Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C53. Mengapa ada namaku di sini?!


__ADS_3

"Benar! Apa yang dikatakan oleh bawahanku itu benar! Laporan ini bukan dibuat oleh ku!" Sarah akhirnya bisa menggerakan bibirnya untuk berbicara.


Manajer keuangan yang mendengar ucapan Sarah tersenyum menghina lalu berkata "Tadinya ketika laporan ini begitu dipuji kau mengakuinya sebagai laporanmu, dan sekarang ketika laporan ini ketahuan merupakan hasil jiplakan kau menyangkal ucapanmu yang sebelumnya! Dan disini, kau berharap kami mempercayaimu? Ha ha ha...." Pria itu tertawa.


Di pojokkan hingga tak bisa lagi membela diri, Sarah berdiri melototi Menager keuangan dan berteriak keras "Tapi ini memang bukan laporan yang kubuat! Kalau kalian tidak percaya, kita bisa ke ruanganku sekarang untuk memeriksa komputerku, kupastikan tidak ada file-"


"Cukup!" Ucap Jun langsung menghentikan Sarah yang sedang berbicara.


"Tapi--"


"Kak Sarah duduklah," Dinda berbicara dengan pelan untuk mencegah Sarah semakin memancing amarah Lewi.


Kemarahan dalam hati Sarah belum sepenuhnya pulih, tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain duduk di kursinya dengan tubuh gemetaran.


Sudah berakhir.... Berakhir...!


"Rapat ini ditunda karena adanya insiden dari departemen marketing." Jun mengakhiri pembicaraan lalu mendorong kursi roda Lewi keluar dari ruang meeting disusul oleh Rolland yang juga ikut berdiri dan mengikuti dua orang itu untuk keluar.


Semua orang terdiam sampai ketika pintu ruang meeting telah ditutup dan Jun beserta Lewi sudah menghilang dari pandangan mereka barulah ruangan itu kembali riuh.


"Hah! Aku menantikan hal apa yang akan disampaikan oleh Tuan Lewi, tapi karena insiden memalukan dari departemen marketing, semuanya jadi berantakan seperti ini!"


"Tuan CEO sangat menghargai rapat ini karena produk yang akan kita luncurkan juga tidak main-main tapi karena manajer marketing berani melakukan hal memalukan maka semuanya jadi kacau! Entah bagaimana kita akan memperbaikinya pada Tuan CEO!"


Pertama kalinya Lewi mengikuti rapat dengan mereka, tapi ternyata pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai rapat dihentikan...!


Semua orang keluar dari ruangan itu kecuali Sarah, Dinda dan juga Sita yang masih duduk di kursi mereka masing-masing.


"Sialan! Perempuan itu sengaja menjebakku!" Tiba-tiba teriak Sarah sembari memukul meja lalu perempuan itu segera berdiri meninggalkan ruangan disusul Sita dan juga Dinda.


Ketiganya memasuki lift dan berdiri dengan pikiran mereka yang masing-masing sibuk pada suatu hal.


"Kak Sarah, sebaiknya kita kembali dan memaksa perempuan itu mengakui semua perbuatannya. Setelahnya, nama Kak Sarah pasti akan menjadi bersih lagi dan semuanya bisa kembali dengan normal." Sita memberi usul.


"Itulah yang akan kulakukan!" Ucap Sarah dengan mata dipenuhi kemarahan dan tangan perempuan itu terkepal sehingga bergetar.


Akhirnya mereka tiba juga di lantai departemen mereka dan Sarah segera memasuki ruangan dengan penuh kemarahan.


Wajah Sarah yang sangat tidak baik dipandang menarik perhatian semua karyawan yang ada disana hingga mereka langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan fokus pada Sarah.


"Kali ini apa lagi?" Karyawan bertanya satu sama lain sembari memperhatikan Sarah yang berjalan dengan cepat kemeja Patricia.


Prakkk.......!


Suara meja yang dipukul mengagetkan Patricia yang sedang fokus melihat koleksi busana seorang desainer terkenal.


Dari posisi Sarah berdiri, dia bisa melihat Apa yang sedang di perhatikan Patricia pada ponselnya, jadi perempuan itu menjadi semakin marah lalu merebut ponsel di tangan Patricia dan melemparkannya ke lantai hingga layar ponsel itu menggelap.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!" Patricia langsung berdiri dan memungut ponselnya.


Mendengar cara Patricia memanggilnya, Sarah menjadi semakin marah. Perempuan itu selalu memanggilnya dengan panggilan Kakak Sarah tapi sekarang,, baru saja perempuan itu tahu kalau rencananya sudah berhasil perempuan itu sudah merubah panggilannya menjadi 'Kau'?


"Oh tidak..." Patricia berusaha menyalakan ponselnya hingga mengabaikan perempuan yang kini mendekat untuk memukulnya.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Patricia.


"Kau..! Beraninya kau mempermalukan ku di depan semua orang?!" Teriak Sarah mendekati Patricia untuk memberi pelajaran.


Dalam sekejap Patricia maupun Sarah saling tarik-menarik rambut dan tidak ada yang berani mendekati mereka untuk memisahkan kedua perempuan itu.


Barulah ketika Rolland tiba di ruangan itu lalu Rolland memisahkan mereka.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Rolland pada Patricia.


"Ya," jawab Patricia memperbaiki rambutnya dan dari pintu masuk dia melihat Jun berdiri disana dengan nafas tersengal.


Mengangkat tangannya, Patricia memberi simbol 'ok' pada Jun.


"Apa yang terjadi?" Roland menarik fokusnya pada Sarah yang sementara menggertakkan giginya menatap Patricia.


"Perempuan itu, dia sudah menjebakku! Laporan itu bukan dibuat olehku, laporan itu dibuat oleh dia!" Teriak Sarah.


Mendengar ucapan dua orang itu, Rolland menoleh pada Patricia yang sudah duduk di kursinya sembari memperbaiki bajunya yang berantakan.


"Tolong tinggalkan aku." Langsung kata Patricia ketika menyadari tatapan Rolland.


Rolland melihat bahwa Patricia baik-baik saja dan tidak ada sedikitpun luka pada tubuhnya jadi pria itu berbalik menatap Sarah dan Sita.


"Kalian berdua dipe-"


"Nona Sarah," Jun tiba-tiba datang menghampiri mereka dan menyela ucapan Rolland.


"Tuan Jun, apakah Tuan kemari untuk memastikan Siapa yang membuat laporan itu?" Mata Sara menatap Jun dengan berkaca-kaca, dia merasa terharu bahwa pria itu benar-benar datang untuk membantunya.


Melihat Sarah, Jun menghela nafas lalu menyerahkan sebuah map berwarna coklat "Ini adalah daftar pemindahan karyawan." Kata Jun.


"Apa?!" Sarah menerima amplop itu dengan tangan bergetar, mungkinkah Dia akan dipindahkan? Secepat itu?!


"Tapi Tuan Jun,," Sarah berusaha berbicara pada Jun, tapi pria itu mengabaikannya dan beralih mendekati Patricia.


"Nona Patricia, silahkan ikuti saya." Ucap Jun.


"Baiklah," jawab Patricia mengambil tasnya dan berjalan untuk mengikuti Jun ketika tangannya dicekal oleh Rolland.

__ADS_1


"Tuan, ada apa?" Tanya Patricia.


"Mari berbicara sebentar sebelum kau menemui CEO." Ucap Rolland berjalan untuk menarik Patricia mengikutinya membuat Jun langsung menghalangi jalan Rolland.


"Kau berani menghalangi wakil CEO?" Tanya Rolland dengan tatapan tajamnya diarahkan pada Jun.


"Sepertinya saya yang harusnya bertanya seperti itu, ini adalah perintah langsung dari CEO!" Ucap Jun.


"Tolong," Patricia akhirnya angkat suara dengan menarik tangannya yang digenggam oleh Rolland.


"Tidak! Sebelum menemuinya, Kau harus berbicara dulu denganku!" Kata Roland segera mendorong Jun dan menarik Patricia untuk pergi bersamanya.


Semua orang terkejut, Rolland dan Lewi berebut untuk berbicara dengan Patricia? Mungkinkah..?


Jun menggertakkan giginya, dia hendak menyusul kedua orang itu ketika Sarah langsung menjatuhkan tubuhnya nya di depan Jun lalu memeluk sala satu kaki Jun.


"Tuan Jun, tidak! Tolong jangan pindahkan saya! Tolong bicara pada CEO kalau saya bisa membuktikan bahwa bukan saya yang membuat laporan itu! Saya tidak pernah menjiplak, apa lagi jika menjiplak laporan milik Tuan Jun!" Sarah memohon-mohon sembari terisak hingga air mata perempuan itu membasahi celana milik Jun.


Hal itu membuat Jun menjadi sangat kesal, perempuan itu adalah perempuan pertama yang memeluknya seperti itu dan terlebih menodai pakaiannya dengan air mata menjijikannya!


Jun langsung menelan air liurnya dan mengatupkan giginya sembari berbicara "Baiklah, biarkan aku pergi dan mengatakannya pada Tuan Lewi." Ucapnya.


"Benarkah?!" Sarah langsung melepaskan pelukannya pada kaki Jun lalu perempuan itu berdiri dan membungkuk pada Jun "Terima kasih, terima kasih.. saya pastikan kalau bukan saya yang membuat laporan itu!" Ucap Sarah.


Jun tidak menjawab apapun dan hanya melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Jun, semua perempuan langsung mengelilingi Sarah.


"Kak Sarah ada apa?" Tanya mereka.


"Semua ini gara-gara janda itu! Dia menjebak Kak Sarah!" Ucap Sita mewakili Sarah berbicara.


"Apa?! Beraninya dia?!" Semua orang mulai mengutuki Patricia dan mengatakan pembelaan mereka pada Sarah.


"Tapi Kak Sarah, dokumen apa itu?" Tanya Dinda diantara keriuhan.


"Kau baca sendiri." Sarah menyerahkan dokumen di tangannya kepada Dinda dan betapa terkejutnya Dinda saat melihat banyaknya orang yang akan dipindahkan ke cabang perusahaan di kota xx.


"Apa?! Mengapa ada namaku di sini?!" Dinda berkata dengan tangan gemetaran memegangi dokumen itu.


Ucapan Dinda langsung menarik semua perhatian karyawan lalu mereka mengelilingi Dinda dan membaca dokumen itu.


Dalam sekejap semua perempuan langsung berwajah pucat.


@Interaksi


__ADS_1


Lewi ajah bisa pura-pura lumpuh, masa Raja gak bisa pura-pura jadi penulis amatir...?


__ADS_2