
Lewi dan Patricia segera tiba di kediaman keluarga Azura Patricia sudah tertidur dengan nafas teratur jadi Jun mendorong kursi roda Lewi hingga kedua orang itu tiba di kamar.
Begitu pintu kamar ditutup oleh Jun, Lewi segera bangkit dari kursi rodanya dan menggendong Patricia ke tempat tidur membaringkan perempuan itu lalu menyelimutinya.
"Mananya yang melakukan kewajiban istri di rumah?" Lewi tersenyum kecil lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Patricia.
Dia segera masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya sebelum kembali bersama sebaskom air hangat dan selembar handuk kecil, ia membersihkan seluruh tubuh Patricia lalu mengganti pakaian perempuan itu.
"Tidur begitu lelap, Apakah kau kelelahan karena aku membuatmu bekerja seharian?" Lewi memandangi wajah damai Patricia dan dalam hatinya dia merasa bersalah karena sudah membuat istrinya yang sedang hamil muda bekerja seharian tanpa istirahat.
Setelah membereskan seluruh peralatan untuk membersihkan tubuh Patricia, Lewi kemudian naik ke tempat tidur dan memeluk Patricia untuk masuk ke dalam tidurnya.
Namun pria itu belum memejamkan matanya ketika perutnya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
"Hah,," Lewi segera bangkit dan berlari ke kamar mandi.
Sepanjang malam dihabiskan pria itu bolak-balik ke kamar mandi, tapi ia cukup lega karena Patricia tidak terganggu dalam tidurnya dan perempuan itu sepertinya tidak tersakiti oleh rujak yang telah mereka makan.
...
Pagi hari, burung-burung berkicau dan mentari menembus jendela kamar Patricia dan Lewi.
Lewi mengerjapkan matanya yang masih terasa sangat mengantuk karena kemarin malam tidak tidur dengan nyenyak.
Namun ketika dia melihat istrinya, dia kembali tersenyum karena istrinya masih tertidur dengan pulas.
Lewi segera bangun dan naik ke kursi rodanya lalu membuka pintu kamarnya, ia mendapat Jun sedang berdiri di sana.
"Bantu aku bersiap." Kata pria itu membiarkan Jun masuk dan membantunya bersiap.
Setelah selesai, Lewi menatap Patricia yang masih terlelap di tempat tidur.
"Atur seorang pelayan dan supir untuknya," kata Lewi pada Jun.
"Baik Tuan." Jawab Jun lalu pria itu segera mendorong Lewi keluar dari kamar dan mengantar pria itu ke kantor.
Pukul 10.00 ketika Patricia mengerjapkan matanya dan melihat matahari sudah sangat tinggi. Bahkan tempat tidur disampingnya telah kosong!
"Astaga!" Perempuan itu segera berdiri dan melihat jam yang diletakkan di atas meja.
__ADS_1
"Perempuan bodoh!" Gerutu Patricia pada dirinya sendiri lalu dia segera masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk meninggalkan kediaman keluarga Azura.
Patricia terburu-buru turun ke lantai bawah, ia terkejut ketika melihat Rolland berada di depan dan hendak berangkat ke kantor.
"Kakak Ipar," Rolland tersenyum menyapa Patricia dengan ramah.
'Mengapa pria ini masih disini? Bukankah ini sudah pukul 11.00, harusnya dia sudah berada di kantor bukan?'
Patricia melemparkan senyum pada Roland, dia tidak berniat berbicara dengan pria itu jadi dia segera menuruni tangga menuju ke mobil yang sudah disiapkan oleh Jun.
"Kakak ipar mau ke kantor? Bagaimana kalau kita berangkat bersama?" Roland menawarkan tumpangan.
"Maaf, tapi suamiku sudah menyiapkan sopir untukku." Jawab Patricia lalu perempuan itu segera berjalan ke arah mobil yang sudah menunggunya.
"Tapi Aku ingin membahas sesuatu yang penting dengan kakak ipar. Ini tentang hubungan kakak ipar dengan kakak pertamaku." Kata Rolland menghentikan langkah Patricia.
"Apa maksudmu?" Patricia berbalik menatap Rolland dengan kening yang sedikit mengerut.
Apakah pria didepannya sedang berusaha untuk mencampuri urusan rumah tangganya?
"Ini sesuatu yang penting, kalau kakak ipar tidak keberatan kita bisa berangkat bersama dan aku akan menceritakannya di dalam mobil." Wajah Rolland terlihat meyakinkan.
Dengan sebuah anggukan pelan Rolland menjawab pertanyaan Patricia.
"Baiklah, tunggu sebentar." Kata Patricia meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya.
Rolland tidak memperdulikan Patricia yang mengambil ponselnya, pria itu segera masuk ke dalam mobil untuk menunggu Patricia.
Drttt... Drttt.....
Patricia menelpon Lewi sebanyak 2 kali tapi karena pria itu sedang berada dalam ruang meeting dan meninggalkan ponselnya di ruang kerjanya, maka tidak ada yang mengangkat panggilannya.
"Sial.. dia akan marah besar jika aku tidak memberitahunya." Patricia menggerutu dengan kesal lalu dia mengirim sebuah pesan singkat pada suaminya sebelum masuk ke dalam mobil adik iparnya.
Di dalam mobil sama Patricia selesai memasang sabuk pengamannya dan dia diam-diam menyalakan alat perekam di ponselnya sebagai salah satu cara untuk berjaga-jaga kalau sampai suaminya menjadi marah.
"Apa yang ingin kau katakan?" Patricia bertanya tanpa basa-basi.
"Pertama-tama aku minta maaf pada kakak ipar karena sudah menyelidiki kakak ipar."
__ADS_1
"Apa? Kau menyelidiki ku?" Patricia benar-benar tidak percaya, bagaimana bisa pria itu menyelidikinya?! Sangat melanggar privasi!
"Maaf, ini hanya prosedur yang dilakukan setiap kali ada anggota baru yang masuk kedalam kediaman Azura."
"Lalu, apa yang kau dapatkan?" Patricia bertanya sembari jari-jari tangannya mengusap telapak tangannya.
Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres meski dia tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan sebuah kesalahan.
"Ini tentang kehamilan kakak ipar," Rolland menggantung ucapannya sembari menatap raut wajah yang dipancarkan oleh Patricia.
Patricia tampak tenang, tentu saja karena anak dalam kandungan nya adalah anak suaminya sendiri jadi dia tidak takut apapun.
Hal itu membaut Rolland terpukau, perempuan itu pandai menyembunyikan perasaannya.
"Aku tahu kalau anak dalam kandungan kakak ipar bukanlah anak milik kakak pertamaku, dan aku juga tahu kalau kakakku memperlakukan Kakak Ipar dengan buruk dan bahkan--"
"Langsung saja pada intinya." Patricia memotong ucapan Rolland karena tidak ingin berbasa-basi dengan pria itu.
"Aku hanya ingin membantu kakak ipar keluar dari situasi yang kakak ipar hadapi." Ucap Rolland.
"Katakan dengan jelas." Lagi kata Patricia.
Rolland mengendalikan emosinya dalam hati, perempuan di sampingnya memang benar-benar pantas menjadi miliknya karena Patricia adalah perempuan yang pintar dan pandai membaca situasi.
"Aku bisa membantu kakak ipar lepas dari kakak pertama sebelum kehamilan Kakak ipar terbongkar. Aku bersedia menerima anak itu dan--"
"He,, kau benar-benar lancang! Bagaimana bisa kau memiliki pikiran untuk merebut istri Kakak pertama mu sendiri?! Ck,, orang-orang di keluarga Azura memang memiliki sisi buruk masing-masing. Selain Kakakmu si pria cacat yang kejam itu, kau juga memiliki seorang adik dengan mulut yang tidak bisa di jaga. Dan kau,,, he, putra-putra dari keluarga Azura memang patut untuk di acungi jempol." Setelah Patricia mengatakan itu, mobil langsung menepi ke pinggir jalan dan berhenti di bawah pohon besar.
Tanpa sadar Patricia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu mobil, tapi Rolland telah menguncinya hingga dia tidak punya pilihan lain selain duduk di tempatnya dengan wajah yang berjaga-jaga.
"Apa yang kau inginkan?!" Patricia memandang pada Rolland yang terlihat penuh emosi.
"Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari Kakak Pertamaku, mengapa kau malah menghinaku dan keluargaku?!" Rolland bertanya dengan wajah yang rumit.
"Tapi aku tidak ingin dimiliki olehmu! Lagi pula, apa yang kukatakan itu, semuanya adalah kenyataan!" Jawab Patricia dengan tegas.
Rolland menghela nafas dan duduk dengan diam, ia menekan emosinya sebelum kembali menatap Patricia "Maaf, aku tidak ingin membuatmu takut. Tapi aku hanya benar-benar ingin melindungimu." Kata pria itu segera menjalankan mobilnya ke kantor.
Sebaiknya jangan membuat Patricia takut padanya, atau jalannya memiliki semua kepunyaan Lewi akan tertutup!
__ADS_1