
Akhirnya, setelah pemeriksaan di dokter kandungan selesai dan keduanya hanya perlu menunggu hasil lebih lanjut, Patricia dan Lewi memutuskan untuk kembali ke rumah.
Semua orang di ruang tunggu melihat ke arah Patricia dan Lewi dengan rasa prihatin mereka.
Pria yang lumpuh itu meletakkan istrinya di pangkuannya. Wajah keduanya tampak tidak baik, terlebih wajah Patricia.
"Astaga pasangan yang sangat malang."
"Sepertinya mereka mendapat sebuah kabar yang tidak baik." Semua orang menghela nafas merasa prihatin dengan keadaan sepasang suami istri itu.
"Sudah kubilang, Kau tidak perlu iri pada pasangan itu!"
Selain sang suami yang lumpuh kini mereka baru saja keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang sendu. Apalagi jika bukan sebuah hal buruk telah menimpa keduanya?
"Suami, anak kita,," Patricia duduk di pangkuan Lewi sembari terisak di dada pria itu dengan tangannya berada di perutnya yang masih datar.
Lewi meminjamkan matanya dan menyandarkan dagunya di di puncak kepala Patricia sembari sesekali menciumi perempuan itu.
Dia tidak bisa menangis juga tidak bisa menghibur istrinya karena saat ini dia merasa hampa di dalam hatinya.
Bayi mereka, bayi mereka yang belum lahir ke dunia ternyata akan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Suami,, mengapa kau diam saja?! Anak kita akan digugurkan! Anak kita,, hiks,, anak kita...." Suara tangis Patricia menjadi lebih keras lagi kala dia sudah tidak sanggup berbicara apapun.
Ia ingin menyalakan seseorang, tapi Siapa yang dapat disalahkan ketika yang bersalah adalah dirinya sendiri!?
"Jangan menangis, pasti ada cara untuk menyelamatkan bayi kita." Kata Lewi meski dia sendiripun tidak yakin dengan jawaban yang ia berikan pada istrinya.
"Cara,, bagaimana caranya hiks..." Patricia merasa frustasi.
Pada akhirnya Lewi tak mampu lagi menghibur istrinya dan hanya bisa membiarkan istrinya terus menangis hingga mereka tiba di kediaman keluarga Azura.
Lewi tetap memeluk Patricia di atas pangkuannya dan membiarkan pengawalnya mendorong kursi roda mereka ke dalam rumah.
Saat itu, Rolland sedang duduk di lantai bawah sembari menyalakan tv. Pria itu langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara tangisan.
Lewi bahkan tidak punya waktu untuk melihat sandiwara Rolland dan hanya sibuk memeluk Patricia hingga mereka menghilang di balik lift.
"Ha ha... Tidak ada ruginya aku mengandalkan perempuan itu. Melihat bagaimana wajah Lewi saat ini, dia pasti sudah masuk dalam jebakan perempuan itu!" Rolland merasa sangat puas.
'Tidak masalah jika mereka berdua berbaikan, karena sebentar lagi juga mereka akan berpisah.' gumam Rolland merasa sangat bangga dengan ide cemerlangnya.
Pria itu berjalan ke kamarnya lalu menghubungi asistennya.
__ADS_1
"Apa kau sudah menemukan dokter yang kumaksud?" Tanya Rolland.
"Ya, saya sudah menemukannya." Jawab sang asisten.
"Atur supaya dokter itu bisa berada di kota Bali dalam tiga hari kedepan."
"Baik Tuan." Jawab sang asisten dari seberang telepon membuat Rolland merasa sangat puas lalu pria itu kembali menghubungi ayahnya.
"Tuan Muda," orang yang menjawab dari seberang telepon adalah sekretaris Afra.
"Di mana ayahku?" Tanya Rolland.
"Maaf tuan muda, Tuan Afra berpesan jika tuan muda belum berhasil memisahkan Nona Patricia dengan Tuan Lewi maka dia tidak akan menerima telepon dari tuan." Jawab sang sekretaris.
"Baiklah." Ucap Rolan lalu mematikan panggilan telepon itu.
'Lihat saja Ayah, dalam tiga hari kedepan aku akan membuat Patricia berpindah posisi ke sisiku. Aku akan membuatnya mencari bukti tentang kaki Lewi yang sebenarnya baik-baik saja! Juga akan membuatnya menceraikan Lewi hingga seluruh harta warisan yang dimiliki Lewi akan ditarik kembali!' gumam Rolland memegangi ponselnya dengan erat.
@Interaksi
__ADS_1
Otor juga gak sabar nunggu karma buat reder yang suka bacot di kolom komentar.... kapan ya...?