Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C32. Penipu publik.


__ADS_3

Lewi masih duduk dibangku Patricia ketika seorang pelayan mengetuk pintu kamar mereka.


"Aku akan membukanya." Ucap Patricia segera turun dari pangkuan Lewi dan berjalan ke arah pintu.


"Selamat pagi Nyonya Muda, Tuan Besar Afra memanggil Nyonya Muda dan Tuan Muda untuk sarapan bersama." Ucap sang pelayan dengan sopan.


"Oh, baiklah." Jawab Patricia lalu menutup pintu dan berjalan ke arah kursi roda Lewi.


"Naiklah, Akau akan mendorongmu," kata Patricia menatap kearah Lewi yang terlihat enggan untuk bergerak dari tempatnya.


"Ada apa?" Tanya Patricia memperhatikan pria itu.


Lewi berpikir bahwa dia akan merepotkan istrinya kalau dia sampai membiarkan perempuan itu mendorong kursi rodanya, tapi setelah berpikir beberapa waktu, ia kemudian berjalan ke arah Patricia dan menggendong perempuan itu.


"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin membongkar rahasiamu?!" Patricia berbicara sembari memandangi suaminya.


"Jadi kau kuatir kalau rahasia ku sampai terbongkar?" Tanya Lewi.


"Apa yang aku maksud? Kau adalah suamiku!" Jawab Patricia.


"Oh," senyum terukir di wajah Lewi ketika mendengar perempuan dipelukannya menyebutnya sebagai suaminya.


Pria itu akhirnya naik ke kursi roda dan duduk di sana dengan Patricia dipangkuannya.


"Begini lebih baik." Kata Lewi segera memegang tuas pada kursi rodanya lalu menjalankan kursi roda itu keluar dari kamar.


Begitu mereka tiba di meja makan, terlihat Afra dan Putra sulungnya sudah duduk disana menunggu mereka.


"Uh,, turunkan aku,," sedari tadi Patricia sudah berusaha meronta-ronta dipelukan Lewi tapi pria itu terus memegangi pinggangnya dengan erat.


Dan sekarang, rontahannya menjadi lebih kuat lagi saat melihat dua orang yang sedang memandangi mereka.


Memalukan!


Melihat pipi Patricia yang sudah memerah, akhirnya Lewi tidak tahan dan melepaskan perempuan itu lalu Patricia segera duduk di salah satu kursi kosong dengan wajah yang tak berani menatap 2 orang pria di meja makan itu.

__ADS_1


"Selamat pagi Kakak pertama dan Kakak Ipar." Ucap Rolland mencairkan suasana yang terlihat canggung.


"Selamat pagi," jawab Patricia.


Setelah sapaan itu, semua orang sarapan dengan tenang.


Rolland dan Afra memperhatikan kedua orang itu, tadinya mereka terkejut karena mereka datang dengan Lewi memangku Patricia, tetapi setelah memperhatikan dari awal sehingga sekarang, interaksi mereka berdua terlihat memang seperti dibuat-buat.


Jadi keduanya merasa semakin lebih sulit lagi untuk menguasai perusahaan seluruh Azura.


"Kaka ipar, luka di tangan Kakak,," ketenangan di meja makan itu akhirnya terpecahkan ketika Rolland menyadari luka di tangan Patricia.


"Oh, ini,," Patricia segera melihat luka di lengannya yang belum sepenuhnya pulih "Sebentar lagi pasti sembuh. Adik ipar tidak perlu mengkhawatirkannya." Jawab Patricia.


"Kalau begitu Kakak harus makan makanan yang lebih sehat dan menambah porsi makan Kakak ipar." Rolland mengambil sepotong telur ceplok dan meletakkannya di piring Patricia.


Melihat itu, Patricia langsung mengangkat wajahnya menatap Rolland lalu menoleh ke arah Lewi dan melihat tatapan pria itu tertuju pada telur ceplok yang baru saja diletakkan Rolland diterimanya.


'Sial..!' Patricia menggerutu dalam hati, dari awal dia sudah tidak menyukai Rolland karena pria itu masih berani menggodanya, sementara Roland sendiri tahu bagaimana sifat kakaknya.


"Suami juga harus makan yang banyak," kata Patricia menatap Lewi dengan seutas senyum indah di bibirnya.


Wajah kelam dipenuhi kemarahan yang awalnya menghiasi wajah Lewi berangsur-angsur membaik lalu pria itu mengambil telur ceplok yang diletakan Patricia di piringnya dan memakannya.


Afra dan Rolland yang memperhatikan hal tersebut tidak mampu berkata apapun, Lewi terkenal sebagai orang yang mencintai kebersihan dan tidak pernah menyukai makanannya disentuh oleh seseorang.


Apalagi tadi, Patricia menggunakan sumpit yang keluar dari mulutnya untuk menaruh makanan di piring Lewi. Namun, mengapa pria itu tidak keberatan?


Sandiwara...!


"Ambilkan lagi," tiba-tiba kata Lewi ketika telur ceplok yang diletakkan Patricia di piringnya telah habis.


Ketiga orang di meja makan langsung menatap Lewi dengan pikiran mereka masing-masing.


"Baiklah," jawab Patricia lalu dia kembali mengambil telur ceplok meletakkannya di piring Lewi dan beberapa lauk lain juga diletakkan di piring Lewi.

__ADS_1


Sampai sarapan itu selesai, Patricia tidak berani menyentuh telur ceplok yang diletakan Rolland di piringnya jadi telur itu terlihat tidak tersentuh dan tertinggal di piring Patricia.


Melihatnya, Lewi merasa lebih baik.


"Hari ini hari libur, apa rencana kalian?" Tanya Afra ketika Lewi dan Patricia hendak meninggalkan meja makan.


"Kami akan menghabiskan waktu bersama." Jawab Patricia sembari tersenyum.


Afra yang mendengarnya 'He,, sandiwara kalian begitu menarik!'


"Kalau begitu, kami tidak akan mengganggu, selamat bersenang-senang." Ucap Afra mengakhiri pembicaraan.


Lewi dan Patricia akhirnya pergi meninggalkan ruang makan.


"Bukankah dia mantan CEO grup Siloam?" Afra bertanya pada putranya.


"Benar Ayah," jawab Rolland dengan tatapan masih terpaku pada telur ceplok yang tersisa di piring Patricia.


"Pantas saja kalau dia tidak menerima pernikahannya. Kalau begitu, dekati dia dan ajak bekerja sama dengan kita." Ucap Afra yang sudah mendengar banyak rumor tentang Patricia, CEO kompeten yang banyak menorehkan jasa ke grup Siloam sejak masa remajanya.


"Tapi dia tidak menyukaiku juga. Sepertinya dia membenci seluruh anggota keluarga kita," ucap Rolland dengan mata kelamnya.


"Kau menyerah dengan alasan konyol seperti itu?! Kalau begini saja sudah tidak bisa, bagaimana kau akan merebut kekuasaan pria cacat itu?!" Afra meneriaki anaknya.


"Baik Ayah, akan ku usahakan," jawab Rolland.


Melihat putranya, Afra menghela nafas lalu berdiri meninggalkan tempat itu.


Sementara Rolland, dia tinggal mengepal kuat tangannya sebelum mengeluarkan ponselnya.


"Tuan," suara dari seberang telpon.


"Selidiki riwayat kesehatan Lewi." Ucap Rolland.


"Baik Tuan." Jawab orang dari seberang telpon lalu panggilan itu diputuskan.

__ADS_1


Kalau dia bisa mendapat bukti tentang kepura-puraan Lewi menjadi orang lumpuh, maka dia bisa membongkarnya sebelum Lewi mengakhiri kepura-puraannya, dengan begitu Lewi akan di judge sebagai penipu publik.


__ADS_2