
Setelah menyelesaikan pekerjaannya di balkon lantai dua, Jun membereskan segala berkas-berkasnya dan memasukkannya ke dalam tas-tas itu lalu bergegas ke ruang kerja Lewi.
Dengan langkah yang berat dia perlahan-lahan mendekati pintu dan berhenti selama beberapa detik di depan pintu sebelum mengulurkan tangannya memutar kenop pintu lalu masuk ke ruangan itu.
"Tuan," katanya berdiri di depan Lewi yang sedang membaca beberapa berkas.
"Cepat katakan." Pria itu berbicara dengan acuh tak acuh membuat Jun semakin gugup untuk mengatakan informasi yang ia dapat.
"Sebelum saya mengatakan informasinya, saya akan menyerahkan surat yang diberikan oleh Tuan Hendrik." Jun meletakkan amplop di atas meja kerja Lewi membuat pria yang sedang membaca dokumen segera menghentikan aktivitasnya.
"Pria kecil itu!" Lewi mengambil amplop itu dan membukanya.
Setelah mengeluarkan isinya, lewi mendapati dua tiket perjalanan ke pulau xx.
Pulau xx adalah pulau yang terkenal dengan keromantisannya, banyak pasangan muda yang berbulan madu ke pulau itu.
Selain 2 tiket, Lewi juga melihat ada sepucuk surat yang diletakkan di sana
"Awalnya tiket ini akan kuberikan pada kakak ipar, tapi karena aku buru-buru maka aku berikan saja pada kakak. Selamat atas pernikahan kakak."
"Pulau xx, pulau apa itu?" Lewi bertanya pada Jun.
"Itu adalah pulau yang sedang banyak dibicarakan oleh orang-orang muda pada beberapa waktu ini. Pulau itu dikenal menjadi tempat bulan madu yang paling terkenal saat ini. Orang-orang menjulukinya sebagai pulau romantis yang abadi." Jawab Jun.
"He, pria itu menyuruhku membuang-buang waktu berlibur ke sini?" Lewi mengembalikan tiket itu kedalam amplop lalu menyisihkannya diatas meja kerjanya.
"Sekarang katakan penyelidikanmu." Lewi akhirnya duduk dengan rileks sembari tatapannya terpaku pada pria didepannya.
Memangnya perempuan itu sakit apa sampai tidak bisa menunggunya sebentar untuk pulang kerja lalu membawanya ke rumah sakit?
"Tuan Muda, Nyonya Muda,, hamil." Jawab Jun dengan suara yang datar dan wajah yang datar.
"Apa?!" Lewi langsung memukul meja dan menatap Jun dengan intens.
"Benar Tuan, usia kandungan nya sekitar 1 bulan." Jun kembali berbicara.
Jawaban Jun membuat Lewi tersenyum merendahkan. Tentu saja senyum merendahkan itu bukan ditujukan untuknya, tetapi untuk perempuan yang sedang tidur di kamarnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap Jun yang tidak mau berada di dekat Lewi ketika pria itu sedang marah, jadi dia bergegas keluar dari ruang kerja Lewi dan meninggalkan tempat itu.
Sementara Lewi, pria itu masih tersenyum dengan senyum hinaan selama beberapa waktu lalu dia kembali fokus pada pekerjaannya.
Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, Lewi meninggalkan ruang kerjanya dan berjalan ke arah kamar.
Dia mendapati Patricia sudah tertidur di tempat tidur, namun Lewi merasa jijik untuk naik ke tempat tidur bersama Patricia karena berita yang baru saja didengar dari Jun.
Akhirnya, dia memutuskan untuk tidur diluar rumah dengan kembali merepotkan untuk mencarikan nya hotel.
Jun yang ditelpon "..."
Jam kerjanya sudah lewat!
....
Keesokan paginya, sesuai rencananya, Patricia bangun pagi-pagi sekali namun ia terkejut mendapati tempat di sampingnya telah kosong.
Patricia duduk di atas ranjang sembari melihat sprei disampingnya yang sama sekali tidak ada kusut biar hanya setitik.
Sesuai dugaannya, tidak ada orang di kamar itu jadi dia segera berjalan keluar dan bertanya pada pelayan.
"Maaf Nyonya Muda, kami tidak melihat Tuan Muda sejak tadi." Jawab sala seorang pelayan membuat Patricia menghela nafas lalu meninggalkan pelayan pelayan itu.
Ia tiba di depan pintu kamar dan melihat disamping pintu itu sudah tidak ada tasnya lagi.
"Lho, kemana tas milikku?" Ucapnya kembali mencari di sekitar kamar Lewi.
"Nyonya Muda sedang mencari apa?" Seorang pelayan yang melihat Patricia menghampiri Patricia.
Sungguh, setelah mereka ditegur oleh Tuan Hendrik dan Tuan Muda Pertama, tidak ada lagi yang berani membantah Patricia di rumah, bahkan dua pelayan yang kemarin merundung Patricia di dapur telah dipecat.
"Di mana tas berisi baju-bajuku yang diletakkan di samping pintu?" Tanya Patricia.
"Oh, itu, tadi pagi Tuan Muda menyuruh kami menyimpannya di lemari, jadi kami sudah memindahkannya ke sana." Jawab sang pelayan mengejutkan Patricia.
Setelah berbicara dengan pelayan, Patricia segera masuk ke dalam kamar dan membuka lemari di dalam kamar itu, didapatinya 1 sisi lemari telah diisi oleh semua baju-bajunya.
__ADS_1
"Pria kejam itu,,," Patricia merasa terharu, dalam sekejap senyuman terukir di wajahnya lalu dia segera mengambil satu set pakaian dan menghilang ke dalam kamar mandi.
Hari itu, Patricia berada di kantor Meilin, dia meminjam komputer Meilin dan melakukan pencarian di internet.
"Kau sedang apa?" Meilin yang baru saja membuat 2 gelas jus datang menghampiri Patricia dan memberikan segelas jus pada Patricia.
"Aku pikir aku bisa merebut kembali milikku dengan menggunakan kekuatan media, ternyata sulit." Patricia menghela nafas lalu dia menyeruput jus yang diberikan oleh Meilin.
"Apa yang bisa kau lakukan? Mantan suamimu yang sekarang menjadi calon suami adikmu adalah seorang pria yang menguasai dunia entertainment dan pemberitaan di kota Bali." Meilin berbicara sembari menepuk-nepuk punggung Patricia.
"Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan sekarang?" Patricia akhirnya memandang Meilin.
"Sekarang ini kau sudah masuk ke dalam keluarga Azura dan kau bilang meskipun suamimu selalu berkata kejam padamu, tapi akhir-akhir ini dia memperlakukanmu dengan baik. Mengapa kau tidak memanfaatkan keluarga Azura dan kekuasaan suamimu untuk balas dendam?" Meilin mengatakan pendapatnya.
"Huh, kalau aku minta tolong padanya, dia akan semakin menghinaku." Patricia berdecak.
"Kalau begitu buat dia jatuh cinta padamu lalu dengan otomatis dia dengan sukarela membantumu bahkan tanpa kau minta." Saran Meilin.
"Hm,, sebenarnya tidak buruk jika aku bersama dengannya, tapi,," Patricia meraba perutnya yang datar "Apakah dia akan menerima bayi dalam kandungan ku? Bagaimana kalau tidak?" Patricia menatap Meilin dengan lesu.
"Huh, kau benar. Bayi itu adalah bayi milik pria asing yang tidak kita kenal. Kalau kita mau mencari petunjuknya juga tidak bisa karena kau menghilangkan potongan ingatan kejadian itu." Meilin menjadi lebih lesu lagi dari Patricia ketika dia memikirkan hal tersebut.
"Kau benar." Kedua perempuan itu akhirnya bersandar dengan malas dengan pikiran mereka masing-masing berkelana tanpa arah.
"Tapi, tidak ada salahnya kalau kau mencoba peruntunganmu dengan Tuan kejam itu. Mungkin saja dia akan menerimamu dan bayi itu." Meilin tiba-tiba berbicara setelah keheningan selama beberapa waktu.
"Haruskah?" Patricia menatap Meilin.
"Kau bilang kau mulai menyukainya, dan kau bilang tidak buruk menikah dengan pria kejam itu, jadi mengapa tidak mencobanya?" Meilin membalas tatapan Patricia.
"Benar! Aku adalah perempuan yang selalu beruntung dalam melakukan segala sesuatu!" Patricia meletakkan jusnya di atas meja lalu memperbaiki pakaiannya yang kusut.
"Kau sedang apa?" Tanya Meilin.
"Aku akan menghampiri pria kejam itu ke kantornya dan memohon padanya supaya dia menjadikanku salah satu pegawai di kantornya. Dengan begitu, setiap hari aku akan melihatnya dan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengannya." Jawab Patricia berjalan mengambil tas dan kunci mobilnya.
"Semangat...!" Meilin memberi semangat pada sahabatnya yang sudah berjalan keluar dari ruangannya.
__ADS_1