
"Tuan, apakah kita akan pergi ke hotel atau kembali ke kediaman Azura?" Jun yang duduk di kursi kemudi bertanya pada Lewi setelah jam pulang kantor.
"Siapa ayah dalam kandungan perempuan itu?" Jawaban Lewi membuat Jun langsung menoleh pada Lewi.
Ternyata diamnya Lewi sedari tadi karena memikirkan Nyonya muda.
"Tuan ingin saya menyelidikinya?" Tanya Jun.
"Jadi kau belum menyelidikinya? Bagaimana dengan perempuan yang ada di malam itu?" Dua pertanyaan dari Lewi membuat Jun tertegun sesaat.
"Mungkinkah perempuan malam itu benar-benar Nyonya Muda? Nyonya Muda belum pernah berhubungan dengan suaminya, dan terlebih di malam itu juga,,, saya akan menyelidikinya lagi." Jun berkata sembari dalam hatinya dia berharap bahwa anak yang dikandung Patricia benar-benar anak dari Tuan Mudanya.
Kalau hal itu terjadi, maka sudah dipastikan bahwa pernikahan Tuan Mudanya pasti akan berakhir bahagia dan dia tidak perlu lagi melihat Patricia menderita dibawah tekanan Lewi.
"Sudah berapa lama aku memberimu waktu untuk mengerjakannya? Apakah kemalasan ini sebagai pertanda bahwa kau sudah ingin digantikan?" Tiba-tiba tanya Lewi.
"Maaf Tuan, saya akan mengusahakannya selesai besok pagi." Jawab Jun sembari menggerutu dalam hati, dia tidak akan tidur nanti malam.
"Sebaiknya begitu." Lewi berkata dengan nada mengejek.
"Baik Tuan. Kalau begitu, Sekarang kita akan kembali ke hotel atau ke kediaman keluarga Azura?" Jun kembali bertanya.
Lewi terdiam sesaat, dia masih tidak mau menemui perempuan itu, tapi melihat bagaimana luka-luka Patricia tadi, dia kemudian berkata "Kembali ke kediaman Azura untuk mengambil beberapa barang."
Jun "..."
Hanya mengambil beberapa barang? Dia bisa melakukannya untuk Lewi tapi sekarang Tuan Besarnya malah ingin melakukannya sendiri.
Diam-diam dalam hati Jun tersenyum karena tingkah Lewi yang terlalu gengsian untuk mengakui bahwa dia sebenarnya kesana untuk melihat Patricia.
"Baik Tuan." Jawab Jun lalu dia menyalakan mesin kendaraan, mobil itu pun melesat ke kediaman keluarga Azura.
Begitu tiba di kamar, Lewi mengeryit melihat kamar itu telah kosong, tidak ada perempuan yang hobi tidur di atas tempat tidur.
"Kemana dia?" Tanya Lewi pada Jun.
Jun ".."
__ADS_1
Apakah dia seorang Tuhan? Mengapa dia harus tahu segala sesuatu?
"Saya akan mencarinya sebentar," ucap Jun segera keluar dari kamar meninggalkan Lewi yang duduk di kursi rodanya sembari memandang ke arah ranjang dimana Patricia selalu tertidur setiap kali dia memasuki kamar.
Entah kenapa dia merasa kehilangan setelah kembali bekerja dan tidak menemukan perempuan itu sedang tertidur di atas kasur.
Setelah beberapa menit menunggu Jun akhirnya kembali.
"Maaf Tuan, para pelayan mengatakan bahwa Nyonya Muda tidak kembali sedari pagi Nyonya Muda meninggalkan kediaman Azura." Ucap Jun.
"Apa?! Beraninya perempuan rendahan itu tidak kembali ke mari! Cepat selidiki kemana perginya perempuan itu mencari pria lain?!" Langsung perintah lewih.
Jun "..."
Bukankah bagus kalau Patricia tidak ada di sana jadi tuannya bisa tidur di sana tanpa harus kuatir satu ruangan dengan Patricia?
"Baik Tuan." Asisten tidak boleh membantah!
Sementara itu di tempat lain, Patricia sedang berbaring di atas ranjang di apartemen Meilin.
"Kau benar-benar tidak akan kembali ke rumah suamimu?!" Melin melemparkan sebungkus cemilan pada Patricia.
"Memangnya apa yang terjadi? Mengapa kau kembali dengan luka-luka mu yang bertambah parah dan terlebih dengan suasana hatimu yang buruk itu? Bahkan tidak mau berbicara denganku sepanjang sore hanya kerena laki-laki! Benar-benar kejam pada sahabat!" Geram Meilin yang ikut naik ke atas ranjang lalu duduk disamping Patricia.
"Kau akan menertawakan kebodohanku jika aku menceritakannya padamu." Dengan kemarahannya Patricia mengunyah cemilan yang ia lemparkan ke dalam mulutnya.
"Kapan aku menertawakan penderitaanmu?! Cepat katakan!" Desak Meilin.
"Hahhh,,,,, ketika aku datang ke kantornya, para karyawannya menghinaku dengan menyebutkan sebagai perempuan rendahan, lalu para security menarikku keluar dari perusahaannya. Dan di detik-detik terakhir pria itu datang bersama asistennya lalu kau tahu apa yang terjadi?! Dia tidak menolongku! Dia tidak memberiku wajah di depan para karyawannya! Sementara aku adalah istrinya!" Ucap Patricia dengan begitu kesalnya.
"Benarkah? Bukankah kau bilang kemarin kalian baik-baik saja?" Meilin bertanya dengan wajah tak percayanya.
"Memang benar begitu! Tapi kejadian tadi itu,,, padahal aku tidak mengingat pernah melakukan kesalahan." Patricia menghela nafas dengan berat.
Dia baru berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Lewi, tapi pria itu sudah membuatnya kesal sebelum dia memulai pertarungannya!
"Benar juga. Kalau dia perempuan aku akan maklum mungkin dia datang bulan, tapi dia adalah laki-laki, mungkinkah Dia mengalami masa puber?" Meilin berbicara sembari menatap langit-langit apartemennya.
__ADS_1
"Mungkin saja..." Jawab Patricia dengan acuh tak acuh.
Akhirnya keduanya saling diam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka baru saling berpandangan ketika tiba-tiba saja bel apartemen Meilin berbunyi.
"Kau punya kekasih?!" Patricia langsung bertanya sembari menatap Meilin dengan intens.
Tidak ada yang pernah bertamu ke apartemen Meilin selain dirinya!
"Kekasih sialanmu! Bagaimana mungkin aku mengajak kekasihku datang kemari ketika kau berada di sini?" Meilin menggerutu sembari turun dari tempat tidur lalu kedua perempuan itu berjalan ke arah pintu.
Clek.
Keduanya terdiam melihat dua orang tamu yang berdiri di depannya.
Lewi dan Jun!
"Tuan Muda, apa yang,,, oh silahkan masuk." Meilin langsung mempersilahkan kedua orang itu masuk, namun baru saja Jun akan mendorong kursi roda Tuannya ketika Patricia menghalangi jalan mereka.
"Kami tidak menerima tamu!" Katanya dengan kesal.
Tadi siang, pria itu baru saja mengusirnya, dan sekarang datang untuk bertamu di apartemen sahabatnya? Apakah pria yang duduk di kursi roda memiliki otak yang lumpuh sama seperti kakinya?!
"Nyonya Muda, teman Nyonya Muda sudah mengijinkan kami masuk. Bukankah tidak sopan kalau Nyonya Muda yang bukan pemilik apartemen ini malah menghalangi kami?" Jun bertanya dengan suara yang sangat lembut.
"Ck,,! Lalu begitu silahkan masuk!" Patricia akhirnya menyingkir lalu Jun mendorong kursi roda Lewi ke dalam apartemen Meilin.
Kalau pria itu memaksa bertamu di apartemen Meilin, dia bisa pergi dari apartemen itu lalu kembali nanti setelah meninggalkan apartemen.
Namun, baru saja kursi roda Lewi akan melewati Patricia ketika Lewi sudah mengulurkan tangannya dan menarik perempuan itu hingga terjatuh di atas pangkuannya.
"Ahh!" Pekik Patricia.
Tangan Patricia dengan spontan mencari pegangan dan dia terkejut ketika tangannya malam memeluk leher Lewi dengan erat.
Tatapan kedua orang itu bertemu dan terdiam untuk beberapa waktu.
Meilin memperhatikan Ketiga orang itu, Jun tetap natural mendorong kursi roda berisi 2 orang yang sedang memperlihatkan keromantisan.
__ADS_1
'Asisten itu, Apakah dia tidak akan muntah melihat pemandangan seperti itu?' pikir Meilin dalam hatiku.
Dia saja ingin menghilang dari tempat itu karena tidak mau dijadikan obat nyamuk, tapi pria yang mendorong kursi roda itu,,,,, benar-benar menakjubkan!