
Lewi dan Patricia selesai makan malam, keduanya berada di belakang Villa sembari menikmati pemandangan malam.
Cup cup cup...
Lewi yang memangku Patricia menciumi perempuan itu dengan gemas.
"Mencari mati sendiri ya?" Ucap Patricia terkikik.
Pria itu bahkan masih tidak diijinkan menyentuhnya di atas ranjang, dan sekarang malah memulai sesuatu yang tidak ada obatnya.
"Aku tidak selemah yang kau pikirkan." Jawab Lewi kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir Patricia.
"Suamiku memang tidak lemah." Ucap Patricia bersandar di dada Lewi.
"Kalau lemah, bagaimana bisa aku melindungi istri dan calon anakku?" Kata Lewi berbangga diri sembari mencium puncak kepala istrinya.
"Suamiku juga pasti berbesar hati akan selalu mengikuti permintaan istrinya. Iya 'kan?" Lagi tanya Patricia sembari mendongak menatap suaminya.
Jebakan di tebar!
Lewi melihat Patricia dan sedikit mengerutkan keningnya berpikir.
Patricia sama sekali tidak pernah meminta apapun padanya, bahkan ketika dia ingin memenjarakan adiknya, Patricia sama sekali tidak keberatan.
__ADS_1
Jadi saat ini Lewi merasa Patricia sangat berbeda, mungkinkah ada sesuatu yang terjadi?
"Apa yang diinginkan istriku?" Tanya Lewi menahan kegugupannya.
Seorang perempuan tidak mungkin berubah karena hal-hal kecil, pastilah ada sesuatu yang amat sangat dipikirkan oleh Patricia.
"Aku berharap kau mau mencabut tuntutan mu terhadap adikku." Ucap Patricia sembari mengamati wajah Lewi.
"Baiklah." Jawab Lewi mengejutkan Patricia.
Patricia pikir suaminya tidak akan mengabulkan permintaannya dengan begitu mudah karena apa yang telah terjadi.
Dia benar-benar paham bahwa suaminya sedang mengalami trauma besar akibat dua kali mereka hampir kehilangan anak mereka.
"Ya,, Aku tidak mau istriku ku menjadi cemas memikirkan adiknya dalam penjara hingga berpengaruh pada anakku." Jawab Lewi membuat Patricia mengerjapkan matanya.
Benar, pria itu akan selalu mengabulkan permintaannya karena memikirkan anak dalam kandungannya! Mana mungkin Lewi repot-repot memikirkan Elsa?
Haha,, lucu sekali!
"Tapi,, kalau kau melakukan itu, Bukankah Rolan juga akan dibebaskan?" Tanya Patricia.
"Jangan khawatir. Aku sudah memikirkan semuanya." Ucap Lewi mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya lalu kembali memeluk perempuan itu dengan erat.
__ADS_1
'Dia sudah memikirkan semuanya? Artinya dari awal dia juga sudah berniat untuk membebaskan Elsa meskipun aku tidak memintanya?' Patricia merasa sangat terharu.
Kapan ada orang yang sangat memperdulikannya seperti yang dilakukan oleh suaminya?
Sejak ayah dan ibunya meninggal Dia sudah menderita berkali-kali dan dikhianati berkali-kali, tapi saat ini...
"Terima kasih suami." Ucap Patricia dengan suara serak menahan tangisnya.
"Terima kasih juga istriku." Jawab Lewi kembali mendaratkan ciuman yang kesekian kalinya di puncak kepala Patricia.
...
Setelah percakapan itu, keesokan harinya tuntutan untuk Rolland dan Elsa langsung dicabut oleh Lewi.
Pria itu bahkan membiarkan Elsa kembali ke villa untuk bertemu dengan Patricia.
"Kakak," Elsa berlari turun dari mobil dengan air mata di wajahnya Karena dia sudah menangis sejak perjalanan ke Villa sebab merasa bersalah akan kakaknya.
Patricia memeluk adiknya dengan hangat lalu mengajak perempuan itu masuk ke Villa.
"Bukankah Dokter bilang kau baru bisa keluar besok?" Tanya Patricia ketika mereka sudah duduk di sofa dan para pelayan menyiapkan teh untuk keduanya.
"Dokter bilang begitu, tapi aku memohon supaya dibebaskan lebih cepat saat mengetahui suami kakak sudah mencabut tuntutannya. Terima kasih Kakak,," ucap Elsa seraya memeluk Patricia dan menangis dengan keras.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak, aku sudah berbuat buruk pada kakak!"