
"Hari ini kita mau kemana?" Patricia bertanya sembari mengobrak-abrik lemarinya.
Di dalam lemari itu tidak ada satupun pakaian yang cocok untuk pergi bersantai, semuanya adalah pakaian kerja dan pakaian sehari-hari di rumah.
Dia masih mencari dengan cemas ketika dua lengan kekar sudah melingkar di pinggangnya.
"Menghabiskan hari dengan berduaan bukan berarti pergi keluar, cukup di kamar saja bisa 'kan?" Kata pria itu dengan suara yang begitu sensual di telinga Patricia dan bahkan bibir pria itu sesekali menyentuh daun telinga Patricia membuat Patricia bergidik geli.
Namun, kekesalannya menjadi jauh lebih besar ketika dia berbalik menatap suaminya.
"Jadi maksudmu kita akan menghabiskan waktu di dalam kamar ini dan bukannya keluar mencari udara segar dan melihat pemandangan?" Tanya Patricia tak percaya.
"Kenapa? Istriku tidak suka?" Lewi berkata sembari mendaratkan sebuah ciuman di bibir Patricia.
"Bukan begitu, tapi,, tapi,," Patricia memerah melihat ke arah ranjang dan dia merasa ngeri membayangkan menghabiskan waktu bersama di dalam kamar.
Bukankah itu tentang....
"Apa yang kau pikirkan?" Wajah Lewi kembali mendekati Patricia dan pria itu menyatukan dahi dan hidungnya dengan Patricia.
Dalam sekejap, wajah Patricia menjadi merah dan dia berusaha mendorong Lewi menjauh darinya, tapi pria itu menahan punggungnya lalu dengan cekatan membungkam bibir Patricia menggunakan bibirnya.
"Mm!" Patricia terkejut.
"Sst, sebentar," kata Lewi memperdalam ciumannya dan mencari persembunyian Lidah Patricia di dalam mulut perempuan itu lalu merasakannya dengan dalam.
Awalnya Patricia biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan dia menjadi terbuai dan perempuan itu tanpa sadar mengulurkan tangannya memeluk leher lebih dan mendekatkan tubuhnya semakin dekat ke arah suaminya.
Tindakan Patricia tentu saja membuat Lewi menjadi senang, jadi pria itu dengan cepat menyusupkan tangannya dibalik baju Patricia membelai kulit sensitif Patricia hingga perempuan itu menggelinjang di pelukannya.
"Ke kasur," tiba-tiba Lewi melepaskan ciumannya lalu mengangkat Patricia dan membaringkan perempuan itu di atas kasur lalu ikut menindih Patricia.
Jantung Patricia berpacu dengan cepat apalagi ketika mulai membuka satu persatu pakaiannya dan pria itu kembali berada di atasnya.
"Aku,, aku,," Patricia gelagapan, tapi dia belum mengeluarkan satu kalimat ketika bibirnya kembali dibungkam.
Hanya dalam beberapa menit kedua orang itu menjadi polos dan Patricia tanpa sadar menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Lewi tersenyum, sudah cukup kalau perempuan itu tidak membantah dan hanya menarik selimut untuk menyelimuti mereka jadi dia dengan cepat membantu Patricia menyelimuti tubuh mereka dengan selimut sebelum terdengar desa Han dari balik selimut.
Cukup lama selimut yang menutupi dua orang itu bergerak-gerak karena pertempuran di balik selimut hingga akhirnya menjadi tenang.
__ADS_1
Patricia menyingkap selimut hingga kepalanya muncul dari balik selimut dan menghirup oksigen dengan rakus.
Cup cup cup.....!
Dia belum memuaskan paru-parunya nya nya Ketika serentetan senyum ciuman tiba-tiba memenuhi wajahnya.
"Diam!" Patricia berkata sembari mendorong wajah lebih menjauh darinya.
Lewi hanya tersenyum "Kau sendiri yang memilih melakukannya di balik selimut, lain kali jika kau menurutiku kau tidak akan sesak nafas seperti ini." Ucap Lewi kembali membenamkan kepalanya di leher Patricia.
Lain kali,,, 2 kata itu terngiang-ngiang dalam pikiran Patricia, artinya mereka masih akan melakukannya lagi?
Wajah perempuan itu kembali memerah.
Lain kali....
Lewi masih belum puas dengan satu ronde, dia melakukan dua ronde lagi sebelum mengangkat Patricia ke dalam kamar mandi dan mereka mandi bersama.
"Apa kau mau jalan-jalan?" Di dalam bath up, keduanya masih berendam ketika Lewi yang memangku Patricia tiba-tiba bertanya.
"Tidak, aku lelah," jawab Patricia menyandarkan punggungnya di dada bidang Lewi dan menikmati pelukan hangat dari Lewi.
Perasaannya menjadi lebih tenang dan dia merasa sangat hangat, waktu,, tolong berjalan lebih lambat....
Setelah mandi, Patricia merasa sangat lelah dan dia terlalu mengantuk jadi perempuan itu langsung berbaring di tempat tidur dan tidak menyadari ketika Lewi membawanya keluar dari kediaman keluarga Azura.
Barulah ketika menjelang malam dan dia merenggangkan tubuhnya lalu terkejut mendapati ruangan asing yang ditempatinya.
"Dimana aku?" Patricia spontan berdiri dan memeriksa tempat itu.
Dari luar dia mendengar suara ombak menderu dan angin pantai berhembus menerjangnya dari arah jendela.
"Suami?" Patricia segera membuka pintu kamar dan dia berlarian di villa milik Lewi.
"Suamiku?" Suara Patricia terdengar ketakutan ketika dia sudah lama mencari dan tidak menemukan Lewi di manapun.
"Dia membuang ku lagi? Tidak,, tidak,, tidak,," Patricia begitu takut jika orang yang disayanginya kembali membuangnya sama seperti yang dilakukan oleh adiknya dan mantan suaminya.
Dia tidak mau kejadian seperti itu terulang lagi, Jadi sembari melangkahkan kaki telanjangnya, air mata telah menetes menjatuhi pipinya.
Saking buru-buru nya dia sampai dia tidak sadar dan menabrak seorang nelayan yang sedang berjalan membawa tumpukan sprei.
__ADS_1
"Ahh...!" Patricia meringis ketika dia terjatuh menimpa pelayan.
Tapi yang lebih ketakutan adalah pelayan yang sedang bertugas, bagaimana bisa dia mengganggu Nyonya Muda mereka?
"Nyonya,, maaf," pelayan itu dengan ketakutan membantu Patricia berdiri lalu membungkuk beberapa kali mengucapkan kata maaf.
"Siapa kau?" Tanya Patricia dengan suara bergetar.
"Saya Vina, salah satu pelayan di villa ini." Suara pelayan itu tidak jauh lebih ketakutan dari suara yang dikeluarkan oleh Patricia.
"Dimana ini? Mengapa aku di sini?" Tanya Patricia.
"Ini adalah Villa pribadi milik Tuan Muda Lewi, Tuan Muda yang membawa Nyonya kemari pada siang hari tadi dan menyuruh kami menjaga Nyonya Muda Sampai Tuan Lewi kembali." Jawab nelayan yang tidak berani mengangkat wajahnya.
"Hah,," Patricia menghela nafas dengan lega setelah mendengar nama Lewi disebutkan oleh pelayan itu.
Tapi kemudian dia menghapus air mata di pipinya dan meniti pelayan itu "Kau tidak berbohong 'kan? Kau benar-benar pelayan suamiku 'kan?" Tanya Patricia.
"Saya tidak berani membohongi Nyonya Muda." Ucap Pelayan itu dengan gemetaran.
"Kalau kau tidak berbohong, Mengapa kau ketakutan seperti itu?" Patricia kembali bertanya sembari mengamati pelayan yang gemetaran di depannya.
Baru saja Dia akan mendekat untuk melihat lebih jelas wajah pelayan itu ketika pelayan itu sudah bersujud di lantai "Nyonya,, Saya tidak berani membohongi Nyonya muda, tapi saya hanya gemetaran karena takut Nyonya Muda akan marah pada saya..." Ucap Vina.
"Ada apa ini?" Suara yang terdengar dari belakang Patricia langsung membuat Patricia berbalik dan melihat suaminya sedang duduk diatas kursi roda.
Dalam sekejap ketakutan Patricia langsung menguap meninggalkan tubuhnya lalu perempuan itu berlari ke arah lebih dan melompat ke pangkuan Lewi memeluk pria itu.
"Suami," katanya dengan suara manja sembari meninggalkan kepalanya dilakukan leher Lewi menikmati aroma maskulin dari tubuh pria itu.
Lewi tersenyum, ada baiknya juga perempuan itu hamil, sikapnya jadi lebih manja.
"Pelayan itu mengganggumu?" Tanya Lewi sembari menatap tajam kearah pelayan yang masih bersujud di lantai tak berani mengangkat wajahnya.
"Tidak,, dia tidak menggangguku," kata Patricia memperbaiki posisi duduknya di pangkuan lewih.
"Lalu?" Lewi kembali bertanya.
"Aku mencarimu dan tidak sengaja menabraknya. Jangan memarahinya." Lagi kata Patricia membuat pelayan yang awalnya gemetaran menjadi lebih tenang.
Untung saja dia mendapatkan Nyonya Muda yang baik hati.
__ADS_1