
Setelah pintu tertutup, Patricia membawa berkas di tangannya ke meja di dalam kamar lalu dia mendekati Lewi.
"Berdirilah," katanya.
Namun, bukannya menuruti permintaan Patricia, Lewi malah bertanya "Kau menolaknya?"
Patricia mengerutkan keningnya melihat pria didepannya, apakah pria itu sedang berusaha untuk memulai pertengkaran lagi?
"Jangan memulai pertengkaran, aku sudah lapar!" Kata Patricia dengan kesal menarik kerah jas Lewis supaya pria itu berdiri.
Lewi berdiri sembari tersenyum dan memperhatikan perempuannya yang sedang melepaskan satu persatu pakaian dari tubuhnya.
Perempuan ini,, apakah dia sudah tidak sabar menikmati sosisnya?
Lewi merasa kegirangan. Servis yang dikatakan Patricia di dalam mobil, apakah sekarang saatnya?
"Selapar apa kau?" Tanya Lewi pada Patricia saat perempuan itu dengan cepat cepat melepaskan dasinya lalu kemejanya dan kini sudah beralih ke sabuknya.
"Aku sangat lapar, jadi Jangan cuma berdiam dan cepat bantu aku!" Ucap Patricia ketika dia kesulitan melepaskan sabuk suaminya.
"Oh,, istriku benar-benar tidak sabaran," Lewi segera mengulurkan tangannya dan dalam satu tarikan... Click! Sabuknya terbuka.
"Lepaskan celanamu," ucap Patricia berjalan ke arah lemari dan mengambil satu set pakaian rumah untuk Lewi.
Lewi yang sementara melepaskan celananya dan melihat Patricia kembali dengan satu set pakaian rumah langsung dengan perempuan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lewi.
"Tentu saja mengambilkanmu baju. Ayo cepat pakai ini, aku sudah tidak sabar ingin makan sosis yang kau bilang." Ucap Patricia melemparkan pakaian ke arah Lewi lalu perempuan itu juga mengganti pakaiannya.
Lewi terdiam memandangi istrinya yang sudah membuka satu persatu pakaiannya, hingga ketika Patricia mengambil satu set pakaian rumah dari dalam lemari, Lewi dengan kesal berjalan kearah perempuan itu dan memeluknya dari belakang.
"Kau,, kenapa belum pakai baju?" Patricia berbicara dengan kesal saat merasakan seluruh kulit Lewi menempel pada kulitnya.
"Kau bilang akan memberikan Servis ter-special, mengapa sekarang malah pakai baju lagi?" Lewi bertanya dengan tenaga yang terus dikencangkan untuk memeluk Patricia.
"Iya nanti! Sekarang kan waktunya makan malam, Kau bilang kau sudah menyiapkan sosis dengan mayonaise?!" Patricia dengan kesal melepas pakaian dari hanger untuk ia kenakan.
Lewi "..."
Sosis dan mayonaise....
Dia dan istrinya mengartikan mereka dalam bentuk yang berbeda!
"Cepat kenakan bajumu! Aku sudah sangat lapar!" Patricia kembali berbicara sembari memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Baiklah," jawablah kemudian berpasrah.
Istrinya sedang hamil umur 1 bulan, dia tidak boleh membuat istrinya telat makan!
Sosis dan mayonaise yang ia pikir nanti saja, sekarang biarkan pikiran istrinya yang mereka turuti!
Akhirnya, kedua orang itu turun ke ruang makan untuk makan malam bersama, namun Patricia mengerutkan keningnya ketika melihat menu di atas meja malah berbeda dengan yang mereka bicarakan.
"Dimana sosis dan mayonaise nya?" Tanya Patricia pada pelayan.
"Eh?" Pelayan itu berbicara dengan pelan sembari keringat memenuhi wajahnya.
"Nyonya Maafkan saya,, Saya tidak tahu kalau makan malam hari ini adalah,,"
"Kau berbohong padaku?!" Patricia langsung menoleh ke suaminya dan bertanya dengan tatapan kesal.
"Aku tidak berbohong, sosisnya makanan penutup." Jawab Lewi tersenyum lalu mengambil piring Patricia dan menaruh makanan di piring perempuan itu.
Akhirnya sang pelayan yang mendengar ucapan Lewi langsung berlari ke dapur dan mereka membuat olahan sosis.
Tepat ketika Patricia dan Lewi hampir selesai makan, pelayan itu kembali lalu meletakkan makanan buatannya di atas meja.
"Terima kasih." Kata Patricia pada sang pelayan lalu dia mengambil sosis yang dibawah pelayan lalu memasukkan sepotong sosis itu ke dalam mulutnya.
"Hmm,, enak sekali." Patricia meresapi makanan yang ada di dalam mulutnya sembari memejamkan matanya.
"Aku tidak terlalu menyukainya, tapi kalau suamiku yang menyarankannya, aku pasti menyukainya." Jawab Patricia kembali mengambil satu potong dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kalau begitu, setelah makan malam aku akan memberikan sosis yang jauh lebih baik dari pada ini." Kata Lewi dengan senyum tipis di bibirnya.
"Benarkah?! Hmm aku jadi tidak sabar." Patricia sama sekali tidak curiga.
Setelah makan malam, Patricia mendorong kursi roda suaminya ke kamar mereka.
Setelah tiba dia melepaskan kursi roda Lewi dan berbalik menutup pintu, baru saja pintu itu terkunci rapat ketika tubuhnya sudah melayang karena digendong oleh Lewi dan dihempaskan di ranjang.
Cup!
Sebuah ciuman besar mendarat di bibir Patricia membuat perempuan itu mengerjapkan matanya 2 kali lalu menatap suaminya dengan intens.
"Waktunya menikmati sosis terbaik yang ada di dunia ini." Kata Lewi kembali mencium bibir Patricia dengan intense membuat Patricia kebingungan.
Dimana sosisnya?
Sepanjang berciuman, Patricia terus memikirkan hal itu, jadi dia tidak terlalu fokus pada ciumannya hingga membuat Lewi menghentikan ciumannya mereka.
__ADS_1
Sosis terbaik dari suamiya?
"Ada apa?" Tanya Lewi ketika melihat wajah istrinya tidak terlalu fokus.
"Hah.. hah... Hah.. Dimana sosis terbaiknya? Kau bilang,,"
"Di sini," Lewi segera membuka bajunya lalu membuka celananya dan memperlihatkan miliknya yang sudah berdiri gagah seperti tombak siap tempur.
"Apa yang kau lakukan?!" Patricia sangat kesal dan melempar suaminya dengan bantal lalu perempuan itu beranjak untuk meninggalkan tempat tidur, tetapi Lewi kembali menariknya dan menahan perempuan itu dibawah pantatnya.
"Lepaskan aku!" Pipi Patricia sangat merah kala melihat suaminya duduk di atas perutnya, meski pria itu tidak membebankan tubuhnya pada Patricia Tapi tetap saja dia merasa sangat marah.
Beraninya pria itu mempermainkannya!
Dia pikir sosis yang dimaksud prianya adalah sosis yang benar-benar akan masuk ke dalam mulutnya, tapi ternyata...!
"Istri yang baik, suamimu meminta service ter-special mu sekarang. Sebagai hadiahnya, sosis terbaik di dunia ini akan menjadi milikmu." Ucap Lewi mengarahkan batangnya ke wajah Patricia membuat perempuan itu semakin meronta-ronta di bawah Lewi.
"Apa yang kau lakukan?! Aku pikir kau bilang sosis yang terbaik itu bisa dimasukkan ke dalam mulut, tapi barangmu itu...! Kau penipu!" Teriak Patricia dengan marah.
Lewi tersenyum mendengar kata-kata istrinya, siapa bilang sosis terbaik miliknya tidak dapat dimasukkan ke dalam mulut?
Pria itu kemudian menahan tangan Patricia yang sedari tadi mendorongnya lalu menguncinya di atas kepala Patricia.
"Jadilah istri yang baik dan bukan mulutmu." Ucap Lewi membuat Patricia melotot.
"Kau.. mmm...!!"
"Hmm.."
"Jangan di gigit, nanti putus!"
"Mm?"
Sementara kedua orang itu menikmati service spesial dan sosis mayones maka di tempat lain di dalam kediaman keluarga Azura, Rolland sedang marah-marah di ruang kerjanya.
"Maafkan saya Tuan." Sang asisten ketakutan melihat Rolland yang sangat marah.
"Kau ceroboh! Sekarang kita tidak punya pilihan lain selain mencari seorang kambing hitam, buat Hendrik bertanggung jawab atas bocornya informasi itu. Bagaimana pun, pria itu juga mengetahui tentang kehamilan Patricia." Ucap Lewi sembari menggertakkan giginya.
"Baik Tuan. Tapi tentang kesehatan Tuhan lebih--"
"Aku tidak percaya kalau semua Dokter yang sudah memeriksa Lewi tidak memiliki informasi tentang kesembuhan Lewi. Jelas-jelas aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, pria itu berlari dari ruang kerjanya ke kamarnya." Rolland mengeram.
"Kalau begitu, haruskah kita memasang kamera secara diam-diam? Tuan bisa mengajak Nyonya Patricia bertemu dan memasang kamera kecil ditasnya atau apa pun itu." Sang Asisten kembali memberi ide.
__ADS_1
Rolland menyipitkan matanya memikirkan ucapan asistennya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain.