Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C110. Bisakah kita lanjut lagi?


__ADS_3

Malam hari setelah makan malam mereka selesai, Patricia hendak membersihkan piring ketika Lewi tidak mengizinkannya dan pria itu bersikeras melakukannya sendiri.


Jadi Patricia kembali ke kamar dan mengambil piyama hitam yang dia beli di pusat perbelanjaan.


Perempuan itu lalu menghilang di kamar mandi dengan jantung berdegup tak karuan.


"Kenapa pelayan itu memilih yang transpara sih?" Patricia merasa aneh memakai pakaian itu.


"Ini terlalu aneh di tubuhku, sebaiknya aku menggantinya." Ucap Patricia membalut tubuhnya dengan handuk piyama lalu pergi mencari pakaian lain di lemari.


Setelah menemukan pakaian hitam yang lebih terlihat sopan, Patricia kemudian mengeluarkannya dan mengintip ke arah pintu.


"Dia belum kembali, sebaiknya aku kenakan di sini dengan cepat." Ucap Patricia lalu melepaskan handuknya dan menarik keluar pakaian yang sudah ia pilih.


Baru saja Patricia akan memakainya ketika Lewi sudah membuka pintu dan terkejut melihat istrinya dengan piyama yang transparan di beberapa titik.


"Suami? Ini,, ini aku,," Wajah Patricia menjadi merah padam dan jantungnya berpacu kencang.


"Aku tahu." Kata Lewi dengan senyum menutup pintu dan menerkam istrinya ke dalam pelukannya.


"Aku,, aku bukan ingin menggunakan ini. Aku hendak menggantinya kok." Kata Pateicia yang sangat malu.

__ADS_1


Bagaimana kalau suaminya berpikir bahwa dia adalah perempuan murahan yang menggunakan pakaian-pakaian aneh seperti itu?


"Lalu kau pikir ingin menggunakan pakaian seperti ini untuk siapa?" Tanya Lewi.


"Itu,, bukan untuk siapa-siapa. Aku hanya tidak sengaja membelinya. Tapi aku mencobanya dan aku pikir kau tidak akan suka karena ini--"


"Aku suka. Kau bisa memakainya setiap malam." Ucap Lewi lalu membungkam bibir istrinya menggunakan bibirnya.


Pria yang sudah merasa tegang itu sangat bersemangat menikmati ciuman mereka sembari mendorong Patricia ke tempat tidur dan membaringkan Patricia lalu menindihnya.


"Mm!" Suara Patricia yang menggoda semakin membuat Lewi bersemangat menjalarkan kedua tangannya menyentuh Patricia dari balik piyamanya.


Cup cup cup...


Ciuman Lewi berpindah dari bibir ke leher Patricia meninggalkan bekas-bekas kemerahan yang cukup besar.


"Hah.. hah.. hah.." Patricia begitu bersemangat hingga nafasnya memburu dengan tangannya meremas kuat rambut suaminya.


"Sebentar sayang," ucap Lewi menyadari istrinya yang sudah tidak sabar.


Dia pun begitu, tapi sangat sayang melewatkan beberapa bagian tubuh Patricia, jadi pria itu terus menciumi inchi per incih kulit Patricia hingga ia tibah dia bagian bawah.

__ADS_1


"Uhhgg...!!" Patricia melenguh kencang saat sirinya yang sudah polos kini dimainkan dengan nakal oleh suaminya.


"Lewi..!" Patricia meneriakkan nama suaminya saat dia sudah tidak tahan lagi dengan permainan Lewi yang masih enggan menyatukan diri mereka.


"Baiklah,, aku berikan." Ucap Lewi memperbaiki posisi mereka.


"Jangan terlalu keras, bayi kit, ohhh......" Pandangan Patricia menggelap saat fokusnya hanya pada rasa nikmat yang diberikan Lewi.


Detik berikutnya bibirnya kembali di bungkam lalu tubuhnya di sentak bekali-kali hingga darahnya mendidih tak karuan.


Dia sudah lupa akan anak di kandungannya. Perhatiannya sepenuhnya dialihkan pada kenikmatan yang dirangkai oleh suaminya.


Semakin lama semakin memabukkan dan membuatnya lupa diri hingga dia berteriak kencang mengakhiri pertempuran nikmat mereka.


Keduanya berbaring sembari berpelukan.


"Apa kau lelah? Bisakah kita lanjut lagi?" Tanya Lewi dengan suara parau.


Patricia tidak menghiraukan Lewi. Mereka baru selesai beberapa detik lalu, mengapa pria itu langsung bertanya?


__ADS_1


__ADS_2