
Elsa dan Cahya masih Sementara menunggu nomor antrian mereka ketika Cahya tiba-tiba mendapat telepon dari rekan bisnisnya.
"Ada apa?" Tanya Elsa ketika Cahya telah selesai menerima telepon dan tampak di wajah pria itu sebuah rasa terburu-buru dan juga rasa bersalah.
"Hal mendesak dari kantor. Bagaimana kalau kita memeriksakan kandungan mu besok saja?" Tanya Cahya yang merasa bersalah pada calon istrinya.
'Justru Ini malah bagus, aku akan tetap tinggal dan memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu pada Patricia tanpa harus memikirkan cara untuk menghindari Cahya mengetahui rencana ku.' kata Elsa dalam hati lalu dia tersenyum menatap Cahya.
"Kembalilah, aku akan menunggu sendiri disini. Nanti akan ku bawakan hasil USG anak kita." Ucap Elsa pada Cahya.
"Kau yakin mau tinggal sendirian?" Cahya kembali bertanya.
"Tentu saja! Aku bukan perempuan lemah yang apa-apa harus ditemani olehmu. Cukup siapkan supir yang akan mengantarkan pulang." Ucap Elsa dengan wajah meyakinkan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh seseorang untuk menemani mu disini." Cahya kemudian memeluk Elsa selama beberapa waktu lalu pria itu berlalu meninggalkan Elsa yang duduk sendirian.
Akhirnya setelah Cahya pergi, Elsa menggunakan koneksinya dan menghubungi dokter yang bertugas.
"Silahkan duduk." Ucap sang dokter yang sebenarnya tidak suka dengan cara Elsa yang menerobos antrian menggunakan koneksinya.
Tapi apa yang bisa dia perbuat kala dia adalah dokter yang dikontrak oleh pihak rumah sakit dan kepala rumah sakit sudah menurunkan perintah secara langsung agar Elsa lebih dulu ditangani.
Jadi dokter itu hanya bisa mengikuti perintah dari atasannya dan segera melayani Elsa sembari menahan kekesalannya.
"Semuanya baik, kondisi janinnya normal dan sehat." Kata Sang dokter.
"Bagus, kalau begitu saya ingin meminta tolong supaya pasien yang bernama Patricia, dokter tolong menyarankan kepadanya supaya kandungannya digugurkan." Ucap Elsa langsung pada intinya membuat sang dokter kebingungan dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Maaf, apa maksud Nyonya?" Tanya dokter itu dengan hati-hati.
"Saya tahu dokter terkejut, tapi apa yang dokter dengarkan adalah sebuah kebenaran. Saya mau pasien bernama Patricia yang datang memeriksakan kandungannya harus diberi saran supaya dia menggugurkan kandungannya. Apapun alasannya saya tidak peduli yang penting kandungannya harus digugurkan!" Ucap Elsa dengan tegas.
"Maaf, tapi--"
"Kalau dokter tidak mau maka saya bisa menjamin kalau dokter akan langsung dipecat dari rumah sakit ini dan tidak ada lagi rumah sakit lain yang bisa menerima dokter untuk bekerja. Dan juga,, saya tahu dokter memiliki seorang anak perempuan yang sedang bersekolah di luar negeri 'kan?" Ucapan Elsa langsung membuat wajah dokter yang bertugas itu menjadi pucat pasi.
"Saya tidak suka berbasa-basi dan saya harap saya akan mendapat informasi yang memuaskan. Oya, terima kasih telah memeriksa bayi saya dengan baik." Kata Elsa segera berdiri meninggalkan ruangan dimana dokter itu masih berwajah pucat dan tak mampu mengatakan apapun.
'Haha.... Ada untungnya juga Aku mencari tahu tentang dokter itu. Hanya sedikit gertakan dan dia sudah berwajah sangat pucat..' gumam Elsa merasa sangat senang.
Dia melihat Patricia hanya datang sendirian tanpa ada keluarga Azura yang menemani, jadi tentulah itu karena keluarga Azura tidak mengetahui apapun tentang kehamilan Patricia.
__ADS_1
Jadi dia semakin percaya diri untuk melakukan apapun pada Patricia karena keluarga Azura juga tidak memperdulikan Patricia.
Tidak ada yang perlu ditakuti!