Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C6. Benar-benar bodoh


__ADS_3

Di lantai bawa kediaman Siloam, Lewi dan asistennya telah tiba dan pria itu duduk di kursi roda dengan raut wajah acuh tak acuh pada apa yang ada di hadapannya.


"Suatu kehormatan besar bagi keluarga Siloam menyambut Tuan Muda dari keluarga Azura." Elizabeth berbicara sebagai satu-satunya orang tua di keluarga Siloam.


"Suatu kehormatan juga bagi keluarga Azura, hari ini Tuan Muda kami sangat terburu-buru karena harus menyelesaikan beberapa urusan malam ini. Jadi kami hanya datang untuk melihat putri mana yang akan menjadi calon istri Tuan Muda." Jun mewakili Lewi berbicara karena pria itu yakin bahwa Lewi tidak akan membuang-buang waktunya untuk keluarga Siloam.


"Tentu saja, kami sangat mengerti bahwa keluarga Azura adalah keluarga pemilik bisnis terbesar di kota Bali, jadi tentu saja memiliki banyak kesibukan." Kata Elizabeth dengan sopan lalu perempuan paruh baya itu menoleh pada putrinya. "Cepat jemput kakak pertama kalian kemari."


Jun ".."


Putri pertama? Jun tercengang!


"Hais..! Mengapa harus kami?! Bukankah sudah ada pelayan yang ditugaskan untuk membawanya kemari?!" Salah satu dari 2 gadis itu berdecak dengan kesal dan tampak keduanya sama sekali tidak memiliki niat untuk menjemput Patricia.


"Nona Muda pertama sudah di sini." Dari balik tangga 3 orang muncul, 2 orang pelayan yang membantu Patricia berjalan.


Jun memperhatikan Patricia, dia cukup terkejut bahwa ternyata keluarga siloam benar-benar menyerahkan Putri pertama mereka yang cacat mental untuk menjadi istri Tuan mudanya.


Pria itu menelan air liurnya dan melirik pada Tuan mudanya yang masih duduk dengan sikap acuh tak acuh.


"Ini adalah Putri pertama dari keluarga Siloam, dia yang akan menjadi istri Tuan Muda dari keluarga Azura. Dan hari ini juga kami akan menyerahkannya pada Tuan Muda Azura. Tuan Muda bisa langsung membawanya pergi dari kediaman kami." Elizabeth berbicara sembari memandang pada pelayan yang baru saja tiba membawa seluruh barang-barang milik Patricia.


Jun begitu tercengang dengan ucapan Elizabeth, perempuan tua itu benar-benar tidak memiliki hati nurani!


Apakah karena Tuan Mudanya adalah orang yang cacat jadi mereka juga memberikan orang yang sakit mental untuk dipelihara?!


Bukan hanya itu saja, bahkan dengan terburu-buru menyuruh mereka membawa Patricia, bukankah ini sama saja dengan membuang Putri mereka?


Tapi, kalau benar-benar ingin membuang Putri pertama itu, mengapa harus membuangnya pada Tuan Mudanya yang jelas jelas berasal dari keluarga Azura?


Heh, mereka pikir Tuan mudanya lumpuh, maka bisa dimanfaatkan begitu saja?! Tidak mungkin!


"Kami akan membawanya." Tiba-tiba kata membuat Lewi hampir saja membuat Jun kehilangan dua telinganya karena melompat dari kepalanya sebab terkejut.


Bagaimana bisa?! Apakah dia salah dengar?!

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, kami tidak akan memiliki hubungan apapun dengan lagi dengannya, kalian bisa membawanya pergi dan mengurusnya sesuka hati kalian!" Elisabeth berkata dengan acuh tak acuh lalu memberi kode pada pelayan supaya mengantarkan Patricia mobil Tuan Muda Lewi.


"Kalau begitu kami pergi dulu." Ucap Jun sembari memutar kursi roda milik Lewi lalu mereka berbalik meninggalkan orang-orang yang sudah menatap mereka dengan malas.


"Akhirnya...!" Salah satu sepupu Patricia langsung berseru senang melihat orang-orang itu telah pergi.


"Kalian lihat 'kan, keluarga Azura tidak akan menolak orang cacat menjadi istrinya karena dia sendiri juga cacat." Elisabeth memandang jijik pada orang-orang yang belum jauh dari mereka. Segala yang ia katakan masih terdengar jelas di telinga Jun dan Lewi.


Jun menghentikan dorongan kursi rodanya, ia hendak berbalik untuk memarahi orang-orang itu ketika Lewi mengingatkannya "Apa kau mau merendahkan dirimu mengurusi orang-orang tak berakhlak itu?!"


"Maaf Tuan," jawab Jun lalu dia terus mendorong kursi roda Lewi.


"Aku sudah sangat khawatir kalau akulah yang akan dinikahkan dengan pria cacat dan seumur hidup berakhir menjadi pelayan yang hanya bisa melayani orang cacat. Sekarang aku rmera lega, terima kasih ibu." Kedua gadis yang duduk bersama Elisabeth langsung memeluk Elizabeth mereka bertiga merasa sangat senang.


"Jangan senang dulu, masih ada 1 orang di tempat ini yang harus kita singkirkan sebelum menguasai seluruh harta keluarga Siloam." Elizabeth mengingatkan kedua putrinya.


"Ahh, maksud Ibu Elsa? Itu masalah gampang, kita bisa menggunakan trik yang digunakan Elsa pada Patricia untuk menipunya supaya bisa menyerahkan seluruh hartanya pada kita."


"Ibu tahu, tapi sebelum itu kita harus mendapatkan kepercayaannya dulu. Ketika nanti dia sudah menandatangani berkas-berkas yang kita berikan tanpa membaca lagi, maka saat itulah kita bisa menyelipkan berkas akuisisi saham dan properti miliknya dibawa berkas-berkas yang ia tandatangani." Elisabeth tersenyum licik, saat ini, dia memang menjadi orang paling dekat Elsa dan menjadi orang kepercayaan Elsa.


"Ibu benar, setelah seluruh hartanya menjadi milik kita, kita akan menendang nya keluar dari rumah ini. Biarkan dia pergi bersama suaminya yang penghianat itu!"


Sementara itu, Patricia yang dibawa pergi oleh Lewi telah duduk di dalam mobil, di samping Lewi.


Jun memilih lirik Patricia lewat kaca spion, dia sangat tidak mengerti mengapa Tuan Mudanya menyetujui pernikahan dengan perempuan cacat mental seperti itu. Sangat tidak layak.


"Tuan, apakah Tuan benar-benar akan menikah dengan dia?" Tanya Jun.


"Ya, segera besok, urus surat pernikahan kami." Jawab Lewi.


"Tapi Tuan, dia benar-benar tidak bisa menjadi istri Tuan, dia bahkan tidak bisa berbicara dan aku kuatir kita harus menyewa seorang pelayan untuk membantunya makan, bahkan untuk mandi atau pun berganti pakaian. Juga, para sepupu Tuan akan menertawakan Tuan,," Jun benar-benar tidak terima, tetapi dia tidak bisa membantah apapun yang dikatakan oleh Tuan mudanya.


"Apa kau punya hak untuk mengkritik keputusanku?!" Suara dingin disertai tatapan tidak suka dari Lewi langsung menutup mulut Jun.


"Maaf Tuan, saya tidak berani." Jun tidak berani lagi berkata apapun, dia hanya duduk dengan diam dan menunggu mobil mereka tiba di kediaman keluarga Azura.

__ADS_1


Setelah tiba, Jun langsung membantu Lewi turun dari mobil, dia membawa pria itu ke kamarnya di lantai 3 dan menemukan bahwa Patricia tidak ikut bersamanya.


'Astaga, selain harus mendorong kursi roda Tuan Muda, aku juga harus menarik calon istri Tuan Muda!' Jun menggerutu dalam hati, tetapi dia tetap menutup pintu lift lalu mengantar Lewi ke kamarnya sebelum turun kembali ke mobil dan membawa Patricia ke lantai 3.


Begitu tiba di kamar, ia melihat Lewi memandangnya dengan penuh peringatan.


"Akhir-akhir ini sepertinya kau telah kehilangan kepintaran, kau menjadi jauh lebih bodoh dari sebelumnya." Lewi menyindir Jun.


Jun "..."


Lebih bodoh dari sebelumnya, artinya tuannya tidak pernah menganggapnya sebagai orang pintar!


"Tuan, maafkan saya." Jun langsung menarik Patricia keluar dari kamar Lewi.


Tapi baru saja mereka berada di ambang pintu ketika suara Lewi kembali menghentikan mereka "Kau benar-benar sudah bodoh?!"


Jun "..."


Apalagi kali ini? Bukankah pria itu memarahinya karena sudah membawa Patricia kedalam kamarnya, sekarang hendak dibawa keluar dia pun menjadi marah?


"Tuan, maafkan saya yang bodoh ini, tapi sebenarnya apa yang Tuan inginkan?"Jun berbicara dengan sangat hati-hati, dia takut kalau sampai ucapannya kembali membangkitkan amarah Tuan Mudanya.


"He,, benar-benar bodoh! Keluar!" Lewi melemparkan tatapan menusuknya.


Akhirnya, Jun tidak punya pilihan lain, ia segera menutup pintu dan berdiri di depan pintu sembari mengusap dadanya.


Benar-benar seperti menghadapi raja neraka!


Jun masih tinggal berpikir-pikir harus berbuat apa dengan Patricia ketika dia teringat sesuatu.


"Astaga benar! Tuan menyuruhku setelah pulang langsung membantunya tidur! Tapi aku malah mengurusi Nona Muda!" Jun menepuk jidatnya lalu dia berbalik menghadap pintu kamar Lewi.


Haruskah dia mengetuk lalu membantu Tuan Mudanya naik ke tempat tidur?


@Interaksi

__ADS_1



Welcome Haters,, yuk kita saling nge-hate..!


__ADS_2