Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
100. Kado Dihari Pernikahan


__ADS_3

"Kak, apa kamu masih anggap aku adik?"


Beberapa bulan setelah tinggal di Indonesia, Tiara tak sengaja bertemu dengan Shaka di sebuah restoran. Tiara yang kala itu sedang makan siang seorang diri tak sengaja melihat Shaka yang sedang melakukan meeting. Wanita yang masih single itu lalu memutuskan untuk menunggu Shaka selesai meeting dan berniat akan menghampirnya.


Bukan bermaksud apa-apa, ia hanya merindukan sosok Kakak yang melindungi dan menjaga dirinya layaknya saudara kandung. Tiara sendiri sebenarnya punya seorang Kakak laki-laki, namun pembawaan kakaknya yang cool dan serius membuat Tiara tidak bisa mengimbangi dunianya. Tiara lebih welcome dan merasa nyaman dengan pembawaan seseorang yang hangat.


"Pertanyaan macam apa itu, Ra? Memang kapan aku pernah mengatakan kalau aku sudah tidak anggap kamu adik? Kamu akan tetap jadi adikku. Hanya saja perhatianku dan kasih sayangku tidak akan seperti dulu. Sudah ada yang harus aku prioritaskan, dan kamu tahu siapa dia tanpa aku jelaskan, kan?"


"Iya, aku tahu."


Shaka membaca raut wajah Tiara yang sedikit berubah. Ia nampak sedikit muring di balik wajahnya yang nampak cantik.


"Ada masalah, Ra? Kamu bisa cerita ke aku kalau kamu mau."


"Sebenarnya, aku datang ke sini itu hanya untuk menemui seseorang. Aku dijodohkan sama Mama, Papa. Aku punya pacar yang aku sayangi, begitu juga sebaliknya. Tapi memang aku pacaran sama dia udah terlalu lama dan nggak kunjung ada kepastian. Makanya Mama, Papa ngenalin aku sama anak temannya. Aku udah kenal dia sekitar enam bulan. Dia bilang kalau siap lamar aku, sedangkan aku diminta untuk menunggu pacar aku. Aku bingung."


"Usia kamu itu seusia sama istriku. Diusia kamu yang sekarang ini, sudah bukan waktunya kamu pacaran apalagi menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kalau ada laki-laki yang bilang begitu ke kamu itu artinya dia cinta sama kamu, dia sayang sama kamu, dia yakin sama kamu. Kalau laki-laki sudah begitu, dia akan melakukan apa pun untuk membahagiakan kamu sebagai orang yang dia sayang. Percayalah Tiara, dalam sebuah rumah tangga jika cinta laki-laki lebih besar dari perempuan. Maka perempuan itu pasti akan merasakan kebahagiaan yang besar dan jika sudah begitu, rumah terasa seperti surga karena banyak kebahagiaan di dalamnya."


"Kakak sudah melakukan itu? Kenapa Kakak begitu yakin dengan kata-kata Kakak?"

__ADS_1


"Aku bisa bicara seperti ini berarti aku sudah merasakannya. Kamu nggak tahu betapa beratnya ujian aku di pernikahan ini. Tujuh tahun aku bareng sama istri ujian itu datang terus, satu masalah selesai, datang masalah lain. Begitu terus, tapi kamu tahu apa yang membuat kami bertahan? Karena banyak cinta aku untuk istriku. Aku buat dia sebahagia mungkin di tengah masalah yang kami alami. Semakin istri bahagia, suami juga akan jauh lebih bahagia."


"Jadi aku pilih laki-laki yang siap menikahi aku?"


"Tergantung kamunya. Kamu mau melanjutkan hidup yang bagaimana. Mau maju ya nikah, kalah kau stuck di tempat ya udah tunggu aja pacar kamu. Kamu bisa nunggu selama mungkin, tapi nggak ada yang menjamin kalau dia suatu saat nanti jemput kamu untuk duduk di pelaminan."


Tiara manggut-manggut, jika dipikir dengan logika benar juga apa yang dikatakan oleh pria ini.


"Oh, ya Kak. Aku dengar dari Tante Marissa kalau Kakak ada masalah soal kesuburan. Jangan salah paham dulu, Kak. Tante Marissa cerita ini juga karena beliau tahu aku dokter kandungan, makanya beliau minta saran. Jadi tadi tuh sebenarnya aku niatnya mau ke rumah, nitipin obat buat Kakak. Tapi ketemu Kakak di sini, ya udah aku kasih aja."


"Obat apa?"


"Harus dibarengi sama pola hidup yang sehat, ya Kak."


"Baiklah, akan aku coba. Terima kasih. Habis ini mau ke mana? Kamu akan menetap di sini?"


"Habis ini aku mau pulang. Nanti malam aku mau ketemu sama laki-laki aku ceritakan tadi. Awalnya aku terpaksa melakukan ini, tapi setelah mendengar nasihat dari Kakak sepertinya aku akan berusaha untuk memilih yang pasti. Nggak munafik ini sulit sih buat aku, tapi bener juga apa yang Kakak katakan tadi. Kalau usiaku sekarang ini, seharusnya aku sudah menimang seorang bayi atau justru aku sudah menyekolahkan mereka."


Tiara berhenti sejenak untuk menetralkan suasana hati yang mendadak buruk. Ia benci sebuah perpisahan dan trauma pada momen itu.

__ADS_1


"Kalau untuk menetap di sini atau enggak. Sudah dipastikan aku nggak akan menetap di sini, Kak. Aku selamanya nggak tinggal di sana, bahkan jika suatu hari nanti aku akan menikah dengan orang sini. Itulah sebabnya aku pulang ke sini mungkin sedikit lama."


"Apa pun keputusanmu, aku harap kamu bahagia."


Seperti sudah direncanakan oleh Tuhan. Pertemuan mereka hanya sesaat, namun dari pertemuan singkat itu Shaka seakan punya harapan baru untuk sesuatu yang besar dalam kehidupannya.


Sesuatu itu adalah hal yang sangat ia inginkan. Dan hal itu terjadi hari ini. Hari di mana ia dan Nimas merayakan ulang tahun pernikahan yang ke delapan tahun. Merayakannya hanya berdua dengan menghabiskan waktu dua hari mereka di suatu tempat yang indah dan fresh bagi mereka.


Sudah enam bulan dari semenjak pertemuan Shaka dengan Tiara. Dan sejak itu, Shaka ikhtiar dengan obat yang ia terima dari wanita yang sudah ia anggap seperti adiknya itu. Dan usahanya itu, tejawab hari ini.


"Mas, aku...." Nimas tak bisa berkata-kata apa lagi. Ia menangus bahagia di pelukan sangat suami dengan testpack di tangannya.


"Nggak apa-apa, Dek. Namanya juga berusaha, pasti ada gagalnya. Nggak apa-apa kalau kita belum berhasil kali ini. Suatu saat nanti akan terjawab doa kita. Usaha dan doa terus, kita jalani dan lewati ini bareng-bareng."


"Tapi doa kita sudah terjawab sekarang, Mas. Lihat ini! Aku hamil, aku hamil, Mas. Akhirnya kita punya anak. Kita akan punya bayi lagi." Ninas berucap seraya menunjukkan testpack yang berada di tangannya di hadapan wajah sang suami. Ia mengatakan itu seraya menangis dan tersenyum dalam satu waktu.


Dengan tangan bergetar, Shaka meraih benda kecil itu. Meneliti dan memperhatikannya dalam waktu durasi yang lama. Bali, adalah tempat yang menjadi saksi nyata bagi mereka saat benda kecil ini membawa perubahan dan kenyataan yang begitu menggembirakan.


Shaka kembali memeluk istrinya dengan pundak bergetar. Mereka pun akhirnya menangis bersama di bawah atap hotel mewah yang mereka tinggali dua hari ini.

__ADS_1


"Ini adalah kado terindah dari Tuhan di usia pernikahan kita yang ke delapan. Sungguh aku tidak akan pernah melupakannya. Aku akan menjadi Ayah dari dua orang anak. Sungguh aku tidak akan pernah melupakan hari ini." Shaka memeluk istrinya semakin erat.


__ADS_2