
Suasana yang remang-remang menghiasi pinggir pantai di mana Lewi dan Patricia sedang duduk bersama menikmati makan malam mereka.
"Dimana ini?" Patricia bertanya sembari menaruh daging ke piring Lewi.
Dia belum mengetahui di mana persisnya villa itu berada, dia hanya tahu bahwa mereka sedang berada di pinggir pantai.
"Ini Villa xx milik orangtuaku, di pinggir kota. Ketika orang tuaku masih hidup, kami sering menghabiskan waktu di sini bersama. Dan aku mau orang yang kusayangi juga akan menghabiskan waktu di sini bersamaku." Kata Lewi dengan seutas senyum tipis menghiasi wajahnya.
Melihat itu, Patricia tertegun...
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Lewi adalah orang kedua yang menyebut dirinya sebagai orang yang disayangi.
Orang pertama yang mengatakan menyayanginya adalah adiknya, tapi Patricia yakin bahwa adiknya mengatakan semua itu hanya karena bersandiwara demi menjatuhkannya.
Tapi Lewi,, keuntungan apa yang ingin pria itu dapatkan dari nya? Pria itu memiliki segalanya, dan saat ini Patricia hanyalah orang yang tidak punya apapun kecuali bayi dalam kandungannya....
"Kenapa malah menangis?" Lewi segera menarik Patricia ke atas pangkuannya dan memeluk perempuan yang terisak di dalam pelukannya.
"Hiks,, hiks,, hiks,," suara memilukan yang di tahan.
"Ada apa? Kau tidak mau menghabiskan waktumu bersama denganku di sini?" Lewi bertanya dengan hati-hati meski dalam hatinya Dia sedang menekan sebuah emosi yang tak karuan.
Apakah perempuan itu benar-benar tidak mau menghabiskan waktu bersamanya?
"Bukan,, bukan begitu,, hiks,," Patricia menghela nafasnya dengan panjang dan berusaha menenangkan gejolak emosi dalam hatinya.
"Lalu?" Lewi tidak akan puas kalau perempuan itu tidak mengatakannya dengan jelas.
"Aku hanya merasa tidak pantas."
"Siapa yang mengatakan itu? Siapa yang mengatakan kalau istriku adalah orang yang tidak pantas?" Terdengar emosi Lewi hendak meledak membuat Patricia menjadi semakin menangis.
Bagaimana bisa pria itu begitu marah hanya karena dia mengatakan dirinya tidak pantas?
Ekspresi Patricia membuat Lewi semakin bingung, jadi pria itu langsung meraih ponselnya dan menelpon asistennya.
"Tuan," orang dari seberang telepon menjawab sembari menahan nafas, apakah hari liburnya akan terganggu lagi?
"Cari tahu siapa yang sudah menyebut istriku tidak pantas berada di sisiku! Aku ingin mereka dihancurkan!" Suara Lewi terdengar penuh penekanan penuh dengan emosi penuh dengan kemarahan dan penuh dengan dendam yang tidak ada habisnya.
Jun "..."
Bukankah Tuan sendiri yang mengatakannya? Mengatakan Nyonya Muda adalah perempuan rendahan ya,,, ah sudahlah...!
__ADS_1
"Bodoh! Hiks,, hiks,,," Patricia menangis sembari memukul dada suaminya.
Bagaimana bisa pria itu,,, sangat mengharukan baginya!
"Tidak ada yang mengatakannya! Ini hanya perasaanku saja!" Kata Patricia akhirnya menghapus air matanya, dia merasa tidak tega pada Jun yang selalu diganggu oleh Lewi setiap kali dia membuat ulah.
"Lalu siapa yang mengijinkan mu merasa seperti itu?" Lewi membantu Patricia menghapus air mata perempuan itu dan menatap lekat mata sembab Patricia.
"Kenapa kau jadi bodoh begini? Apa ini bawaan hamil?" Lewi merasa bingung pada Patricia, perempuan itu terkenal sebagai perempuan yang dingin dan sangat pandai mengatur perusahaan keluarga Siloam, mengapa sekarang jadi begini?
"Apa katamu? Aku jadi apa?!" Patricia terdengar sewot.
"Kau tidak dengar? Aku bilang kau jadi bodoh!" Ucap Lewi.
Patricia "..."
Apakah pria itu sedang menyalakan kehamilannya? Bukankah dia juga hamil karena pria itu?
"Ya, harusnya aku tidak usah hamil supaya tidak perlu menjadi bodoh seperti ini!" Kata Patricia langsung berubah menjadi kesal.
Melihat perubahan ekspresi Patricia yang terlalu cepat, Lewi akhirnya tersenyum dan memberikan sebuah ciuman besar di kening Patricia.
"Aku lebih suka kalau kamu marah seperti ini daripada ketika kau menangis karena menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak suka seseorang menyalahkan istriku!" Kata Lewi sembari menggosokkan hidungnya dengan hidung Patricia.
Patricia "..."
...
Keesokan harinya...
Patricia dan Lewi berada dalam mobil menuju ke kantor Azura.
"Jadi kau tidak mau menjadi sekretaris ku dan memilih menjadi karyawan biasa?" Lewi bertanya dengan kesal melihat istrinya yang duduk dengan santai menggunakan ponsel baru yang kemarin dibelikan oleh Lewi.
"Mm, Aku mau mengambil alih proyek yang berhubungan dengan grup Siloam." Jawab Patricia dengan acuh tak acuh seolah obrolannya dengan suaminya sangatlah tidak penting.
Melihat sikap Patricia, Lewi menjadi tidak senang, dia menarik perempuan itu hingga Patricia duduk dalam pangkuannya.
Namun ketika perempuan itu sudah berada di pangkuannya, Patricia hanya bersandar ke dadanya dan kembali fokus ke ponselnya.
"Ponsel ini," Lewi merebut ponsel di tangan Patricia "Apakah benda sialan ini jauh lebih penting daripada suamimu?!" Tanya Lewi menjauhkan ponsel dari perempuan itu.
"Uhh, kau ini,, hanya sebuah ponsel dan kau juga cemburu?" Patricia berdecak kesal mengulurkan tangannya untuk merebut kembali ponselnya.
__ADS_1
Sayangnya, Lewi kemudian melemparkan ponsel itu ke arah Jun dan ditangkap Jun dengan sigap lalu disimpan oleh pria itu.
"Mulai sekarang kau tidak boleh bermain ponsel di depanku."
Patricia "..."
Pria ini benar-benar pencemburu tingkat akut!
"Baiklah, tapi kau harus menuruti kemauanku! Aku akan menangani proyek yang berhubungan dengan grup Siloam!" Patricia memperlihatkan wajah menantangnya pada Lewi.
"Ok," jawab pria itu dengan santai.
Setelah mendapat persetujuan dari Lewi, Patricia tidak mengatakan apapun dan hanya duduk dalam pelukan Lewi sembari memainkan dasi pria itu.
Begitu mobil mereka tiba di perusahaan, Patricia turun dari pangkuan Lewi.
"Duluan lah," ucap Patricia.
"Kau tidak pergi bersamaku?" Tanya Lewi melemparkan tatapan tajamnya pada Patricia.
"Aku hanya akan menjadi kepala proyek untuk proyek yang berhubungan dengan grup Siloam, jadi akan menimbulkan kegaduhan kalau orang-orang sampai melihat kita berduaan." Jawab Patricia.
"He,, siapa yang bilang kau menjadi kepala proyek?" Lewi mengejek Patricia.
"Lalu apa?" Patricia tidak mempermasalahkan raut wajah mengejek Lewi karena dia sudah tahu kalau pria itu sedang beradaptasi membagi perasaan dengan orang lain. Belum terbiasa!
Namun, dia hanya mempertanyakan bagaimana bisa pria itu telah mengingkari janjinya sebab tadi dia sudah menyetujui permintaan Patricia.
"Kau akan menjadi sekretaris ku dan aku akan mengutus sekretarisku untuk mengurus proyek dari grup Siloam. jadi Jangan membantah dan cepat dorong ke kursi rodaku keluar dari mobil." Ucap Lewi membuat Patricia ternganga.
Pria itu,,, sungguh pantas suaminya! Licik dan kejam, arogan dan,,,,,, ok sedikit possesif!
Akhirnya, Patricia mendorong Lewi memasuki kantor ketika mereka melewati meja resepsionis, ketiga resepsionis yang melihat mereka hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga.
Baru saja dua hari yang lalu mereka melihat Lewi mengabaikan perempuan itu, dan sekarang,,,,?
Apa yang sebenarnya terjadi?
"Mengapa perempuan itu bersama Tuan Muda Lewi?"
"Oh, tidak, mengap firasatku mengatakan kalau kita akan segera di pecat?" Resepsionis yang kemarin menghina Patricia segera terjatuh di kursinya dengan wajah membiru.
Selama mereka bekerja di grup Azura, belum pernah ada perempuan yang berani mendekati Lewi, apalagi sampai mendorong kursi roda nya!
__ADS_1
Kalau Patricia tidak memiliki posisi yang tinggi di mata Lewi, mana mungkin perempuan itu dibiarkan menyentuh kursi roda Lewi..?