
"Nyonya Muda, ini kamar Nyonya malam ini." Jun membuka pintu kamar untuk Patricia, tapi setelah dia berbalik dia melihat Patricia masih berdiri dengan tatapan kosongnya.
Jun kemudian meraih ponselnya dan menelpon seseorang supaya datang menemuinya.
Sambil menunggu orang yang dia telepon tiba, Jun berdiri memperhatikan Patricia dengan tatapan mendalam.
'Perempuan ini benar-benar tidak layak menjadi istri Tuan Muda, dia memiliki masa lalu yang buruk dan terlebih sekarang dia menjadi seperti ini,,' Jun merasa sangat ngeri, apa yang akan dikatakan orang-orang ketika tahu Tuan mudanya telah menikah dengan perempuan cacat mental.
"Siapa dia?" Tiba-tiba suara seorang pria datang dari belakang Jun membuat pria itu langsung berbalik.
"Tuan Muda, perkenalkan dia calon istri Tuan Muda Lewi. Dari keluarga Siloam, namanya Patricia." Jawab Jun.
"Patricia?" Rolland mengernyit memperhatikannya, dia cukup mengenal Patricia sebagai CEO group Siloam, tapi tidak menyangka gosip yang beredar ternyata benar dan sekarang kondisi CEO muda itu benar-benar memprihatinkan.
"Benar Tuan," jawab Jun.
"Lalu kapan dia akan menikah dengan kakakku?" Tanya Rolland sembari menyipitkan matanya.
Perempuan di depannya cukuplah cantik, tapi sayang sekali dia memiliki masalah dengan mental.
Seandainya tidak, maka kakaknya pasti akan sangat beruntung dan menikahi perempuan cantik dan juga pintar.
"Rencananya besok saya akan mendaftarkan pernikahan mereka di pencatatan sipil." Jawab Jun.
"Oh, baguslah, semoga berjalan dengan lancar. Tapi mengapa kalian berdua berdiam diri di sini?" Rolland kembali bertanya.
"Itu, Saya tidak berani memasuki kamar Nyonya Muda, jadi saya menelpon seorang pelayan untuk datang mengantar dan melayani Nyonya muda." Jawab Jun.
"Ya sudah, kalian duduk dan menunggu lah, berdiri seperti ini akan membuat kaki kakak iparku menjadi kelelahan." Kata Rolland sebelum pria itu berbalik pergi meninggalkan kedua orang itu.
Setelah menunggu beberapa lama lagi, akhirnya pelayan yang ditugaskan datang juga lalu Jun meninggalkan Patricia bersama pelayan itu dan kembali naik ke lantai atas.
Baru saja Jun akan melewati kamar Lewi ketika suara dari dalam kamar terdengar "Masuklah."
Jun "..."
Bagaimana bisa perkiraan Tuan mudanya begitu tepat?!
Jun menenangkan hatinya lalu membuka pintu kamar.
"Dimana dia?" Tanya Lewi.
__ADS_1
"Di kamar tamu." Jawab Jun.
"Oh," Lewi menjawab dengan acuh tak acuh.
"Biar saya membantu Tuan Muda naik ke tempat tidur." Jun mendekati Lewi lalu mendorong kursi pria itu ke samping tempat tidur dan membopong Lewi naik ke tempat tidur.
Malam itu berlalu dengan tenang, pada keesokan harinya Lewimeninggalkan rumah dan pergi bekerja di kantor sementara Jun pergi ke kantor pencatatan sipil dan mendaftarkan pernikahan Lewi dan Patricia.
Setelah menyelesaikan pendaftarannya, Jun segera pergi ke kantor dan menemui Lewi, ia menyerahkan sertifikat pernikahan yang sudah ia dapat dari kantor pencatatan sipil.
"Kau saja yang menyimpannya." Perintah Lewi.
"Tapi Tuan, ini adalah sertifikat pernikahan Tuan Muda dengan Nyonya Muda, bagaimana bisa saya yang menyimpannya?" Jun merasa tidak enak.
"Lalu begitu buang saja!" Jawab Lewi.
Jun "..."
Kalau memang tidak membutuhkan sertifikat pernikahan itu, untuk apa dia repot-repot pergi mengurusnya di kantor pencatatan sipil?
"Baik Tuan." Jawab Jun lalu pria itu segera meninggalkan Lewi dan melemparkan sertifikat pernikahan itu ke tumpukan dokumen yang tidak terpakai lagi.
"Entah apa yang dipikirkan Tuan Muda, dia menyuruhku mengurus sertifikat pernikahan tapi setelah selesai dia menyuruhku membuangnya,," Jun memijat keningnya yang hampir meledak setiap kali dia selesai berbicara dengan Lewi.
Sesuai perintah Jun pada pelayan yang melayani Patricia, maka Patricia telah berpindah kamar untuk tidur bersama dengan Lewi.
Jadi begitu keduanya memasuki kamar, Patricia sedang berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam.
"Kau..! Mengapa membiarkan seekor binatang tidur di tempatku?!" Lewi mendengus kesal.
"Uhh,, Tuan Muda, kalau kalian tidak tidur bersama dalam satu kamar maka seluruh orang di kediaman ini akan curiga kalau pernikahan kalian hanyalah kepalsuan." Jawab Jun.
"Aku tahu, tapi kenapa dia harus tidur di tempat tidurku?!" Teriak Lewi pada Jun.
"Ah,, maaf tuan, saya akan menyuruh orang untuk menambahkan tempat tidur lain di kamar ini." Jawab Jun.
"Ck,, kamarku ini sudah didesain dengan baik, tidak boleh lagi ditambahkan 1 barang apa lagi barang yang besar!" Lewi mencibir.
Jun "..."
Lalu dimana Nyonya muda akan tidur kalau tidak bisa menambahkan tempat tidur?
__ADS_1
Jun kebingungan.
"Kalau begitu, saya akan menidurkannya di lantai?" Jun bertanya dengan hati-hati.
"Terserah padamu yang penting dia tidak mengotori tempat tidurku!" Dengan ekspresi jijik Lewi memandang ke arah perempuan yang tertidur di tempat tidurnya "Jangan lupa mengganti spreiku!"
"Baik Tuan," Jun mengangguk mengerti lalu dia segera keluar dari kamar Lewi untuk memanggil pelayan.
Sementara Lewi, pria itu awalnya hanya diam memandang kesal pada perempuan di atas tempat tidurnya, lama-lama memandangi wajah damai milik Patricia, perlahan-lahan tangannya menggerakan kursi rodanya mendekati Patricia.
Bibir merona, pipi kenyal, bulu mata lentik, hidung kecil yang mancung,,, tanpa sadar Lewi mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Patricia dengan ujung jari telunjuknya.
'Dia tidak menggunakan make up!' gumamnya menyipikan matanya.
"Wanita bodoh! Wanita yang menikah duakali! Bangun!" Katanya dengan suara penuh penekanan.
Suara itu, suara itu sangat mirip dengan suara yang didengar Patricia ketika terjadi adegan tak senonoh di dalam mobil.
Diam-diam di alam bawah sadarnya dia mendengar suara itu dan jiwanya yang terperangkap meronta-ronta dengan kuat untuk menembus dinding penghalang yang sudah mengurungnya selama berhari-hari.
"Cih..! Dasar tidak berguna!" Lewi kembali berdecak kesal lalu memutar kursi rodanya untuk meninggalkan Patricia, tapi dia menghentikan gerakannya ketika melihat kelopak mata Patricia bergetar.
Apakah dia akan sadar?
Lewi kembali tersenyum mengejek sembari memperhatikan perempuan di tempat tidur.
"Jangan berpura-pura, aku tahu kau sebenarnya mendengarku!" Suara ejekan Lewi semakin memancing Patricia hingga akhirnya membuka matanya.
Mata yang jernih dan polos, Lewi memperhatikan perempuan itu dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Hanya berpura-pura!
Sementara Patricia, perempuan itu langsung mengawasi situasi di tempatnya dan tatapannya bertemu dengan tatapan Lewi.
"Siapa kau?!" Suara tegas namun lemah keluar dari mulut Patricia membuat Lewi menyipitkan matanya.
"Sudah selesai berpura-pura?! Cepat menyingkir dari tempat tidurku!" Lewi berkata dengan nada yang sangat dingin membuat Patricia terus memandangi Lewi dan memperhatikan pria didepannya.
"Kau, CEO dari Azura? Mengapa ada di sini?" Tanya Patricia kebingungan.
"Ha ha ha..... Kau bertanya mengapa aku ada disini? Ck,, akulah yang seharusnya bertanya seperti itu! Mengapa kau tidur di tempat tidurku?!" Ucapan Lewi membuat Patricia tertegun sejenak lalu dia segera duduk dan memperhatikan tempat di mana dia berada.
__ADS_1
Terakhir kali dalam ingatannya dia berada di rumah Meilin. Kenapa,,,,