
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Elisabeth telah menyiapkan segala keperluan di restoran keluarganya untuk menyambut Rolland yang akan datang untuk membahas kerjasama dengan perusahaan mereka.
Perempuan paruh baya itu berdiri di depan restoran menunggu datangnya seseorang, namun dia terkejut ketika tiba-tiba saja tamu yang datang membuat matanya yang semulanya berbinar menunggu Rolland langsung menjadi redup dan karena melihat Patricia.
"Halo Tante," sapa Patricia dengan senyum cerah terpatri di wajahnya membuat Elizabeth menjadi semakin geram.
Dia tidak percaya kalau perempuan itu sudah sembuh dan kini sudah kembali seperti dulu, terlihat cantik dan.... Sial.. apa yang dia pikirkan?!
"Apa yang kau lakukan disini?!" Tanya Elizabeth dengan suara yang tidak bersahabat.
"Oh? Apakah Tante lupa? Bukankah Tante yang mengundang saya kemari?" Patricia berkata sembari memperhatikan restoran itu, semua dekorasi yang dulunya diatur olehnya telah diganti.
Jika dulunya restoran itu terlihat sederhana namun tampak mewah maka sekarang di desain menjadi sangat gemerlap selayaknya selera Tantenya yang selalu berlebihan.
"He,, kenapa aku harus mengundang orang cacat mental ke sini? Lagipula di tempat ini kau sudah tidak punya hak apapun lagi, jadi sekarang juga tinggalkan tempat ini sebelum aku memanggil satpam untuk mengusirmu!" Ancam Elisabeth dengan penuh kemarahan.
"Tante yakin mau mengusirku?" Tanya Patricia sembari menatap tantenya dengan penuh senyuman.
Tantenya masih sama seperti dulu, sering ceroboh tidak mencari tahu lebih dalam ketika akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan.
Tantenya itu hanya memikirkan keuntungan yang didapat dalam kerjasama hingga mengabaikan berbagai faktor lain yang sebenarnya jauh lebih penting untuk diketahui.
"Hah! Tentu saja aku yakin! Cepat pergi dari sini!" Suara Elizabeth sangat keras jadi beberapa tamu yang berada di restoran itu langsung mengarahkan perhatian mereka ke arah dua perempuan yang sedang bertengkar.
Patricia menyadari tatapan orang-orang jadi dia segera tersenyum lalu berkata "Kalau begitu jangan menyesal!"
"Huh, siapa juga yang akan menyesal!" Elizabeth menggertakkan giginya memandangi Patricia yang sudah melangkah keluar restoran untuk meninggalkan tempat itu.
Keluarnya Patricia bertepatan dengan datangnya Rolland, hal itu membuat Elizabeth langsung merubah ekspresinya menjadi ekspresi yang sangat ramah lalu berlari kecil mendekati Rolland.
"Tuan Rolland, selamat datang,," Elizabeth menyambut dengan senyum cerah di wajahnya tapi dia terkejut ketika pria itu tidak menghiraukannya dan malah melihat pada orang lain.
__ADS_1
"Kau sudah datang," tanya Rolland pada Patricia mengejutkan Elizabeth.
Patricia tersenyum menatap Roland lalu pada tantenya "Ya, tapi sepertinya grup Siloam tidak menyambut kita dengan baik, aku baru saja di usir." Ucap Patricia sedikit menghela nafas
"Apa?" Roland bertanya sembari mengerutkan keningnya lalu dia melihat kearah Elisabeth yang tampak pucat di samping Patricia.
"Astaga,, Patricia, bagaimana bisa kau menuduh tantemu seperti itu? Apakah kau dendam karena tante memaksamu menikah dengan Putra pertama dari keluarga Azura? Tapi itu bukan keinginan Tante, semua itu adalah keinginan adikmu, tante tidak bisa menolaknya karena dia juga mengancam tante." Ucap Elisabeth berakting sebagai pihak yang telah dituduh secara sembarangan.
"Tante, Apakah aku pernah bilang kalau aku tidak menerima pernikahanku dengan suamiku? Mengapa tante mengatakan aku seolah-olah menolak pernikahan itu?" Tanya Patricia mengejutkan dua orang di sana.
'Kenapa Patricia berkata seperti itu di depan tantenya? Apakah benar dia sebenarnya tidak menolak pernikahan itu?' Rolland berpikir menatap Patricia.
"Patricia, jangan berpura-pura! Bukankah dulu ketika tante membicarakannya dengan mu kau berpura-pura jatuh sakit dan terlihat seperti orang yang kehilangan jiwa hanya untuk menghindari pernikahan itu? Sayang sekali pernikahannya tidak bisa dibatalkan meski kau sudah berpura-pura sakit!" Ucap Elizabeth dengan tegas.
Ucapan Elizabeth langsung menenangkan hati Rolland yang sudah berkecamuk. 'Benar, Patricia tidak mungkin menerima pernikahan itu, karena dia adalah perempuan pintar yang tidak mungkin menerima dirinya dinikahkan dengan pria cacat!' gumam Rolland.
Rolland berpikir bahwa Lewi juga menyembunyikan fakta tentang kelumpuhannya dari Patricia.
"He, bagus, selain mengusir, tante juga menjelek-jelekan ku sekarang jadi aku rasa kerjasama ini sebaiknya dibatalkan saja!" Kata Patricia hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu namun tangannya dicekal oleh Rolland.
Kalau proyek Ini dibatalkan maka dia tidak punya alasan lain lagi untuk mendekati Patricia deni meluluhkan hati perempuan itu.
"Ada apa?" Tanya Patricia sembari melepaskan tangannya dari Rolland dan mundur selangkah untuk menjauhi pria itu.
"Tuan Rolland, Tolong jangan dengarkan dia, kami sangat ingin bekerjasama dengan grup Azura yang merupakan besan keluarga Siloam. Lagi pula, kerjasama ini sangat penting untuk kedua perusahaan." Ucap Elizabeth.
"Tantemu benar, kerjasama ini sangat penting untuk perusahaan, lagi pula kau tidak mungkin memberikan kerja sama ini pada perusahaan lain daripada memilih perusahaan keluargamu sendiri bukan?" Tanya Rolland pada Patricia.
Patricia berdiri di sana sembari menghela nafas, sangat penting untuk kedua perusahaan?
Baginya kerjasama ini tidak lebih penting daripada tujuannya untuk melihat bagaimana adiknya dimanfaatkan oleh tantenya.
__ADS_1
Lagi pula, kalau kerja sama Ini dibatalkan, masih banyak perusahaan lain yang jauh lebih baik untuk mengerjakan proyek ini ketimbang grup Siloam yang kini dipimpin oleh orang-orang tamak dan berhati dingin!
"Patricia," Rolland kembali berkata ketika melihat Patricia sangat bersikukuh.
"Baiklah, kerjasama ini akan tetap dilanjutkan kalau Tante minta maaf kepadaku." Kata Patricia sembari menatap tantenya dengan wajah datarnya.
'Aku akan mengikuti permainan tante, kita lihat siapa yang akhirnya tetap berdiri dengan tegak!'
"Kau..!" Elizabeth menahan kata-katanya di tenggorokannya, dia benar-benar tidak terima perempuan itu menyuruhnya untuk meminta maaf kepadanya.
Tapi dia harus bersabar untuk membuka jalan bagi kedua putrinya memasuki keluarga Azura, lalu setelah itu dia lah yang akan menginjak nginjak Patricia di keluarga Azura.
Perempuan itu menghela nafas meredakan emosi nya lalu berusaha tersenyum "Baiklah, bagaimanapun, urusan perusahaan jauh lebih penting daripada urusan bribadiku. Jadi aku minta maaf," kata Elizabeth.
"Huh, permintaan maaf yang tidak tulus!" Ucap Patricia hampir saja membuat Elizabeth meledak.
"Kalau kau menganggap permintaan maaf tadi tidak tulus maka sekali lagi aku minta maaf dengan tulus." Ucap Elizabeth sembari membungkukan badannya 90 derajat pada Patricia.
Ketika membungkuk dia menggertakkan giginya dan dengan mata memerah melihat kaki Patricia yang terbungkus dengan panthopel.
Seumur hidup dia belum pernah melakukan hal seperti ini untuk orang yang lebih muda darinya! Apa lagi Patricia...!
'Perempuan licik, tunggu waktunya,, Aku akan membuatmu berada di posisi ini, bahkan jika perlu kau harus mencium kakiku!' batinnya penuh kemarahan.
Melihat Elizabeth membungkuk padanya, Patricia akhirnya tersenyum.
"Dimana ruang pertemuannya?" Katanya mengabaikan permintaan maaf perempuan itu.
Dia tidak akan menerima permintaan maaf itu karena dia tahu kalau perempuan itu tidak pernah tulus meminta maaf.
@Interaksi
__ADS_1
Oh My Ghost.....!! Jelas ajah, imajinasimu menganggap tikus sebagai yang tertampan, tapi otor kan Manusia..! hehe,, emang gak sejajar...