Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C42. Akan tersingkir dari posisi CEO!


__ADS_3

Setelah satu jam lebih terus berada di ruang meeting bersama dengan Rolland, akhirnya meeting mereka telah selesai.


"Terima kasih buat Tuan Rolland yang sudah membimbing saya untuk pertemuan ini." Kata Patricia dengan sopan mengambil dokumen-dokumennya untuk meninggalkan tempat itu.


"Ini sudah jam makan siang, bagaimana kalau berterima kasihnya dengan menemaniku makan siang?" Kata Rolland membuat Patricia menggertakan giginya.


Mengapa di harus makan siang bersama pria itu kalau dia memiliki suami yang harus dia temani untuk makan siang?


"Maaf, tapi kali ini saya tidak bisa menemani Tuan Rolland karena saya masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Permisi." Patricia berbalik untuk meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan kekar tiba-tiba memegangi lengannya membuat Patricia menjadi semakin kesal.


"Tuan Rolland, tolong lepaskan," kata Patricia menahan amarahnya.


"Kenapa? Kau terburu-buru untuk kembali ke ruangan pria itu untuk makan siang bersama?" Tanya Rolland.


"Saya tidak mengerti dengan apa yang Tuan Rolland katakan, tapi saya harus pergi." Patricia berusaha menarik lengannya tetapi pegangan Rolland begitu kuat.


"Lalu kapan aku bisa makan siang bersamamu?" Tanya Roland.


Patricia menghela nafas lalu perempuan itu menatap Rolland dengan nafas yang ditahan.


"Saya pikir tidak ada alasan bagi saya untuk makan malam bersama Tuan. Jadi tolong,," Patricia kembali menarik tangannya.


"Lalu pria itu, mengapa kau tidak keberatan makan dengannya? Sementara dia terus menyiksamu dan,,"


"Karena dia suamiku!" Selah Patricia dengan tegas.


"Dia suamimu, tapi dia tidak pernah mengakui mu sebagai istrinya dan tidak pernah memperlakukanmu sebagai istrinya. Dia terus mempertahankanmu di sisi-nya karena dia hanya takut kehilangan seluruh warisannya kalau kau dan dirinya bercerai! Dia bahkan tidak akan menerima bayi dalam kandungamu karena bayi itu bukan anaknya!" Ucap Rolland dengan tegas membuat Patricia hilang sabar menghadapi pria itu.


"Lalu apa yang kau inginkan?! Kau menginginkan aku menceraikannya supaya dia kehilangan warisannya dan kau menguasai perusahaan ini?! Menginginkanku menjadi janda untuk yang kedua kalinya lalu melahirkan seorang anak haram?! Itu yang kau inginkan?!" Patricia berbicara dengan keras dan dengan mata memerah menatap pria didepannya.


'Maaf sayang, maaf karena mama menyebutmu sebagai anak haram, tapi pria di depan mama tidak boleh mengetahui apapun sampai saatnya tiba.' gumam Patricia.


"Siapa yang ingin mebuatmu menjadi janda? Setelah bercerai dengannya aku akan langsung menikahimu dan membuat anak itu menjadi anakku! Tidak akan ada anak haram yang kau maks--"


"Cukup! Jangan menambah beban ku dan cepat lepaskan aku, atau aku akan berteriak supaya semua orang mengira bahwa wakil CEO grup Azura sudah berniat melecehkan seorang karyawan perempuannya!" Ancam Patricia akhirnya berhasil membuat Rolland melepaskan tangannya lalu perempuan itu pergi meninggalkan Rolland.


"Mengapa? Mengapa kau memilih pria kejam itu dibanding aku? Mengapa kau terus memberinya kesempatan untuk bersama denganmu, sementara aku yang tulus menyukaimu tidak diberi kesempatan sedikitpun?!" Rolland berdiri dengan mata memerah memandangi pintu yang telah dilalui oleh Patricia.


Sementara Patricia, perempuan itu memasuki lift dengan wajah yang marah dia memegang tangannya yang sudah kemerahan karena telah dicekal oleh Rolland.

__ADS_1


Hatinya sakit!


Ia mengingat bagaimana Roland mengatakan kalau Lewi tidak akan menerima anaknya karena Lewi bukanlah ayah dari anaknya.


Bagaimana kalau,, bagaimana kalau itu benar?


Lagi pula belum ada bukti yang kuat kalau anak dalam kandungannya adalah milik Lewi, dia bahkan tidak mengingat peristiwa itu.


Begitu tiba di ruang kerja suaminya, Patricia mendapati suaminya sedang duduk di sofa sembari menata makanan diatas meja.


"Kau sudah kembali?" Lewi tersenyum ke arah Patricia.


Namun pria itu menjadi kaget ketika wajah Patricia terlihat hancur dan mengeluarkan air matanya lalu perempuan itu berlari ke arahnya dan melompat ke pangkuannya.


Dia bisa merasakan nafas Patricia memburu dan perempuan itu memeluknya dengan sangat erat.


"Ada apa?! Apa pria itu melukaimu?" Lewi bertanya dengan cemas, matanya memancarkan kemarahan yang amat dalam.


Patricia menggelengkan kepalanya sembari menahan isakannya.


"Sudah.. sudah... Semuanya baik-baik saja." Ucap Lewi mengelus punggung dan kepala Patricia.


Istrinya sedang hamil muda jadi dia mengerti kalau perempuan itu mudah mengalami emosi, tapi kalau sampai Rolland berani menyakiti istrinya maka dia tidak akan membiarkan pria itu bernafas dengan tenang!


"Ada apa hmm?" Lewi bertanya dengan lembut.


"Suami, kalau anak dalam kandunganku bukan anakmu, apakah,,"


"Apa yang kau katakan?! Apa pria itu menghasutmu?! Jangan dengarkan dia! Bahkan jika anak itu bukan milikku, aku akan tetap menerimanya sebagai anakku! Kau mengerti?!" Lewi kesal!


Bagaimana bisa perempuan itu masih meragukannya?!


"Aku hanya takut, belum ada bukti bahwa anak ini bukan milikmu, dan kau hanya menduga bahwa akulah perempuan pada malam itu, selain dugaan, tidak ada lagi yang..."


Ucapan Patricia langsung berhenti ketika Lewi membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman besar.


Pria itu menghisap bibirnya dengan keras membuat bibir Patricia yang tipis langsung membengkak dan memerah.


"Sekali lagi mengatakan hal bodoh, aku akan membuatmu tidak bisa berkata apa pun lagi!" Ucap Lewi dengan tatapan kesalnya.

__ADS_1


Perempuan itu yang mengajarinya untuk percaya, tapi mengapa sekarang perempuan itu meragukannya?


"Maaf, aku tidak akan membahasnya lagi." Kata Patricia bergerak untuk turun dari pangkuan Lewi, tapi pinggangnya ditahan oleh Lewi.


"Duduk begini saja. Aku akan menyuapimu." Kata Lewi.


...


Kediaman Siloam.


"Putri ibu!!" Elizabeth menghampiri dua putrinya yang sedang duduk bermalas-malasan di ruang keluarga sembari membaca majalah.


"Ada apa Bu?" Tanya putri bungsu.


"Ibu ada kabar baik!"


"Kabar baik apa?" Si bungsu menatap ibunya dengan acuh tak acuh.


"Apakah Elsa sudah kembali dari luar negeri?" Si sulung langsung menatap ibunya dengan penuh harap.


Kalau perempuan itu telah kembali dari luar negeri maka sudah saatnya mereka menjalankan rencana mereka dan merebut seluruh hartanya!


"Belum! Tapi ini jauh lebih penting! Perusahaan Azura menerima kerjasama kita dan orang yang menanganinya adalah wakil CEO grup Azura! Tuan Rolland!" Ucap Elisabeth langsung membuat kedua putrinya duduk dengan tegak dan menatap ibu mereka.


"Benarkah? Lalu apa kami bisa bertemu dengannya Bu?"


"Tentu saja! Ini proyek besar, jadi ibu berencana akan mengundang mereka makan malam di restoran mewah keluarga kita. Begitu makan malam di restoran itu kalian berdua akan ada disana menyambutnya dengan baik dan menarik perhatiannya!" Ucap Elisabeth penuh kesenangan.


Jika salah satu diantara putrinya bisa menjadi istri dari pewaris grup Azura maka status mereka akan semakin terpandang.


"Kalau begitu, kami harus bersiap-siap! Bagaimanapun dia adalah salah satu pewaris terbesar dari grup Azura dan terutama dia memiliki wajah yang tampan!"


"Benar! Aku dengar meski saat ini si cacat lah yang memimpin perusahaan utama grup Azura, tapi tidak menutup kemungkinan di masa depan aturan dari grup Azura di luar negeri akan diberlakukan juga di dalam negeri. Jadi otomatis suami kakak sepupu yang paling menyebalkan itu akan tersingkir dari posisi CEO!"


"Putriku memang cerdas!" Elisabeth memuji putrinya "Dengan menikah bersama Tuan kedua dari keluarga Azura kalian tidak perlu menjadi seperti kakak sepupu kalian yang menghabiskan waktunya mendorong kursi roda dan menjadi babysitter untuk seorang pria cacat!"


"Benar!" Dua perempuan yang duduk di sofa bersorak kegirangan lalu mereka mulai merencanakan aktivitas mereka untuk mempercantik diri demi memikat putra kedua dari grup asura.


@Interaksi

__ADS_1



Kapan ya ada Oreo berbentuk sosis? 🤭 Jika ada typo tolong bantu otor melihatnya ya...


__ADS_2