
Dinda langsung menarik semua perhatian karyawan lalu mereka mengelilingi Dinda dan membaca dokumen itu.
Dalam sekejap semua perempuan langsung berwajah pucat dan jatuh ke lantai sembari menangis bersama.
"Ada apa?" Seorang karyawan pria yang melihat para perempuan satu persatu mulai menangis akhirnya berdiri dan mengambil dokumen yang tadi dibawa Jun.
Pria itu melototkan matanya melihat sekumpulan nama yang dipindahkan ke cabang perusahaan di kota xx.
"Ada apa?" Rekan pria yang lain menghampiri dan melihat catatan di kertas.
"Apa ini?" Pria itu mengambil dokumennya dan membacanya.
"Semua yang dipindahkan adalah perempuan, tidak ada satupun lelaki." Ucap pria itu menarik semua perhatian para perempuan yang sedang menangis.
"Apa katamu?!" Linda langsung meraih berdokumen itu dan kembali membacanya.
Benar saja, semua perempuan di departemen mereka telah dikeluarkan, sementara para lelaki, tidak ada satupun yang namanya tercantum di sana.
"Bagaimana bisa,,," Dinda menutup mulutnya dan dengan kaki yang lemas terjatuh di lantai.
"Ini semua pasti karena kalian selalu mengejek mantan sekretaris CEO. Lihat saja tadi wakil CEO memperebutkan Nona Patricia! Sementara kalian, sejak dia datang di sini Kalian terus merundung nya!" Ucap pria itu sudah tidak bisa menahan unek-uneknya yang dia simpan selama 2 hari.
Sejak awal dia sudah curiga dengan Patricia, mana mungkin perempuan sekelas Patricia yang merupakan CEO perempuan satu-satunya di kota Bali bisa di turun pangkat kan menjadi karyawan biasa?
Jelas ada sesuatu di belakang ini semua!
"Apa katamu?! Jangan mengada-ngada! Sebentar lagi CEO akan datang ke mari untuk mengecek Siapa yang telah membuat laporan plagiat, dan saat itu terjadi, semuanya akan kembali ke awal. Dan ketika aku kembali menduduki posisi manajer, Kau adalah orang pertama yang akan ku pecat!" Teriak Sarah pada pria yang baru saja berbicara.
"Hah, yang benar saja?! Setelah mendapat kabar buruk kau masih punya tenaga untuk mengancam orang lain? Konyol sekali!" Pria itu berbicara sembari berjalan kembali ke mejanya karena tidak peduli lagi dengan Sarah.
"Kau bernai mengejek dan mengacuhkan ku?!" Sarah kembali berteriak dengan keras sembari berjalan ke arah pria yang sudah mengejeknya.
Namun dia baru sampai di meja pria itu ketika salah seorang kembali memasuki ruangan mereka.
"Nama-nama yang tertera di dokumen ini silakan pergi ke ruang administrasi untuk mengurus perpindahan-"
__ADS_1
"Apa katamu?! Bukankah kami masih harus menunggu CEO untuk datang kemari dan memperbaiki kesalahpahaman ini?!" Sarah mendekati pria yang sedang memegang dokumen di tangannya.
"Nona Sarah, Aku tahu ini ini keputusan yang sulit untuk kalian Terima, tapi berpikirlah dengan logis mana mungkin seorang CEO datang untuk mengurusi karyawan biasa?" Pria itu menghela nafas dan melemparkan dokumen itu di atas meja lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sudah ku duga!" Pria yang tadi mengejek Sarah kembali berbicara.
"Tidak... Tidak..." Sarah akhirnya terjatuh dilantai sembari memegangi kepalanya yang berdenyut.
Benar-benar berakhir!
Cabang perusahaan di kota xx berada di pelosok, tidak ada kehidupan di sana karena perusahaan itu berjalan pada perkebunan kelapa sawit
...
Lift.
"Lepas!" Patricia berusaha menarik tangannya.
"Aku lepaskan asal kau tidak kabur dariku!" Ucap Rolland menatap Patricia.
Patricia berdiri di sudut paling jauh dari Rolland dan hanya berdiri menatap bayangannya di dinding lift.
Sementara Rolland, pria itu memperhatikan arah berjalannya lift. Namun pria itu sangat terkejut ketika lift tidak berhenti di lantai yang sudah ia tekan tapi malah terus naik dan tiba di lantai paling atas di mana ruangan CEO berada.
"Apa yang terjadi?" Ucap Rolland dengan panik.
Rolland dengan panik mengulurkan tangannya untuk kembali menutup lift tapi sepertinya lift itu telah dikendalikan seseorang hingga tidak mau tertutup.
"Tuan," Patricia langsung berjalan keluar saat melihat Lewi menjalankan kursi roda nya menuju mereka.
"Sepertinya Kalian berdua sudah semakin berani, terang-terangan berselingkuh hingga tidak dapat menahannya bahkan di depanku?!" Cibiran Lewi membuat Rolan mengepalkan tangannya lalu berjalan keluar menyusul Patricia.
"Ada apa? Apakah sekarang kau marah karena aku lebih baik melindungi istrimu daripada kau melindunginya?" Rolland terkekeh "Lihat Bagaimana keadaannya saat ini, karena apa yang kau lakukan Dia baru saja di tampar dan-"
"Oh,, sepertinya Ada yang ingin mengajariku cara memperlakukan istriku!" Lewi menatap kearah Patricia yang sedari tadi tertunduk layaknya wanita lemah yang tidak bisa berkata apapun di depan kedua penguasa itu.
__ADS_1
"Katakan padaku, apakah aku yang menyuruhmu meninggalkan posisi sekretaris dan menjadi karyawan biasa?" Tanya Lewi dengan tatapan yang sangat dingin.
"Tidak Tuan, ini adalah keinginan saya sendiri." Jawab Patricia.
Jawaban Patricia membuat Lewi tersenyum sementara Rolland menatap Patricia dengan penuh kasihan.
"Patricia, sekarang juga aku memberimu kesempatan untuk memilih, terus mengikuti pria yang tidak bertanggung jawab ini dan terus tersiksa bersamanya atau sekarang juga kau ikut denganku dan Aku pastikan akan memperlakukanmu lebih baik dari siapapun memperlakukanmu." Tawaran Rolland membuat Patricia kembali memejamkan matanya lalu mengangkat wajahnya menatap Rolland.
"Tuan, Saya yakin Tuan pasti tahu seorang istri tidak mungkin memilih pria lain daripada suaminya. Dan saya juga yakin kalau Tuan pasti tau kalau menjadi orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain itu adalah perbuatan yang melanggar undang-undang. Jadi saya mohon, tolong lepaskan saya." Jawab Patricia.
"Ha.. kau sudah dengar 'kan? Jadi sebaiknya kau pergi dari sini dan selesaikan semua pekerjaanmu!" Kata Lewi pada Rolland lalu menatap perempuan di depannya sembari tersenyum mengejek "Ikuti aku!" Ucapnya dengan nada kemarahan.
Kedua orang itu akhirnya menjauh dari pandangan Rolland, lalu akhirnya menghilang di balik pintu ruangan CEO.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Patricia adalah orang yang pandai, tidak mungkin dia memilih keputusan seperti itu!" kata Rolan dalam hatinya selalu berbalik meninggalkan lantai CEO dan kembali ke ruangannya.
Begitu akan memasuki ruangannya, dia melihat asistennya juga akan memasuki ruangannya dengan tumpukan berkas di tangannya.
Rolan menghela nafas lalu masuk ke ruangannya dan duduk di kursinya diikuti asistennya yang meletakkan berkas-berkas di meja kerja Rolland.
"Tuan, ini semua pekerjaan tambahan dari Tuhan Lewi," kata asisten itu membuat Rolland memejamkan matanya dan memijat keningnya yang terasa akan meledak.
Dia gagal membujuk Patricia untuk berpaling ke sisi-nya dan sekarang dia mala mendapat balas dendam kejam dari kakak pertamanya.
"Tuan, Kalau tidak ada lagi saya akan keluar," kata Sang asisten.
"Tunggu dulu," Rolland memperbaiki posisi duduknya dan menatap asistennya.
"Menurutmu Kenapa Patricia bisa begitu bersikeras berada di sisi Lewi padahal aku menawarkan kenyamanan untuknya?" Tanya Rolland.
Sang asisten berpikir sesaat lalu dia menatap Rolland dan berkata "Kalau bukan karena Nona Patricia ingin menggulingkan kekuasaan Lewi, maka perempuan itu pasti sudah terikat sebuah kontrak dengan Lewi. Tuan pasti tahu bagaimana kepribadian Tuan Lewi yang selalu waspada dalam setiap langkah-langkahnya." Jawab Sang Asisten.
Jawaban sang asisten membuat Rolland kembali memijat keningnya lalu memberi kode pada asistennya untuk meninggalkannya sendirian.
@Info
__ADS_1
Maaf ya... otor kembali tumbang jadi slow update untuk beberapa hari...