
Keesokan harinya ketika Patricia tiba di kantor dia melihat kantor masih sangat sepi, belum ada satupun karyawan di departemennya yang datang.
"Ketenangan seperti ini adalah dunia yang paling indah." Ucapnya duduk di kursinya lalu menyalakan komputernya.
Patricia melihat file yang yang berisi dokumen-dokumen yang telah dikerjakan Jun untuknya.
"Jun benar benar hebat," Patricia memuji Jun yang bisa menyelesaikan pekerjaan itu dalam waktu yang cepat.
Dia segera mencetak dokumen dokumen itu lalu mempelajarinya.
Patricia sejak dulu sudah memiliki kemampuan menghafal yang sangat baik jadi dia dengan cepat memahami dokumen-dokumen itu.
"Pantas saja dia bisa menjadi asisten kepercayaan suamiku, pekerjaan Jun sangat baik." Patricia kembali memuji ketika dia selesai mempelajari semua dokumen.
Saat itulah satu persatu orang telah memasuki ruangan.
"Buatkan kopi," Sita langsung memberi perintah pada Patricia lalu terus melangkahkan kakinya untuk duduk di meja kerjanya.
Patricia segera berdiri dan berjalan kearah dapur ketika tiga orang perempuan juga memasuki ruangan.
"Buatkan kami juga." Teriak salah satu perempuan dari belakang Patricia membuat Patricia menghela nafas lalu terus berjalan kearah dapur.
Setelah selesai membuat kopi dia mengantarkannya ke meja masing-masing perempuan yang meminta kopi.
Setelahnya, Patricia kembali ke meja kerjanya mengambil tumpukan dokumen yang sudah ia cetak lalu membawanya keruangan Sarah.
Baru saja Patricia akan keluar dari ruangan Sarah ketika Sarah sudah tiba di ruangannya.
"Selamat Pagi Kak Sarah," kata Patricia dengan sopan.
"Hm," Sarah melihat tumpukan dokumen yang diletakkan Patricia "Apa semuanya sudah?" Tanyanya tak yakin.
Dia melihat wajah Patricia begitu segar, jadi dia begitu ragu kalau Patricia sudah menyelesaikan semuanya.
"Sudah," jawab Patricia.
"Baiklah, kau boleh keluar." Perintah Sarah lalu kedua perempuan itu segera berpisah.
Sarah duduk di kursi kebesarannya dan memeriksa dokumen yang dibawa oleh Patricia.
Dia hanya membaca sekilas namun dia juga sangat terkejut karena ternyata pekerjaan Patricia benar-benar hebat.
__ADS_1
'Sial..! Dia melakukannya dengan sangat baik seperti ini!' Sita merasa tak percaya.
Jika itu orang biasa maka waktu satu malam tidak akan cukup untuk menyelesaikan pekerjaan sebanyak itu. Bahkan jika pekerjaan itu dilakukan dengan sangat biasa-biasa saja, sementara ini hasilnya luar biasa hebat.
"Apakah dia sengaja menyombongkan diri? Hah,, mengatakan padaku bahwa seorang mantan CEO bekerja jauh lebih baik daripada karyawan biasa?" Sarah berdecak dengan kesal.
Dia mengambil dokumen itu untuk mengembalikannya pada Patricia supaya dikerja ulang, tapi kemudian salah seorang bawahannya memasuki ruangannya.
"Kak Sarah, meeting yang seharusnya dilakukan nanti siang dipercepat menjadi pagi ini jam 9." Kata Dinda.
"Benarkah? Kalau begitu cepat bersiap. 2 orang dari kalian akan pergi bersamaku untuk mengikuti rapatnya." Perintah Sarah mengurungkan niatnya untuk kembali merundung Patricia karena dokumen yang sudah dikerjakan Patricia harus dibawa ke ruang meeting.
"Baik Kak Sarah," jawab Dinda lalu perempuan itu segera keluar menemui Sita untuk mengajak Sita mengikuti meeting.
"Apa?! Aku diajak?" Sita berseru sangat senang, ternyata bukan Patricia yang mengikuti meetingnya melainkan dirinya.
Biasanya, setiap kali ada meeting besar seperti itu maka siapapun yang mengerjakan berkas yang akan dibawa maka dialah yang mengikuti meeting.
"Tentu saja! Kan kau yang mengerjakan berkasnya."
"Iya, benar, tapi ku pikir pekerjaanku sangat buruk hingga Kak Sarah kembali menyuruh perempuan itu mengerjakannya." Ucap Sita melihat kearah Patricia dengan wajah angkuhnya.
"Haha.... Kalau pekerjaannya yang dipilih maka Kak Sarah tidak mungkin menyuruhku memanggilmu untuk mengikuti rapatnya bukan?" Dinda berkata sembari tersenyum.
"Kau benar, aku rasa kemampuan CEO grup Siloam hanya sebanding dengan kemampuan karyawan biasa di grup Azura."
"Atau jangan-jangan dia hanya CEO yang disetir dari belakang?!" Para karyawan yang berada di ruangan itu satu persatu menyatakan pendapatnya, semuanya memuji Sita dan merendahkan Patricia.
'Hah,, Aku harap pria itu hanya bisa menyadap gambar dari sini dan tidak bisa menyadap suara.' gumam Patricia dalam hati, dia merasa sangat cemas kalau pria itu benar-benar akan memecat semua orang di departemen itu.
Dan benar saja apa yang dipikirkan Patricia, di ruang CEO group Azura, Lewi benar-benar marah mendengar ucapan para perempuan itu.
"Tuan," Jun yang berdiri di depan Lewi memegang erat berkas-berkas di tangannya.
Rapatnya akan segera dimulai, tapi pria itu masih asik menonton CCTV yang merekam gerak-gerik istrinya, sementara beberapa dokumen yang lain harus segera diperiksa Lewi lalu diserahkan sebelum mereka mengikuti meeting.
"Pindahkan semua karyawan-karyawan ini ke perusahaan cabang di kota xx." Kata Lewi sembari mengulurkan tangannya sebagai isyarat pada Jun supaya pria itu memberikan berkas yang hendak ditandatangani sebelum mengikuti meeting.
Jun segera menyerahkan berkas-berkasnya lalu berkata "Di departemen Marketing terdapat 30 orang bersama Menager Marketing. Apakah semuanya.."
"Semua perempuan!" Selah Lewi.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawab Jun lalu pria itu segera meninggalkan ruangan Lewi.
'Apakah sekarang Tuan sudah tidak menganggap lelaki? Mengapa hanya Marah pada perempuan saja?'
Hampir satu jam Jun mengurus beberapa hal lalu pria itu kembali menemui Lewi lalu mendorong pria itu ke ruang meeting.
Begitu mereka memasuki ruang meeting, semua orang yang sudah siap langsung berdiri memberi hormat pada Lewi.
'Astaga,, tak menyangka ternyata CEO yang duduk di kursi roda benar-benar tampan. Bahkan jika dibandingkan dengan wakil CEO, wakil CEO masih kalah jauh Tuan CEO.' Sita bergumam dalam hatinya.
iItuadalah pertama kalinya dia mengikuti rapat yang dihadiri langsung oleh CEO dan wakil CEO.
Biasanya untuk rapat rapat seperti ini hanya wakil CEO saja yang memimpin, tapi ternyata kali ini dia sangat beruntung bisa melihat CEO dari dekat.
"Silahkan duduk," ucap Jun pada semua orang membuat Sita kebingungan.
Mengapa Asistennya yang berbicara? Mengapa bukan Tuan Lewi?
Namun begitu, sita menyimpan pertanyaan itu dalam hati dan tetap mengikuti semua orang duduk di kursinya.
Namun, bukan hanya Sita saja yang kebingungan, semua orang di dalam ruangan itu juga kebingungan sekaligus merasa takut karena Lewi terkenal sebagai orang yang sangat tegas dan tidak menolerir satupun kesalahan.
"Hari ini Tuan Lewi mengikuti rapat ini karena ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan. Jadi silakan memulai rapatnya seperti biasa dan tidak perlu terganggu dengan kehadiran Tuan Lewi." Jelas Jun.
"Baik Tuan," semua orang menjawab lalu rapat itu akhirnya dimulai.
Bla bla bla....
Semua orang mulai berdiskusi, meski awalnya mereka takut takut untuk berbicara tapi karena melihat Lewi yang bersikap acuh tak acuh dan Jun juga yang hanya berdiri di samping lewi tanpa mengatakan sepatah kata pun maka semua orang mulai berdiskusi dengan santai.
"Ternyata Tuan CEO tidak semenakutkan yang dibicarakan oleh orang-orang?" Sita berbisik pada Dinda saat rapat sudah setengah berjalan.
"Jangan bicara." Dinda memperingatkan Sita.
Mendengar itu, Sita menghela nafas dan diam saja di tempatnya.
"Manajer marketing, silahkan sampaikan pengamatan kalian mengenai keadaan pasar." Ucap Rolland menyentak Sita.
Akhirnya pekerjaannya akan dibacakan. Sungguh kebanggaan yang besar bahwa pekerjaannya akan langsung didengarkan oleh CEO grup Azura yang terkenal keras.
@Interaksi
__ADS_1
Terima kasih telah menjadikan Otor sebagai suami idaman 😘🥰