
Ketika Rolland tiba di lobby perusahaan, Rolland tidak mendapati Patricia di sana, sepertinya perempuan itu telah berangkat lebih dulu jadi pria itu langsung menaiki mobilnya dan mengendara ke restoran xx.
Sementara di restoran xx, Patricia telah tiba dan mengecek segala persiapan. Perempuan itu kemudian duduk di salah satu kursi yang cukup nyaman karena berada di dekat jendela.
Demi kenyamanan pertemuan mereka, restoran yang merupakan restoran Azura group telah dikosongkan satu lantai.
Drrtttt....
Drrtttt....
Drrtttt....
"Suami?" Patricia menjawab telepon itu dengan wajah berseri-seri sembari melihat ke arah jalan yang yang ada di bawahnya.
"Apakah kau benar-benar tidak perlu ditemani?" Tanya Lewi dari seberang telepon karena pria itu tahu kalau saat ini Patricia akan bertemu dengan adiknya dan mantan suaminya.
"Apa yang kau pikirkan?! Aku juga tidak menemui mereka sendirian, ada Rolland bersamaku yang akan membahas kontrak kerjasama dengan ku. Juga, disini masih ada beberapa pelayan Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun." Jawab Patricia.
__ADS_1
"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu kau harus cepat menghubungiku. Juga, jangan lupa janjimu kemarin malam. Mengerti?" Suara Lewi dari seberang telepon terdengar sangat dominan dan memaksa, tapi Patricia sudah terbiasa dengan sikap suaminya yang seperti itu jadi perempuan itu hanya tersenyum dan menganggapnya sebagai sesuatu yang romantis.
"Iya suamiku yang tampan!" Jawab Patricia sembari tertawa dengan pipi merona.
"Beri aku ciuman sebelum kau bertemu dengan mantan suamimu!" Suara Lewi dari seberang telepon kembali membuat Patricia menjadi semakin melebarkan senyumnya lalu dia kemudian mendekatkan ponselnya ke bibirnya.
"Muah muah mu--" Patricia tidak melanjutkan ciuman yang ketiga dan malah menekan tombol reject karena ternyata Rolland sudah datang dan pria itu telah berdiri di sampingnya.
Wajah orang tidak terlihat sedap dipandang seolah pria itu baru saja diselingkuhi, seolah pria itu baru saja dibohongi oleh kekasihnya.
Patricia menghela nafas lalu menyimpan ponselnya ke dalam tasnya dan kembali bersikap tenang.
Tapi Rolland, pria itu tidak bergeming dan hanya berdiri menatap Patricia.
'Bukankah Lewi sudah membaca hasil pemeriksaan Patricia? Tapi mengapa bukannya mereka menjadi cekcok karena surat itu malah menjadi semakin dekat dan bahkan Lewi mengumumkan pada semua orang kalau Patricia adalah istrinya?' Rolan tidak bisa menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan dalam hatinya.
Pria itu hendak bertanya ketika perwakilan dari grup Siloam ternyata sudah datang.
__ADS_1
"Halo Tuan Cahya dan Nona Elsa," Patricia segera menyapa 2 orang yang sudah menyakitinya itu dengan raut wajah yang tenang.
Dia merindukan adiknya, tapi terlihat adiknya hanya datang menyombongkan segala miliknya yang telah dirampas, jadi Patricia tidak mau bersikap layaknya keluarga.
Cukup sebagai rekan kerja saja!
Ketenangan Patricia membuat Elsa mengerutkan keningnya dengan sangat dalam, 'Apakah sekarang dia berpura-pura bersikap tegar? Hah,, lucu sekali!'
Elsa mempererat pegangannya pada lengan Cahya lalu membalas sapaan Patricia sebelum ke empat orang itu akhirnya duduk di meja makan.
"Kami tahu kalau kalian berdua baru saja tiba dari luar negeri dan langsung menyempatkan diri untuk bertemu dengan kami, Kami merasa sangat terhormat untuk hal itu." Rolland memulai pembicaraan sembari menahan kegundahannya di dalam hatinya.
"Ya, tidak terlalu buruk naik pesawat berjam-jam, kami berdua sudah biasa melakukannya." Jawab Cahya dengan suara yang sangat unik miliknya membuat Patricia mau tak mau menatap pria itu beberapa detik.
"Benar sekali, karena Tuan dan Nona lelah dalam perjalanan, maka sebaiknya kita makan bersama sebelum membahas pekerjaan." Kata Patricia lalu beberapa pelayan yang telah diatur oleh Patricia segera memasuki tempat itu dan menyiapkan makanan untuk 4 orang yang duduk.
Selagi makanan disiapkan, Elsa tak henti-hentinya menancapkan kukunya ke telapak tangannya karena sangat marah melihat Patricia yang masih berani memandangi calon suaminya.
__ADS_1
'Sepertinya Kakak belum cukup menderita memasuki keluarga Siloam. Buktinya sekarang dia masih bisa bekerja dengan tenang dan memakai pakaian-pakaian bagus. Baiklah, kalau begitu aku akan membuat hidup Kakak benar-benar hancur!' geram Elsa dalam hati meski wajahnya menunjukkan ketenangan.