
Perjodohan yang tak bisa di tolak oleh Meilin dan Jun akhirnya dilaksanakan.
Meski pertemuan keluarga dilakukan langsung pada hari kedua setelah mereka dikabarkan akan bertunangan, Namun ternyata pernikahan mereka masih di tunda beberapa bulan untuk memberikan waktu bagi mereka berdua berkenalan.
Alhasil kemah pernikahan mereka baru dilaksanakan setelah 6 bulan lamaran mereka.
Saat itu, perut Patricia sudah sangat besar karena sedang menanti hari hari kelahiran bayinya.
"Apa?! Kau tidak mau kita pergi ke acara pernikahan Jun dan Meilin?" Patricia terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Istri, dokter mengatakan kalau bayi kita akan lahir minggu depan. Kalau kau masih kelelahan karena mengikuti acara pernikahan Jun dan Meilin maka-"
"Kau ini! Kita hanya terjadi pernikahan itu untuk duduk dan melihat saja lalu memberi selamat dan langsung pulang. Itu sama saja kalau aku tinggal di rumah dan duduk menunggu mu kembali dari kantor. Ok?!" Kata Patricia menatap suaminya dengan tatapan manja yang tak bisa ditolak oleh Lewi.
"Baiklah. Tapi selama di acara besok kau harus mendengarkan semua kata-kataku dan tidak boleh bandel. Tidak boleh menampakkan wajah seperti ini dan tidak boleh merengek apalagi mengancam! Mengerti?!"
"Mengerti!" Seru Patricia merasa sangat senang dan memeluk suaminya dengan erat.
Jadi akhirnya pada keesokan hari pada pukul 7 malam Patricia dan Lewi sudah berada di acara pernikahan Jun dan Meilin yang akan dilaksanakan.
__ADS_1
Di ruangan pengantin, Meilin duduk di balut indahnya gaun pengantin berwarna putih.
'Kenapa dia belum datang? Ini sudah pukul 7 malam. Apakah dia terlambat sedikit?' Pikir Meilin dengan gelisah.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Liona.
"Ya begitulah. Biasa ajah." Jawab Meilin dengan suara ketus meski dia sebenarnya sangat gugup.
Sudah 6 bulan mereka di paksa menerima satu sama lain, dan tak menyangka dia benar-benar jatuh cinta pada Jun.
Tapi sampai hari ini dia belum mendengar dari bibi Jun bahwa pria itu juga mencintainya, jadi dia hanya bersikap seolah tidak tertarik dengan pria itu meski Sebenarnya dia sangat senang dengan pernikahan mereka.
Elsa berlari ke dalam kamar dan duduk disamping Meilin menunggu masuknya pengantin pria untuk menjemput pengantin perempuan.
"Jangan gugup Kak," kata Elsa memegangi lengan Meilin meski Sebenarnya dia lah yang gugup.
Dia kan menjadi pengiring pengantin, menjadi orang nomor dua yang diperhatikan setelah sepasang pengantin yang berbahagia di hari itu.
Akhirnya kamar pengantin terbuka dan seorang pria yang dibalut jas hitam memasuki kamar sembari membawa buket bunga pengantin di tangannya.
__ADS_1
"Berdirilah," kata Liona pada Meilin ketika melihat perempuan itu masih setia duduk.
Meilin segera berdiri memandangi calon suaminya dan jantungnya berdegup kencang ketika Jun berjalan ke arahnya.
Pria itu kemudian berlutut di depannya memberikan buket bunga pengantin pada Meilin.
"Hari ini adalah hari yang bahagia karena kita akan mengikat janji suci, terimalah bunga ini sebagai salah satu tanda bahwa hari ini kau sudah siap menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupku." Kata Jun dengan lantang.
"Terima kasih." Ucap Meilin menerima bunga itu lalu segera berdiri.
"Pasangkan bunganya." Liona kembali memperingatkan Meilin dari belakang saat melihat perempuan itu hanya berdiri diam memegang sebuket bunga dan sepotong bunga lain di tangannya.
"Oh," Meilin tersentak kaget lalu dia mengangkat tangan kanannya yang memegang bunga kecil lalu menyelipkannya di dada kiri Jun.
"Bunga ini pun merupakan tanda bahwa hari ini aku telah siap menjadi satu-satunya perempuan dalam hidupmu dan menjadikanmu sebagai satu-satunya pria dalam hidupku." Kata Meilin dengan suara yang agak gemetaran.
'Apakah ini pilihan yang tepat? Bagaimana kalau ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan dan janji yang kami ucapkan hari ini harus diingkari di masa depan?' Pikir Meilin dalam hati.
__ADS_1