Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C30. Dia adalah anakku!


__ADS_3

Karena seharian terlalu lelah tanpa beristirahat, maka malam itu Patricia tidur seperti mayat yang tidak bergerak.


Pagi hari pada pukul 7 ia mengerjapkan matanya dan terasa sakit di seluruh badannya. Dadanya terasa sesak seperti ditindih oleh sesuatu.


"Mmm," Patricia membuka matanya dan terkejut melihat lengan Lewi berada di dadanya, pria itu memeluknya dengan sangat erat dan kepala Lewi tepat berada di samping telinganya dan dia bisa merasakan nafas pria itu sangat teratur.


"Apa yang kau lakukan?!" Patricia mengulurkan tangannya melepas lengan pria yang berada di atas dadanya lalu memindahkannya ke pinggangnya.


"Kau sudah bangun?" Lewi akhirnya tersadar dia mendaratkan sebuah ciuman di pipi pipi Patria lalu menarik perempuan itu semakin mendekat pada tubuhnya.


"Sedang apa kau?! Lepas!" Patricia masih kesal, dia masih ingat kejadian kemarin malam.


Pria itu sedang mencari seorang perempuan yang mengandung anaknya!


Dan di dalam hatinya, dia merasa sangat marah, pria itu memiliki seorang perempuan yang mengandung anaknya tapi malah sekarang tidur disampingnya sembari memeluknya dan baru saja memberinya sebuah ciuman!


"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Suara lembut layaknya gulali yang langsung mencair jika terkena air terdengar di telinga Patricia.


"Apa hubungannya denganmu?! Lepas!!" Patricia meronta-ronta dengan kaki dan tangannya supaya bisa terbebas dari Lewi.


Namun perempuan itu terkejut ketika Lewi menggunakan kakinya mendiamkan kaki Patricia.


"Ka,, kakimu!" Patricia berusaha terduduk melihat kaki pria itu, namun dia dicegah oleh Lewi dan cengkraman tangan dan kaki pria itu menjadi lebih kuat di tubuhnya.


"Diamlah, hari ini hari Minggu dan aku ingin tinggal di rumah bersamamu." Suara Lewi membuat Patricia ternganga lalu perempuan itu memutar tubuhnya menghadap Lewi menatap mata Lewi.


"Apa katamu?" Tanya Patricia tak percaya.


Bukankah pria itu baru saja menemukan perempuan yang mengandung anaknya? Mengapa sekarang pria itu mengatakan akan menghabiskan waktu bersamanya?


"Hm,, sesuai yang kau dengar," ucap Lewi menunduk memberikan sebuah ciuman lembut di bibir Patricia. Ciuman itu singkat sampai Patricia belum tersadar dari keterkejutannya saat ciuman Itu sudah berlalu.


'Apa ini mimpi?' Patricia memejamkan matanya lalu menghitung sampai 10.


'1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,' ucapnya dalam hati lalu membuka matanya dan melihat Lewi masih menatapnya.


"Ini bukan mimpi?!" Patricia merasa kepalanya akan pecah...


"Kau pikir ini mimpi?" Lewi kembali menundukkan kepalanya dan memberi gigitan yang cukup keras di bibir Patricia.

__ADS_1


"Sakit..!" Teriaknya mendorong pria itu Tapi tentu saja dorongan Patricia tidak mampu membuat jarak diantara mereka.


Ia hanya melihat pria yang sedang memeluknya dengan erat kini terkekeh menertawakannya.


"Ini bukan mimpi!" Katanya kembali mengeratkan pelukannya pada Patricia.


"Apa?! Lalu bukankah kau seharusnya tidak berada disini dan malah pergi mencari perempuan yang sedang mengandung anakmu? Mengapa juga kakimu bisa,," Patricia menurunkan tatapannya dan dengan sangat jelas dia masih melihat kaki pria itu berada di atas kaki nya dan terlebih lilitan kaki lebih terasa sangat erat.


Mendengar ucapan Patricia, Lewi mengulurkan tangannya dan memegang dagu Patricia mengarahkan perempuan itu menatapnya.


"Mencari perempuan yang mengandung anakku? Bagaimana kau tahu?" Tanyanya dengan suara penuh penekanan.


Bagaimana bisa perempuan dipelukanya mengetahui bahwa dia hendak mencari seorang perempuan yang mengandung anaknya?


'Sial! Bagaimana bisa aku kecoplosan?!' Patricia menggerutu pada dirinya sendiri.


Melihat Patricia yang diam, Lewi kemudian mengusap dagu Patricia dan menundukkan kepalanya menempelkan dahinya ke dahi Patricia.


"Jadi kemarin malam di dalam mobil, kau berpura-pura tertidur dan mendengarkan percakapanku dengan Jun? Lalu kau menangis karena mendengar aku akan mencari seorang perempuan yang mengandung anakku? Kau cemburu?" Tanya Lewi menakuti Patricia.


Padahal, di dalam hatinya pria itu menjadi lebih senang, saking senangnya dia sampai dia bahkan tidak bisa mengontrol emosi yang dipancarkan oleh wajahnya sendiri.


Pria itu tidak lumpuh!


Pria kejam itu hanya bersandiwara di atas kursi roda!


"Aku senang kalau kau cemburu." Ucapan Lewi yang tiba-tiba membuat Patricia terbengong di tempatnya sembari melihat pria itu dengan tatapan tak percaya.


"Apa katamu?" Tanyanya memastikan.


"Aku bilang sudah saatnya bangun!" Kata Lewi segera duduk lalu pria itu mengangkat Patricia turun dari Ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi.


Patricia mengerjapkan matanya berada digendongan Lewi, dia tidak menyangka pria itu benar-benar tidak lumpuh!


"Kakimu,,," Patricia berkata dengan linglung, meskipun lumpuh, namun pria itu memiliki derajat yang tinggi dimata para pebisnis.


Apalagi jika para pebisnis mengetahui kalau pria itu memang tidak lumpuh, mungkin saja mereka akan bersujud menyembah Lewi.


"Kenapa?" Lewi bertanya sembari menurunkan Patricia dari gendongannya.

__ADS_1


Karena terlalu tiba-tiba, Patricia tidak bisa menjaga keseimbangannya dan hampir jatuh, jadi Lewi menarik pinggang perempuan itu mendekat ke arahnya.


"Kau mau apa?!" Patricia sangat terkejut.


"Memandikan istriku." Jawab Lewi dengan satu tangannya sudah meraih kancing baju Patricia.


"Tidak! Aku bisa melakukannya sendiri!" Patricia mengelak.


"Lalu Apa gunanya aku sebagai seorang suami kalau memandikan istriku saja aku tidak mampu?" Lewi menatap Patricia dengan dalam membuat perempuan itu menjadi kebingungan.


Apa yang sebenarnya diinginkan oleh Lewi?


Mengapa pria itu tiba-tiba saja menjadi baik padanya?


"Aku tidak perlu kau urus! Sebaiknya kau cari perempuan yang mengandung anakmu itu dan kau urus dia!" Kata Patricia mendorong Lewi lalu berjalan meninggalkan Lewi.


Sembari melangkah pergi dia berharap pria itu akan mencekal tangannya dan mengatakan sesuatu, namun harapannya menjadi sia-sia ketika dia tidak dicegah oleh Lewi.


'Apa yang ku pikirkan? Mana mungkin dia akan mencegahku sementara dia sudah menemukan perempuan yang mengandung anaknya! Aku yang mengandung anak haram seperti ini, mana mungkin memiliki nilai yang berarti di mata pria itu?' diam-diam Patricia merasa rendah diri.


Dia meraih gagang pintu untuk membuka pintu, tapi ketika dia memutarnya ternyata pintu itu telah terkunci.


Baru saja Patricia akan berbalik untuk meminta kunci ketika dari belakangnya telah terulur tangan yang kekar memeluknya dengan erat.


Wajah pria itu pun menempel di bahu dan pipinya membuat jantung Patricia kembali berdegup dengan sangat kencang.


Benar-benar pagi yang membuat jantungnya bekerja sangat keras!


"Perempuan mana yang perlu kucari? Ada istriku di sini." Kata Lewi dengan suara yang parau.


Patricia menggertakan giginya lalu dia berbalik menatap dengan kesal "Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau kau sedang mencari seorang perempuan yang sedang mengandung anakmu? Lalu mengapa masih disini mengurusi perempuan yang mengandung anak haram?!"


"Anak haram? Wajah Lewi menjadi kelam "Beraninya kau menyebut anakku sebagai anak haram?!" Lewi mengulurkan tangannya dan menarik pinggang Patricia ke arahnya.


Dia kesal!


"Apa,, apa katamu?!" Patricia bertanya tak percaya.


"Perempuan yang mengandung anakku yang sedang ku cari itu adalah kamu! Jadi Jangan pernah menyebut anak dalam perut mu sebagai anak haram karena dia adalah anakku!" Jawab Lewi membingungkan Patricia.

__ADS_1


__ADS_2