
Patricia tertidur sampai sore dan ketika dia bangun, Lewi sudah menyiapkan makanan untuk Patricia.
"Bagaimana keadaan adikku? Apakah dia sudah selesai dioperasi?" Tanya Patricia.
"Sudah selesai dan dia sudah sadar tapi kau harus makan dulu sebelum menemuinya supaya dia tidak terkejut melihatmu dalam keadaan seperti ini." Kata Lewi mengambil makanan yang sudah ia siapkan untuk Patricia.
"Makanlah," kata Lewi mulai membantu Patricia menyuap sedikit demi sedikit makanan yang disiapkan olehnya.
"Apa kata dokter tentang nya?" Tanya Patricia sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
Dia sadar kalau dia menemui Elsa dalam keadaan yang kacau maka perempuan itu pasti akan semakin merasa bersalah.
"Baik-baik saja," jawab Lewi.
"Baguslah." Ucap Patricia mempercepat laju makannya karena dia tidak sabar menemui adiknya.
Akhirnya setelah makan, Lewi membantu Patricia bersih-bersih lalu mendandani perempuan itu supaya tidak terlihat pucat.
"Ini sudah cukup. Ayo pergi." Kata Patricia menarik suaminya keluar ruangan lalu mereka tiba di depan kamar Elsa.
"Patricia," Meilin yang sedang mengintip di kaca pintu segera menghampiri Patricia.
"Ada apa?" Tanya Patricia yang merasa heran dengan tingkah Meilin.
__ADS_1
"Sedari tadi dia menangis terus," ucap Meilin.
"Kenapa?" Patricia bertanya sembari mendorong pintu kamar dan memasuki kamar Elsa.
"Adik," katanya melihat perempuan yang sedang berbaring miring membelakanginya sambil menangis.
Elsa terkejut, dia langsung menghapus air matanya lalu berbalik melihat Patricia dan segera duduk.
"Kakak di sini," ucap Patricia segera memeluk Elsa lalu keduanya menangis bersama.
"Kakak, maaf,, Maafkan aku, aku tidak pantas lagi menjadi adikmu! Aku bahkan berani melukaimu dan berani melukaimu calon keponakanku yang masih berada dalam perut mu. Sekarang aku kehilangan anakku, ini adalah karma!" Isak Elsa.
"Jangan menyalahkan diri sendiri." Ucap Patricia mengelus punggung adiknya.
Dia baru menyadari kalau di dunia ini tidak ada yang memperlakukan nya dengan baik selain kakaknya sendiri.
Bahkan ketika semua orang meninggalkannya kakaknya masih ada di sisi-nya untuk mendukungnya.
Meilin dan Lewi yang melihat kedua orang itu tidak ingin mengganggu mereka jadi keduanya segera keluar dari kamar dan duduk menunggu di koridor.
Ponsel Lewi berbunyi jadi pria itu menghindar untuk menerima telepon sementara Meilin duduk dengan hening sampai ketika Kirana datang berlari dengan heboh.
Dia berhenti ketika mendengar suara tangis dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ada apa di dalam?" Tanya Kirana dengan nafas tersengal karena kelelahan.
"Jangan masuk." Ucap Meilin dengan acuh tak acuh.
"Tapi ini gawat! Baru saja Nona Elizabeth menghubungi seluruh dewan direksi untuk melakukan rapat dadakan! Sepertinya dia ingin melengserkan Nona Elsa dari posisi CEO dan mencabut semua kepemilikan sahamnya." Ucap Kirana.
"Kau ini bicara apa? Mana bisa saham seseorang bisa dicabut dengan sembarangan? Apalagi Elsa memiliki banyak saham di perusahaan itu." Ucap Meilin dengan kesal.
Informasi tidak berguna.
"Tentu saja bisa! Jika pemilik sahamnya melakukan sesuatu yang mempermalukan perusahaan dan mengancam stabilitas perusahaan maka perusahaan bisa membeli saham tersebut lewat persetujuan seluruh dewan direksi." Ucap Kirana segera membuat darah Meilin mendidih dan berdiri menatap Kirana.
"Apa ada aturan seperti itu?!" Tanyanya dengan kesal.
Kirana baru akan menjawab ketika melihat Lewi muncul dari belakang jadi perempuan itu segera membungkukkan badannya.
"Tu,, tuan Lewi." Ucap Kirana.
Ini pertama kalinya dia bertemu dengan orang yang digosipkan, sangat mengerikan bahkan lebih mengerikan dari Patricia.
"Rapatnya kapan?" Tanya Lewi.
"Sekitar 30 menit lagi," jawab Kirana dengan getam.
__ADS_1
"Apa?! Perempuan itu benar-benar terburu-buru untuk menguasai grup Siloam! Ini tidak bisa dibiarkan!" Umpat Meilin dengan kesal.