Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam

Pernikahan Kedua Dengan CEO Kejam
C39. Masalah pribadi


__ADS_3

"Tapi Tuan, kalau saya boleh menyarankan, sebaiknya informasi kehamilan Nona Patricia kita ungkapkan saja pada Tuan Lewi. Mungkin saja dengan begitu Tuan Lewi akan menceraikan Nona Patricia, dengan begitu, seluruh warisan akan dibatalkan dan Nona Patricia juga akan menjadi milik Tuan." Usul sang asisten.


"Usulan mu menarik, cepat atur supaya Lewi mengetahui kabar kehamilan Patricia." Perintah Rolland setelah memikirkan kata-kata asistennya.


"Baik Tuan," jawab sang asisten lalu meninggalkan Rolland sendirian.


Rolland berjalan ke arah makanan yang sudah disediakan oleh asistennya dan memakan makanan itu sembari memikirkan rencana kedepannya.


'Lewi akan mengetahui kabar kehamilan Patricia lalu pria itu akan memaksa Patricia menggugurkan kandungannya. Saat itulah aku akan datang sebagai pahlawan yang menyelamatkan anak dalam kandungan Patricia, membiarkan Patricia mengetahui siapa yang benar-benar peduli padanya.' pikir Rolland dalam hati.


Dia tahu kalau Lewi tidak mungkin menjadi orang yang bodoh untuk menceraikan Patricia lalu membiarkan seluruh harta warisan yang ia miliki di berikan pada keluarganya. Maka pastilah pria itu akan menyuruh Patricia menggugurkan kandungannya demi melindungi hartanya.


'Lewi, begitu Patricia melihatku sebagai malaikat penolongnya, dia akan menceraikanmu, dan Saat itu tiba kau tidak mampu berbuat apapun untuk mencegah perceraian karena aku akan berada di sisi Patricia membantunya menceraikanmu!' Rolland tersenyum senang.


Di dalam surat wasiat, dikatakan bahwa Lewi dan putri dari keluarga Siloam tidak boleh bercerai, jika keduanya bercerai dengan alasan apapun maka otomatis seluruh warisan yang dimiliki oleh akan dibalik nama menjadi milik Afra.


Akhirnya, sesuai perintah dari Rolland sang asisten menggunakan tukang pos tanpa nama mengantar dokumen yang ditujukan langsung pada direktur utama grup Azura.


Pada sore hari ketika Lewi dan Patricia hendak pulang, berkas itu kemudian sampai ke tangan Lewi dan Patricia menerimanya untuk dibuka di rumah.


Keduanya naik mobil bersama dengan Patricia yang memegang berkasnya.


"Apa itu?" Tanya Lewi.


"Seseorang mengirimimu berkas-berkas ini. Kau mau melihatnya sekarang?" Tanya Patricia mengarahkan berkas di tangannya kearah Lewi.


Tapi bukannya mengambil berkas itu, Lewi malah memegang tangan Patricia lalu menarik perempuan itu ke pangkuannya.


"Singkirkan ini!" Kata Lewi membuang berkas itu ke sisi lain mobil dan menundukkan kepalanya memberi kecupan di bibir tipis Patricia.


"Kemarin malam kalau tidak menunaikan tugasmu dengan baik sebagai seorang istri... Bagaimana kau akan membayarnya?" Tanya Lewi.


Patricia langsung tertawa kecil lalu dia melingkarkan tangannya di leher suaminya dan mengangkat kepalanya mendaratkan sebuah ciuman besar di bibir Lewi.


Muah...!


"Sudah terbayar!" Seru Patricia sembari memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi.


"Tidak cukup." Jawab Lewi dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Kalau begitu Muah...! Muah...! Muah....!"


"Aku belum puas." Lagi kata Lewi.


Patricia akhirnya tertawa lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya dan berbisik "Servis ter-special akan ditambahkan di rumah."


Lewi langsung tersenyum "Ok!"


"Kita langsung kembali ke rumah." Kata Lewi pada Jun yang sedang menyetir.


"Baik Tuan." Jawab Jun.


"Lalu makan malamnya?" Patricia bertanya pada Lewi.


"Di kamar." Jawab Lewi dengan senyuman masih memenuhi wajahnya.


"Ok." Patricia menjawab tanpa curiga sedikitpun.


"Tapi apa menu makan malam kita?" Tanya Patricia.


"Bagaimana kalau kau makan sosis dan mayonaise?" Ucap Lewi menggoda istrinya.


"Oh," Patricia berpikir sebentar "Tidak buruk. Meski itu seharusnya menu sarapan, tapi bagus juga kalau kita mencobanya malam ini." Ucap Patricia disambut tawa Jun yang ditahan.


"Kenapa kau ketawa?" Patricia melihat kearah Jun dengan tatapan yang tidak puas, Apakah dia mengatakan sesuatu yang salah?


"Maaf Nyonya, Saya hanya teringat sesuatu yang lucu." Jawab Jun dengan kikuk.


"Fokuslah menyetir!" Ucap Lewi dengan suara kesalnya.


Beraninya pria itu menguping pembicaraan mereka sampai-sampai menertawakan istrinya? Apakah dia pikir istrinya adalah lelucon yang harus ditertawakan?!


"Baik Tuan." Jawab Jun lalu pria itu tidak berani lagi berkata apa pun sepanjang jalan hingga mereka tiba di kediaman keluarga Azura.


Setelah disana tiba di sana, Patricia membawa dokumen yang dia terima sembari mendorong kursi roda Lewi memasuki rumah.


"Kakak," Rolland muncul bersama asistennya, terlihat hendak keluar.


"Selamat malam." Jawab Patricia tanpa menghentikan dorongannya pada kursi roda suaminya.

__ADS_1


Begitu Patricia dan Lewi memasuki lift, sang asisten yang mengenali sampul surat yang dibawa oleh Patricia langsung menghentikan langkahnya menatap Lift.


"Ada apa?" Tanya Rolland.


"Berkas yang dibawa oleh Nona Patricia adalah berkas yang berisi infomasi kehamilan Nona Patricia." Kata sang asisten.


"Apa?!" Lewi menjadi panik, kalau sampai Patricia yang pertama kali melihat berkas itu maka Patricia pasti akan langsung menebak bahwa dialah yang memberitahu Lewi tentang kehamilannya.


Namanya bisa tercemar di mata Patricia, sementara dia berharap bahwa Patricia berpikir Lewi mengetahui kehamilannya karena pria itu mencari tahunya sendiri.


"Kau duluan lah, aku akan memastikan membaca berkas itu." Kata Rolland segera menaiki tangga di lantai 2 dan berjalan cepat kearah kamar Lewi.


Patricia hendak menutup pintu kamar ketika dia tiba di sana dengan nafas tersengal.


"Adik Ipar? Ada apa?" Tanya Patricia yang keheranan.


Rolland memperhatikan berkas di tangan Patricia, sepertinya belum tersentuh jadi dia merasa lega.


"Kaka ipar, aku minta maaf tapi aku perlu berbicara secara pribadi dengan kakak ipar sebentar." Ucap Rolland.


Setidaknya dia harus membuat Patricia meninggalkan kamar itu dan membiarkan lebih membaca dokumennya tanpa adanya Patricia.


Patricia baru saja akan menjawab ketika seorang yang duduk di kursi roda tiba-tiba berkata "Kau mengajak istriku berduaan malam-malam begini untuk membicarakan apa? He?"


Rolland terpaku, ini memang bukan saat yang tepat. Tapi sudah terlambat untuk mundur.


"Ini tentang masalah pribadi." Jawab Rolland sembari melihat ke perut Patricia agar perempuan itu mengerti.


"Masalah pribadi apa?!" Tanya Lewi mulai marah.


"Maaf Adik ipar, aku tidak bisa." Kata Patricia segera menutup pintu kamar.


'Sial...!" Rolland hampir meninju tembok karena kegagalannya.


Seperti dugaannya, Patricia memang sangat takut membantah Lewi.


Ini pasti karena Patricia berusaha melindungi dirinya supaya tidak di sakiti oleh Lewi.


@Interaksi

__ADS_1



Ho'o... makanya kalo ada pria yg suka cewek kurus,, hmm,, ati-ati ajah,, mungkin dia anjing berkulit manusia wkwkw...


__ADS_2