
Jun tidak mau terlibat dalam pertengkaran suami istri jadi dia segera melepaskan pegangannya pada kursi roda Lewi lalu pria itu menghampiri Meilin yang berdiri menatapnya dengan aneh.
"Tidak etis mengganggu pertengkaran suami istri, dapatkah kita keluar sebentar? Saya akan mentraktir Nona sesuatu." Kata Jun pada Meilin.
"Oh, baiklah." Ternyata pria di depannya masih memiliki rasa tahu diri!
Kedua orang itu akhirnya keluar dari apartemen meninggalkan dua orang yang sedang bergelut di atas kursi roda.
"Lepaskan aku!" Patricia meronta-ronta di atas pangkuan Lewi.
Merasa kesal, Lewi mengulurkan tangannya memegang dagu Patricia dengan erat, sementara tangannya yang lain lagi mengerat pada tubuh dan tangan Patricia hingga perempuan itu terkunci dipangkuannya.
"Apa yang kau lakukan?!" Patricia berteriak dengan penuh kemarahan di wajahnya, dia benar-benar membenci pria didepannya.
Setelah pria itu mengusirnya dari perusahaan sekarang dia datang lagi menemuinya ketika dia sudah berusaha menjauh dari pria itu!
"Berani kau membentak suamimu?!" Lewi berbicara sembari mengeratkan pegangannya pada dagu Patricia hingga Patricia merasa dagunya akan dilepaskan dari wajahnya.
"Lepas!" Patricia kembali berbicara sambil menggertakkan giginya, dia tidak akan mendengarkan pria itu, dia tidak akan menuruti apapun yang dikatakan oleh pria itu!
Melihat Patricia yang terus bersikukuh, akhirnya kesabaran Lewi menjadi habis, dia menahan dagu Patricia lalu menundukkan kepalanya membungkam bibir Patricia.
Mencium adalah cara terbaik untuk mendiamkan orang yang terus berceloteh!
"M,,," Patricia melototkan matanya memandang pria yang sedang menciumnya.
Dia benar-benar tidak mengerti dengan Lewi, pria itu mengusirnya lalu datang mencarinya dan sekarang menciumnya!
Tapi apa yang bisa ia lakukan sebagai perempuan hamil dengan tenaga yang lemah? Bahkan melawan seorang pria lumpuh saja dia tidak berdaya!
Lewi terus mencium Patricia dan mengikat lidah perempuan itu sampai akhirnya Patricia kehabisan nafas, barulah Lewi menghentikan ciuman mereka.
"Kau hamil?"
Patricia masih sibuk mendapatkan oksigen untuk paru-parunya langsung terdiam ketika dia mendengar pertanyaan Lewi dan perempuan itu langsung menciut di pangkuan Lewi.
Pria itu, bagaimana bisa pria kejam itu mengetahui kehamilannya?!
__ADS_1
Patricia langsung teringat akan Hendrik!
Dasar, seluruh pria dari keluarga Azura memang tidak bisa diandalkan!
Melihat Patricia tidak mampu berkata apapun lagi, Lewi kembali menurunkan kepalanya hingga dahi dan hidung kedua orang itu bersentuhan.
"Siapa ayahnya?" Tanyanya.
Patricia terdiam, mengapa pria itu menanyakan siapa ayahnya?
Dia bahkan tidak ingat peristiwa yang membuatnya hamil, jadi bagaimana bisa dia mengetahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya?!
"Kau! Untuk apa kau menanyakannya?! Apa hubungannya ayah anak di dalam rahimku denganmu?!" Patricia berbicara dengan suara yang berat.
"Kau masih belum mengerti? Aku suamimu!" Lewi memberi penekanan yang lebih dalam pada kata suami lalu melanjutkan "Aku sudah menyelidiki mu dan kau tidak pernah bersentuhan dengan mantan suamimu, jadi siapa ayah dari bayi yang kau kandung?!"
"Ba,, bagaimana kau tahu?" Patricia benar-benar tak percaya, bagaimana bisa pria itu mengetahui bahwa dia belum pernah disentuh oleh suaminya?
Di dalam hatinya, dia merasa sangat terluka, suaminya tidak mau menyentuhnya, sementara adiknya,, pria itu mungkin sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama adiknya!
"Hmm, jadi benar mantan suamimu belum pernah menyentuhmu,,," Lewi tersenyum, tapi dia tidak tahu apakah dia tersenyum senang ataukah senyum itu adalah senyum penghinaan untuk Patricia.
"Lalu, dengan siapa kau melakukannya hingga kau bisa hamil?" Sembari bertanya, Lewi merasakan jantungnya semakin berdegup kencang, dia berharap perempuan di depannya akan mengatakan sesuatu yang diharapkan.
Namun kenyataannya, Patricia malah tertawa, entah tawa apa, tapi tawa perempuan itu terdengar sebagai tawa penghinaan, tawa kesedihan, kemarahan, tawa kekecewaan dan mata perempuan itu terlihat memerah karena marah namun di dalamnya juga terdapat ejekan.
"Apa kau akan percaya kalau aku menjawabnya dengan jujur?" Ucap Patricia.
"Tergantung jawabanmu," Lewi masih tetap memperhatikan wajah perempuan itu, di dalam hatinya dia tidak bisa menebak perasaan apa yang sebenarnya dirasakan oleh Patricia.
"He,, sudah kuduga, apapun yang kukatakan tidak akan pernah dipercayai olehmu. Jadi buat apa kau bertanya? Mengapa tidak menciptakan jawaban yang bisa kau percayai?" Wajah Patricia mengejek "Misalnya bayi ini adalah bayi yang tercipta karena aku sudah memanjat ranjang seorang pria tua dengan kepala botak dan perut buncit untuk mendapatkan kekuasaan bagi keluarga Siloam?"
Begitu Patricia selesai berbicara, terlihat wajah pria yang semula tidak bisa ditebak, ekspresinya akhirnya memperlihatkan wajah yang marah lalu pria itu kembali menunduk menciumnya.
Ciuman itu,,, Patricia merasa dipermainkan!
Air matanya menetes di pipinya dan tubuhnya nya melemas menerima kenyataan bahwa dia tidak akan pernah lepas dari kungkungan pria yang sedang menciumnya.
__ADS_1
...
Cafe...
Jun dan Meilin duduk bersama sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Hei, kau adalah orang kepercayaan bosmu. Apakah kau mengharapkan pernikahan yang bahagia untuk bosmu?" Tanya Meilin yang berharap pria di depannya akan menjawab iya supaya mereka bisa bekerja sama untuk membuat 2 orang itu bersama.
Bagaimanapun, Meilin merasa pria cacat yang duduk di kursi roda serta memiliki kekuasaan adalah pria yang tepat untuk sahabatnya.
Dengan begitu, keluarga Siloam akan tertampar ketika ternyata Putri yang mereka buang dari kediaman mereka mendapatkan orang yang mencintainya dan hidup bahagia di keluarga yang lebih besar dari keluarga Siloam.
"Bagaimana denganmu? Kau adalah teman baik Nyonya Muda, apa yang kau harapkan untuk pernikahan mereka?" Jun balik bertanya.
Meilin menghela nafas dengan kasar "Aku bertanya lebih dulu!" Katanya.
"Saya berharap Tuan Muda saya bisa bahagia," jawab Jun dengan tenang.
"He,, kita memiliki harapan yang sama. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk kebahagiaan mereka?" Tanya Meilin dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Apa yang bisa kita lakukan? Mereka berdua adalah orang yang keras kepala!" Jawab Jun.
"Hehe,, jadi kau mengakui bosmu adalah orang yang keras kepala? Bagus sekali...! Kau bawahan yang jujur!" Puji Meilin.
Jun hanya melihat perempuan di depannya, dia merasa aneh, tapi dia tetap diam dan membiarkan Meilin lanjut berbicara.
"Kau pasti sudah tahu kalau Patricia sudah hamil, apa kau sudah menyelidiki siapa ayah dari bayi dalam kandungannya?" Tanya Meilin.
"Apa kau tahu siapa ayahnya?" Tanya balik Jun membuat Meilin berdecak kesal.
Menjaga setiap kali dia bertanya, pria itu akan bertanya balik padanya,, mengesalkan sekali!
Tapi demi sahabatnya, dia harus tahan sebentar.
"Jadi Patricia mengalami kejadian yang buruk, di malam suaminya menceraikannya dan memili adiknya, dia juga hampir ditabrak oleh sebuah mobil, lebih parahnya lagi,, pria mabuk itu malah melecehkannya! Dan sekarang,, karena Patricia menganggap kejadian itu t5erllau menyakitkan, Patricia telah menghapusnya dari memorinya, jadi bagaimana pun dia mengingatnya, dia tidak akan bisa meng--"
"Terima kasih informasinya!" Jun menyela ucapan Meilin Dan meletakkan beberapa lembar uang cash di atas meja lalu pria itu berjalan meninggalkan melin.
__ADS_1
"Hei..!" Meilin berteriak kesal namun diabaikan.