
Patricia segera tiba di kantor Azura Group.
Perempuan itu berjalan ke resepsionis yang terdiri dari 3 perempuan muda.
"Halo, ada yang bisa kami bantu?" Salah satu resepsionis menyambut Patricia dengan sopan karena melihat penampilan Patricia yang elegan.
"Saya ingin bertemu dengan Tuan Lewi." Jawab Patricia.
"Maaf, apakah Nona sudah membuat janji?" Tanya sang resepsionis.
"Sudah, saya perwakilan dari grup Siloam yang ingin membahas proyek xx." Jawab Patricia, untungnya tadi dia sudah mencari tahu tentang grup Siloam dan dia mengetahui bahwa group Siloam sedang bekerja sama dalam salah satu proyek bersama dengan grup Azura.
"Baik, siapa nama Nona? Biar saya check dulu." Jawab sang resepsionis sembari memegang mouse dan keyboard nya.
"Herin," jawab Patricia yang sudah menebak bahwa orang yang bertanggung jawab terhadap proyek ini pastilah Herin selaku salah satu staf yang paling kompeten di grup Siloam.
"Herin,, maaf, janjinya bukan hari ini, tapi besok siang. Juga, penanggung jawab proyek yang tertera di sini bukanlah Nona Herin tetapi orang lain." Kembali ucap sang resepsionis.
"Karena ada hal urgent mengenai proyek, maka perusahaan kami mengganti penanggung jawabnya dan saya harus menemuinya hari ini untuk kembali membahasnya." Lagi kata Patricia.
"Maaf sekali Nona, tetapi sudah menjadi aturan di perusahaan ini supaya tidak membiarkan sembarang orang masuk jika tidak sesuai dengan perjanjian yang tertera di sini. Kalau memang rapatnya dimajukan, dan penanggungjawabnya di ganti, tolong hubungi kami terlebih dahulu." Sang resepsinis menjelaskan.
'Hah, merepotkan saja,' Patricia memutar otaknya, bagaimana bisa dia menghubungi pria itu sementara dia sudah tidak punya ponsel dan dia terlalu malu untuk meminta uang membeli ponsel pada Meilin, dia sudah terlalu banyak merepotkan sahabatnya itu.
"Saya lupa membawa ponsel, dapatkah Nona menyambungkan saya dengan asisten Jun?" Patricia kembali bertanya.
Resepsionis yang melihat Patricia sudah menjadi tidak nyaman, teman sang resepsionis yang di samping mendekati resepsionis itu dan diam-diam berbisik.
__ADS_1
"Sepertinya dia hanya perempuan yang ingin mencari untung, aku sangat curiga karena dari tadi dia tidak bisa mengatakan nama dan waktu perjanjian dengan tepat. Lihat juga dia, dia tidak menggunakan tanda pengenal dari grup Siloam."
Resepsionis yang mendengar ucapan temannya mengamati Patricia dan akhirnya menjadi kesal.
Beraninya orang luar datang kemari menggunakan informasi palsu untuk menggoda atasannya!
"Hei, kalau mau bertemu dan membahas proyek tolong datang dengan jelas, di mana tanda pengenal mu dan kau tidak membawa ponsel dan bahkan hanya menentang kunci mobil di tanganmu saja. Kau mau menipuku? Apa kau pikir para karyawan di di grup Azura mudah ditipu oleh perempuan penggoda sepertimu?!" Sang resepsionis itu berbicara dengan kasar, dia tidak bisa menahan nya lagi!
Mendengar ucapan sang resepsionis Patricia mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka resepsionis di kantor suaminya bahkan menyebutnya sebagai perempuan penggoda!
"Apa katamu? Perempuan penggoda?" Wajah Patricia tidak terlalu baik.
"Benar, kau datang kemari berpura-pura sebagai karyawan dari grup Siloam, apalagi kalau bukan dengan tujuan untuk menggoda atasan kami?!" Resepsionis itu semakin meninggikan suaranya dan beberapa karyawan yang lalu-lalang sudah menatap Patricia dengan sinis.
"Kau benar-benar!" Patricia menggertakan giginya "Jadi begini cara grup Azura melayani tamunya, bukan hanya meneriaki tapi juga menyebut tamunya dengan kata-kata yang tidak sopan! Sepertinya aku harus mempertanyakan bagaimana cara grup Azura memperkerjakan orang-orangnya, benar-benar tidak beretika!" Geram Patricia.
Perempuan yang dikatakan tidak beretika itu menjadi malu, apalagi melihat banyak karyawan sudah memandanginya.
"Iya pergi! Jangan menjadi pengacau di sini! Hanya perempuan rendahan yang berniat menggoda Bos besar kami! Memangnya kau layak?!" Resepsionis yang tadi berbisik juga ikut merendahkan Patricia membuat Patricia menjadi sangat marah.
"Kalian benar-benar tidak sopan! Aku datang kemari dengan niat yang baik, tapi kalian malah mengatakan keta-kata yang kasar?! Minta maaf sekarang juga!" Suara Patricia tidak tinggi namun suaranya dipenuhi penekanan hingga dua resepsionis yang baru saja mengatai Patricia merasa tidak nyaman.
Namun resepsionis yang lain yang sedari tadi berdiam diri di tempatnya akhirnya mendekati Ketiga orang itu "Minta maaf? Kaulah yang datang kemarin membuat keributan mengatakan informasi palsu, dan sekarang kau ingin membuat kami meminta maaf padamu? Kami adalah karyawan di grup Azura, sementara kau mungkin hanya perempuan amatir yang ingin memanjat status sosial dengan merayu Bos besar kami? Kau pikir kami akan percaya?!"
"Benar! Dia adalah penipu!"
"Security! Security!" Salah satu resepsionis memanggil security dan 2 orang security dengan cepat menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada apa Nona?" Tanya salah satu security.
"Tolong bawa perempuan ini keluar, dia di sini membuat keributan!" Ucap sang resepsionis.
"Benar, dia datang dengan niat merayu Bos besar dan merendahkan para karyawan di sini!" Resepsionis yang lain menambahkan.
"Baik Nona," jawab salah satu security lalu kedua security itu menghampiri Patricia.
"Silakan ikut kami keluar dengan baik-baik sebelum kami menyeret paksa nona." Security berbicara pada Patricia.
Namun, semua orang dibuat terkejut dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Patricia.
Patricia tersenyum menghina lalu menatap dua sekuriti yang merupakan pria berusia 50 tahun "He, jadi begini cara karyawan grup Azura memperlakukan seorang tamu? Selain mengatai tamu dengan ucapan yang kasar mereka juga mengusir tamu mereka? Benar-benar hebat!"
"Sialan kamu! Jangan menfitnah kami! Kaulah yang mengatakan kata-kata kasar pada kami, mengatakan kami tidak beretika dan tidak layak menjadi karyawan grup Azura!" Sala satu resepsionis menjadi sangat marah.
"Sudah Pak, cepat usir dia dari sini! Seret saja kalau tidak mau berjalan sendiri!" Resepsionis yang lain menambahkan.
"Baik Nona," dua security mengangguk lalu keduanya berjalan ke sisi kiri dan sisi kanan Patricia lalu memegang tangan Patricia.
"Keluar!" Dua security itu menarik Patricia dengan kasar.
"Lepaskan! Aku harus bertemu dengan suamiku!" Patricia berbicara dengan kesal sembari menahan tubuhnya supaya tidak diserap dari tempat itu.
"Huh,, tadinya mengatakan dia salah satu karyawan dari grup Siloam, sekarang mengatakan dia ingin bertemu dengan suaminya? Sungguh perempuan pembohaon!"
"Benar sekali, Untung saja kita tidak membiarkannya masuk, kalau tidak mungkin kita akan dipecat karena sudah membiarkan perempuan penggoda menemui bos besar." Para resepsionis bercakap-cakap sembari memandang jijik kearah Patricia yang telah diseret keluar.
__ADS_1
Namun keriuhan di tempat itu segera terhenti ketika pintu lift khusus CEO terbuka dan seorang pria yang duduk di kursi roda di dorong oleh asistennya keluar dari lift.
Semua orang memberi hormat pada pria yang berjalan ke arah mereka.