuah koper berukuran sedang.
"Tuan Muda," Jun berkata dengan sopan sembari berdiri dan membungkuk pada Hendrik "Mohon Tuan Muda jangan mengambil hati apa yang terjadi di ruang kerja Tuan Muda Pertama. Tuan Muda Pertama hanya takut bila istrinya sampai direbut oleh,,"
"Tuan dan asistennya memang sama, sama-sama suka menyalahkan orang lain!" Giliran Hendrik lah yang memotong ucapan Junlalu pria itu melemparkan sesuatu ke atas meja di depan Jun.
"Berikan itu pada Kakakku!" Katanya lalu berbalik menarik kopernya meninggalkan Jun yang memandanginya.
"Tidak perlu merasa bersalah, tidak perlu merasa bersalah." Jun berbicara pada dirinya sendiri lalu dia meraih surat yang diletakkan di atas meja.
Setelah kepergian Hendrik, Jun kembali melakukan pelacakan nya dan pria itu dibuat tak bisa berkata apapun ketika melihat rekaman CCTV menunjukkan Patricia keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Apa ini??" Jun menelan air liurnya lalu dia segera menghubungi seseorang.
Jawaban seseorang dari seberang telepon hampir saja membuat Jun mati lemas kala tangannya tak sanggup lagi menahan berat ponsel.
Ponsel itu terlepas dari tangan Jun dan jatuh ke lantai.
Berita ini,,, mengapa begitu mengerikan?!
__ADS_1