Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C50. Saya tidak dengar apa pun!


__ADS_3

Patricia memasuki departemennya dan terkejut melihat semua orang memandang ke arahnya.


'Hah, ini pasti karena kejadian di kantin.' Patricia menghela nafas dengan besar lalu dia berjalan ke mejanya.


Baru saja Patricia akan duduk ketika sebuah suara menghentikannya.


"Kau sudah kembali? Dari mana saja kau hingga terlambat 1 menit?!" Tanya Sarah sembari memandang marah pada perempuan yang kini berdiri tegak di depannya.


Patricia melihat arlojinya dan waktunya tepat menunjukkan pukul 13.30.


"Aku datang tepat waktu, tidak terlambat sedetikpun." Kata Patricia dengan tenang.


"Berani sekali kau membantah atasanmu! Ingin di pecat?!" Teriak Sarah.


"Maaf Kak Sarah, tapi kalau Kak Sarah ingin memecatku maka Kak Sarah harus berbicara dengan CEO, saya memasuki perusahaan ini khusus menandatangani perjanjian antara saya dengan CEO. Jadi saya kuwatir kal--"


"Apa kau pikir CEO akan mendengar kamu daripada aku?! Baru saja di kantin kau merayu wakil CEO dan sekarang kau tidak kembali tepat waktu, apa kau pikir CEO bisa menolerir hal ini?!" Teriak Sarah dengan marah.


'Hah,,, sepertinya aku harus mengalah.' gumam Patricia melihat ke arah CCTV, dia yakin saat ini suaminya sedang menonton mereka.


Bila suaminya melihat dia terus dimarahi di tempat kerjanya, pria itu pasti akan mengamuk lagi dan tidak akan membiarkannya menjalankan rencananya!


"Baiklah aku salah. Maaf," ucap Patricia dengan rendah hati.


"Maaf?! Kau pikir itu cukup untuk menutupi seluruh kesalahanmu?! Cepat buatkan kopi untuk semua orang!" Geram Sarah lalu perempuan itu pergi meninggalkan Patricia dengan kesal.


'Sial, bagaimana bisa dia menandatangani kontrak secara langsung dengan CEO? Aku harus memastikan ini!' gumam Sarah yang tidak mau bertindak gegabah.


Dia tahu kalau Patricia adalah mantan seorang CEO jadi tentu saja perempuan itu jauh lebih berbakat darinya.


Namun dia punya cara yang lebih baik untuk mempermalukan Patricia, menyuruh perempuan itu melayani semua orang di sini.


Tidak ada yang lebih memalukan dari pada posisi seorang CEO turun menjadi seorang pesuruh!


"Kak Sarah, ini kopi milik Kak Sita." Patricia meletakkan kopi milik Sarah di meja kerja perempuan itu.


Sarah melihat kopi yang dibuat Patricia lalu berkata "Buatkan lagi."


"Bagaimana selera Kak Sarah? Kopi ini saya buat dengan setengah sendok kopi dan satu sendok gula lalu di siram dengan air bersuhu--"


"Kau berani bertanya?! Tebak sendiri dan bawa lagi kemari!" Bentak Sarah lalu perempuan itu kembali fokus pada laptopnya mengabaikan Patricia yang sudah keluar dari ruangannya.


Dia membuka laman CCTV di komputernya dan melihat Patricia keluar dengan wajah yang tenang lalu berjalan ke dapur.


Patricia terlihat bermain ponsel 2 menit di dapur lalu perempuan itu kembali mengangkat baki berisi kopi yang tadi di bawah dari ruangan Sarah.

__ADS_1


"He,, dia tidak membuat ulang dan membawakanku kopi yang sama?" Sarah tersenyum menghina.


Dia sudah merasa tenang tentang CCTV yang dipasang di departemennya karena ternyata CCTV itu dimaksudkan supaya dia dapat mengawasi kinerja bawahannya.


"Kak Sarah, ini kopinya." Ucap Patricia ketika dia tiba di ruangan Sarah dan meletakkan kopi tersebut di meja kerja Sarah.


"Buat lagi." Perintah Sarah saat perempuan itu mengambil sebuah dokumen untuk dibaca.


"Baik," jawab Patricia lalu dia keluar membawa kopinya dan menunggu beberapa waktu sebelum kembali membawa kopi yang tadi ke ruangan Sarah.


Patricia merasa lega ketika Sarah mengambil gelas kopi itu dan mencicipi rasanya.


Namun detik berikutnya Sarah malah melemparkan gelas itu ke arah Patricia hingga kopi di dalam gelas itu tumpah di bajunya.


"Ahh..." Jerit Patricia.


"Kau pikir aku tidak tahu kalau kopi ini tidak kau ganti?! Kau pikir aku bodoh?!" Teriak Sarah dengan marah.


"Maaf Kak Sarah, bukankah tadi aku sudah menanyakan bagaimana selera Kak Sarah? Tapi Kak Sarah tidak mengatakan apapun dan hanya menyuruh menebaknya, jadi aku menembak kalau kopi buatanku sudah cocok dengan Kak Sarah, hanya saja Kak Sarah belum sempat mencobanya." Jawab Patricia.


"Berani membantah?! Mau di hukum lagi?!" Sarah menggertakkan giginya menatap Patricia.


"Maaf Kak Sarah." Patricia berusaha menahan diri.


Dari awal dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, kalau dia memilih untuk turun jabatan maka dia harus menerima dirinya diperlakukan seperti ini.


"Kalau begitu cepat buat ulang kopinya!" Perintah Sarah dengan kesal.


Akhirnya, seharian itu sampai jam pulang Patricia hanya bolak-balik ke dapur membuat kopi.


Semua orang menertawakannya dan mengatakan penghinaan pada Patricia.


Ketika semua orang akan pulang Patricia baru bisa duduk di tempatnya karena dia hendak mematikan komputernya.


"Untuk apa di matikan?" Sarah datang membawa setumpuk dokumen dan meletakkannya di meja Patricia.


"Besok pagi semua berkas ini harus ada di ruangan ku! Juga,, jangan datang terlambat!" Perintah Sarah lalu perempuan itu bergegas meninggalkan Patricia yang menatap dokumen dengan wajah yang kesal.


"Hei,, selamat menikmati neraka." Sala satu perempuan menghina Patricia saat melihat Sarah sudah keluar dari ruangan.


"Kalau kau lelah, kau bisa mengajukan surat pengunduran diri..!" Perempuan yang lain menyambung dengan wajah mengejek.


"Selamat bersenang-senang," Semua karyawan meninggalkan Patricia dengan satu kalimat ejekan.


Setelah ruangan kosong, Patricia mengambil ponselnya untuk mengirim permintaan maaf pada suaminya sebab dia tidak bisa pulang dengan cepat.

__ADS_1


Setelahnya Patricia mulai mengerjakan pekerjaannya sampai dua orang pria menghampirinya.


"Suami?! Kenapa di sini?" Tanya Patricia langsung berdiri, ia terkejut melihat Lewi.


"Ayo pulang." Ucap Lewi mengulurkan tangannya memberi isyarat supaya Patricia mendekat ke arahnya.


"Tapi ini,," Patricia menatap tumpukan dokumennya.


"Nyonya tenang saja, saya yang akan mengurusnya." Ucap Jun sambil tersenyum.


"Ok," Patricia langsung mengukir senyum indah di wajahnya lalu dia menghampiri Lewi dan mendorong kursi roda pria itu.


Begitu berada dalam mobil, Patricia langsung diberikan sebuah tas.


"Apa ini?" Tanya Patricia.


"Ganti bajumu," ucap Lewi melihat pakaian Patricia yang kotor.


"Tidak usah, aku akan menggantinya begitu kita tiba di rumah." Kata Patricia menyisihkan tas itu ke sampingnya.


"Besok adalah hari terakhirmu berada di tempat itu." Ucap Lewi mengagetkan Patricia yang hendak bersandar manja di bahu Lewi.


"Apa?!" Patricia menatap suaminya dengan tak percaya.


Apakah otak Lewi sudah terbalik?


Bagaimana kalau sandiwara mereka ketahuan?!


"Kau takut pada pria itu?" Lewi mengeryit.


"Bukan,, bukan begitu, tapi kalau aku kembali ke ruanganmu, bukankah itu akan menimbulkan curiga? Kau mengusirku lalu memanggilku kembali?!" Patricia menjelaskan.


"Lalu kau pikir aku tega melihatmu di tindas oleh orang-orang rendahan itu?! Tidak! Aku akan melakukan sesuatu besok, jadi kau hanya perlu duduk manis, Ok?!" Lewi menepuk pelan kepala Patricia.


"Apa yang akan kau lakukan?!" Patricia masih curiga.


"Aku akan menceritakannya setelah kau makan sosis." Jawab Lewi langsung membakar wajah Patricia.


Perempuan itu langsung menoleh pada Jun yang sedang menyetir.


'Tenang saja Nyonya, saya tidak dengar apa pun!' Gumam Jun dalam hati.


@Interaksi


__ADS_1


Otor udh tobat, gak mau lagi nyiksa orang, kalo mau balas dendam bisa cari Dewa di kota FF ya....


__ADS_2