
Setelah pertemuannya dengan Rolland, Elsa terus duduk di dalam mobil sembari menatap kearah Cahya yang duduk sembari fokus pada iPad di tangannya.
"Sayang," tiba-tiba tanya Elsa ketika mobil mereka telah berjalan cukup lama dan pria itu sama sekali tidak menghiraukannya.
"Ada apa?" Cahya bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari iPad di tangannya, pria itu masih terlalu fokus pada ipad-nya hingga tidak punya waktu untuk melirik kearah Elsa.
Hal itu membuat Elsa menjadi semakin geram lalu dia berpindah posisi tempat duduk dan mendekatkan dirinya dengan Cahya.
Perempuan itu melingkarkan tangannya di lengan Cahya dan menyandarkan kepalanya di bahu Cahya lalu mengintip ke arah iPad ditangan Cahya.
"Apakah iPad nya jauh lebih penting daripada aku dan bayi kita?" Rengek Elsa dengan suara manjanya.
"Jangan merengek sekarang," kata pria itu dengan acuh tak acuh karena informasi pada iPad yang ia tatap juga sangat penting untuk kelancaran bisnisnya.
"Baiklah," akhirnya Elsa menjawab dengan kesal sembari kembali ke tempat duduknya lalu menatap keluar jendela.
__ADS_1
Hal ini sudah biasa terjadi ketika pria itu sangat fokus dengan pekerjaan maka Cahya sama sekali tidak akan menghiraukan nya tetapi begitu pekerjaannya selesai pria itu pasti akan memanjakannya.
'Bagaimana bisa Patricia hamil anak Cahya? Bukankah selama ini dia tidak pernah bersentuhan dengan Cahya?' Elsa bertanya-tanya sembari memikirkan kejadian yang mungkin menjadi momen hal tersebut terjadi.
'Malam itu,,' Elsa kembali ingat pada malam ketika dia memberi obat pada Patricia di hotel.
'Aku sama sekali tidak ingat bagaimana dia meninggalkan hotel dan saat itu juga aku minum terlalu banyak dan--' wajah Elsa menjadi pucat ketika dia ingat kalau ternyata pada malam itu dia dan Cahya mabuk berat hingga pagi hari mereka bangun kesiangan.
'Nungkinkah malam itu ketika aku sudah tertidur dan Cahya masih menginginkannya,, tidak tidak, Cahya tidak mungkin mendekati Patricia dan melakukannya dengan Patricia didepanku.' gumamnya pada dirinya sendiri sembari perempuan itu berusaha menenangkan hatinya yang terlalu gelisah.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Cahya sembari membelai rambut Elsa dan memperhatikan perempuan yang terlihat tidak tenang.
"Bukan masalah besar. Aku hanya berpikir kalau aku belum memeriksakan kandungan ku selama aku hamil." Ucap Elsa berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk nya.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke rumah sakit." Tata Cahya lalu pria itu menoleh kearah supir dan menyuruh supir untuk melajukan mobil itu ke rumah sakit agar mereka bisa melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
Akhirnya keduanya tiba di salah satu rumah sakit pusat kota Bali yang merupakan rumah Sakit terbesar di kota itu. Mereka langsung pergi ke dokter spesialis kandungan untuk memeriksa kandungan.
Ketika mereka duduk menunggu, tiba-tiba saja Elsa dikejutkan oleh seseorang yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
'Patricia juga ada di sini, berarti benar dia memang hamil dan anak dalam kandungan nya,,' tatapan Elsa terpaku pada perut Patricia yang masih datar.
Bayi Cahya!
"Ada apa?" Cahya bertanya saat melihat Elsa malah fokus ke tempat lain.
"Bukan apa-apa." Jawab Elsa kembali menarik perhatiannya dari Patricia meski pikiran perempuan itu sedang bekerja keras untuk memikirkan sesuatu.
'Bayi yang ada di dalam kandungan Patricia kemungkinan besar adalah bayi yang tercipta pada malam itu, semuanya sesuai dengan hasil pemeriksaan yang kubaca itu. Kalau begitu, bayi itu akan menjadi saingan bayiku dan bisa jadi--' Elsa menelan air liurnya kala dia tidak mampu membayangkan ketika cahaya mengetahui Patricia juga hamil anaknya. Apalagi jika anak yang dikandung Patricia adalah seorang lelaki dan anak yang dikandungnya adalah seorang perempuan.
'Tidak tidak, aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi, hanya aku yang boleh mengandung anak Cahya!' Elsa berusaha memfokuskan pikirannya dan mencari cara untuk mengamankan posisinya dan posisi bayi yang di kandungan nya.
__ADS_1